Senin, 18 Januari 2021

RAHASIA

Hari ini, usianya sudah mencapai 15 Minggu jika tak salah aku menghitungnya. Aku masih ingat. Siapa bilang aku lupa. Kata orang, ia akan bergerak-gerak jika ia mendengarkan suraku. Iya, aku ibunya. Dia harus tahu, dia memiliki ibu yang hebat.
Hanya saja, aku tak ingin dia tahu, siapa Bapaknya. Cukuplah aku saja yang tahu. Bapaknya tak peduli padaku. Ah, laki-laki memang begitu. Seperti laki-laki di tempat ini.  Kadang ia datang dengan pakaian yang bagus bersama beberapa orang temannya. Menatap aku. Menyentuh wajahku. Membawakan makanan yang kemudian akan diambilnya kembali jika kawan-kawannya telah pergi.
“Selamat pagi, Susi. Kamu baik hari ini? Kita kedatangan tamu. Bapak dan ibu Setyawan. Mereka mau bertemu denganmu!”
Aku diam bergeming. Mereka duduk di hadapanku. Istrinya meneteskan air mata. Aku melihatnya cepat-cepat mengambil tisu dari balik tasnya yang sangat bagus.  
“Susi, perkenalkan. Saya Pak Setyawan. Ini istri saya. Kami membaca kisah tentangmu di media sosial. Kami merasa perlu datang dan memberikan dukungan untukmu!" Suara Pak Setyawan rasanya merdu sekali. Aku berjuang mengingat, di mana suara ini pernah ku dengar. Hm… Di mana ya? Aku terus berpikir dan rasanya kepalaku mau pecah. 
“aaaargggggh!” Aku berhasil berteriak. Rasanya legah. Tetapi, Angelo yang berada tak jauh dari tempat Pak Setyawan berdiri segera bangkit, menarik Pak Setyawan dan istrinya agar menjauh dariku. Lalu dengan segera Zuster Maria dan Lusia segera memegang ke dua tanganku, menekannya terlalu kuat hingga aku harus meringis menahan sakitnya.  Aku heran. Mengapa mereka demikian kasarnya padaku, padahal aku merasa nyaman saat berteriak.
Sorot mata Angelo tajam menatapku. Apa salahku?
“Maaf, Pak, Ibu. Kondisi hormonalnya yang tidak stabil mempengaruhi kejiwaannya. Maafkan ketidaknyamanan ini. Kita bisa ke ruang tamu saja, untuk melanjutkan perbincangan kita." Angelo mengajak dua orang beraroma harum itu keluar dari ruangan di mana aku berada. Mereka menatapku sekilas. Aku melihat sang Istri membisikkan sesuatu di kuping suaminya yang mengangguk-angguk sambil menepuk pundak istrinya.
Aku merasa, suami istri itu sedang kesulitan. Mereka mencariku untuk membagi beban hidup mereka. Ya, seperti orang-orang harum yang selalu datang dan pergi, meninggalkan beban mereka untukku lalu melangkah ringan seolah semua telah selesai.
“Dasar perempuan gila. Kalau saja terjadi sesuatu pada Tuan dan Nyonya itu, saya pastikan, kau menyesal menjadi perempuan tak berguna. Teruslah diam. Jangan pernah bicara apapun. Itu saja tugasmu!” Angelo berkata sedikit berteriak
“Pasang muka menyedihkan dan buat mereka merogoh koceknya lebih dalam!” Kasar Angelo berkata sambil meramas wajahku. Aku kesakitan dan mulai menangis histeris. Tapi tak ada suara  yang keluar dari mulutku selain lenguhan serak di telinga mereka.
Dari balik jendela, aku melihat sepasang mata menatapku. Aku takut pada mata itu. Maka cepat-cepat aku berdiri dan menghempaskan tubuhku ke kasur padat tak layak itu. Ku habiskan malam yang panjang ini dengan menangis menyumpahi kebodohanku. Ketidakmampuanku. Segala hal buruk yang disebabkan oleh kelemahanku. Aku tahu, mata pengawas yang kejam itu terus menatapku. Selalu begitu. Terus begitu. Sampai aku terbangun dengan selimut tebal yang membungkus tubuhku keesokan harinya
Hari ini aku merasa perlu jalan-jalan. Tetapi Maria dan lusia datang lebih cepat. 
“Hari ini kamu akan diperiksa. Kamu harus mandi dan berganti pakaian,” suara Zr. Maria memerintahku seperti biasanya. Dingin dan tak banyak kata.
“Aku sudah mandi!” kataku
“Ayo.. Mandi sana!”  Lusia memaksaku
“Aku sudah mandi!” Kataku menolak. 
“Mandi sana, cepat!” Lusia mulai tak sabaran
“Kenapa dia tak mendengarkan aku?” Aku ingin berteriak.
“Aaaarrrrghhh”
Tiba-tiba cengraman tangan yang besar membekapku. Menarikku ke kamar mandi dan mulai menyiram tubuhku. 
“Begini saja kalian berdua tak becus. Jika ia tak mau, paksa dengan segala cara. Paham?!  Dasar perempuan tua tak berguna," suara Angelo kasar dan kejam sambil menatap Maria dan Lusi yang tertunduk lalu ia berlalu ke luar.
“Kau terlalu lemah, Maria. Kau selalu tak bisa bersikap kasar padanya. Apa yang kau sukai dari perempuan muda mantan pelacur ini? Kita bisa celaka!” Lusia menghardik Maria yang sedang menutupi tubuhku dengan handuk basah. Tentu saja handuknya masih basah, karena baru ku pakai mandi pagi tadi. Ah, sudahlah. Mereka selalu tidak mendengarkanku.
Aku tak ingin bicara sekarang. Percuma. Tak ada yang mendengarkanku.
Ku biarkan diriku dituntun oleh Maria dan Lusia ke klinik. Aku berhadapan dengan seorang perempuan berumur seperti ibuku. Tetapi wajahnya mulus, tidak seperti ibuku. Tangannyapun halus saat dia mulai memeriksaku.
“Susi, sekarang susi akan menjadi seorang ibu. Ada bayi di dalam tubuhmu!” Perempuan itu berkata perlahan seolah aku anak bodoh yang tak tahu apa-apa.
“Susi harus makan yang teratur. Minum obat yang ibu beri ya. Susi harus sehat, agar anak dalam rahimmu sehat juga.”
Aku terus menatapnya. Tahu apa dia tentang anakku? Aku bahkan sudah tahu sebelum dia sampaikan padaku. Sudah 4 bulan aku tak datang bulan. Aku bukan orang bodoh yang tak paham hal serupa itu.
Sekali lagi aku memilih diam saja.
“Susi harus rajin minum susu juga, ya. Pokoknya harus senang, Ok?” katanya menatapku dengan mata berkaca-kaca
Aku hanya mengangguk saja. Biar cepat pergi dari situ.
“Kasihan dia. Apa sudah dilaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib?” suara ibu itu memecah keheningan saat ia mulai menuliskan beberapa hal dalam sebuah buku catatan.
“Sepertinya sudah, Bu Dokter. Kami tak begitu mengetahui perkembangan kasusnya. Sejak Ia tiba malam itu di sini, Pak Angelo yang mengurus semuanya!" suara Lusia terdengar sedikit berbisik

Aku diam dan terus menatap wajah dokter itu. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku ingat ibuku. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin mencari ibuku. Aku ingat sungguh.  Kedatanganku ke kota ini adalah untuk menemukannya. Aku malah bertemu Moomy yang menawarkan kebaikannya. Tetapi, semua berubah menjadi bencana sejak aku memutuskan menerima bantuan yang ditawarkan Moomy. Aku ingat malam itu, aku dibawa ke sebuah tempat. Bertemu seorang Pria kaya yang kemudian meniduriku. Kata Moomy, aku hanya perlu menyenangkan hati Bos. Aku tak perlu melakukan apa-apa. Tetapi yang terjadi lebih dari itu. Sekuat tenaga aku berusaha menolak. Tetapi setiap kali melakukannya aku selalu dengan kejam dipukuli Moomy. Aku lalu memilih menutup mata pada pria itu daripada mencium bau rokok pekat dari Silet, pria bertubuh kekar, suami muda Moomy.
Kalau mengingat hal itu, rasanya aku ingin mati saja. Tapi aku sayang ankku. Aku ingin dia selalu bersamaku. Aku ingin dia tahu, aku mencintainya. Aku takkan pernah meninggalkannya sama seperti yang ibu lakukan padaku.
Aku berjanji akan menjaganya selalu sekuat tenagaku. Termasuk saat malam ini, ketika aku merasa ada yang menarik selimutku. Aku memutuskan untuk tetap diam dengan air mata yang terus menetes. Aku tak ingin ia menyakiti anakku. Maka kubiarkan saja ia melakukan semua yang ia mau dari tubuhku. Aku tinggalkan semua rasa sakit oleh penolakan raga dan jiwaku.  Aku bahkan tak sadar ketika ia pergi meninggalkan peluh di tubuhku. Dan saat aku mulai merasakan nyeri yang luar biasa, sepasang mata itu muncul kembali di balik jendela. Aku meringkuk dan menjadi sangat ketakutan saat kurasakan seluruh tubuhku dibasuh dengan handuk yang hangat. Membelai ku lembut dengan kasih sayang yang selalu ku rindukan. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi aku takut padanya. Sangat takut.  Aku jatuh tertidur dalam ketakutanku.

Aku terbangun ketika Zr Maria membangunkanku. Aku melihat wajahnya lebam seperti habis dipukuli. Aku ingin mengasihaninya. Tapi sikapnya sangat tidak bersahabat dan selalu menjaga jarak dariku seolah-olah aku virus yang akan membawa kesialan dalam hidupnya.
Aku berjuang agar bayiku tetap aman dan nyaman. Perutku makin membesar. Anak ini bahkan suka menyanyi banyak lagu. Anehnya, hanya dia yang bisa mendengarkanku.
Dia selalu mengikuti apa yang kupesankan padanya. Kami menyembunyikan makanan kami, obat-obatan yang dibagikan. Aku tahu, mereka sengaja melemahkanku agar bisa mengambil anakku daripadaku. Maka kami mulai berhenti makan dan minum semua yang diberikan kepada kami. 
Kami berdua adalah partner yang cocok. Dia selalu menuruti aku ibunya. Bahkan saat ku minta dia untuk tak bergerak dia melakukannya berjam-jam lamanya, sampai aku dibawa ke rumah sakit.
Hari itu hari yang sibuk. Aku tetap menyuruhnya untuk diam. Kami berdua tertawa lepas, karena berhasil membuat semua orang kebingungan. 
“Denyut jantung janinnya melemah. Harus segera dioperasi”
Aku mulai pusing. Gelap tak dapat melihat siapapun. Saat aku terbangun, anakku tersenyum di sampingku. Kami bernyanyi dan pergi meninggalkan ruangan itu. Aku melihat Zr Maria berlari ke dalam ruangan. Tetapi aku sudah sangat bahagia. Ada anakku bersamaku. Dia yang selalu memahami apa yang aku inginkan.
Aku bertemu dengan Pak Setiawan dan Istrinya juga Angelo. Aku mendengar mereka bertengkar hebat.
“Kembalikan semua yang sudah kami berikan. Katamu semua akan aman. Anak itu bisa kami ambil ketika selesai dioperasi. Ternyata kamu malah tidak bisa menjaganya. Cepat kembalikan uang kami!” Pak Setyawan marah dan suara itu. Ya! Suara yang sangat ku kenal. Dialah Bos yang menjadi mimpi burukku. Malam itu, Pak Setyawan sempat bertengkar hebat dengan Moomy karena sesuatu yang aku tak tahu. Sesuatu yang sangat sulit untuk ku ingat. Karena saat aku tersadar, aku sudah berada di rumah penampungan itu.
Aku tiba-tiba merasa perlu kembali dan saat itu aku melihat Zr Maria dengan lebih jelas. Dia menangis meraung-raung. Dan  Mata itu. Mata yang kutakuti. Mata itu adalah matanya. Yang selalu mengawasiku sekaligus dengan penuh kasih sayang menjagaku. Dialah yang memberikan selimut yang aku butuhkan saat aku kedinginan. Yang membersihkan tubuhku setelah Angelo meniduriku seenaknya.
Untuk pertama kalinya aku memeluknya dan untuk pertama kali pula aku mendengar suaranya yang lembut : “Maafkan mama, anakku”

Sumber gambar: https://ruthisahanaya.web.app/gambar-ibu-hamil-hitam-putih-kartun.html

2 komentar:

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...