Rabu, 20 Januari 2021

Salam Maria



Salam Maria dariku ibu yang seperti Engkau

Tuhan sertamu dan ku yakin sertaku juga yang terus berharap mukjizat

Terpujilah Engkau di antara wanita- wanita sepertiku yang dipenuhi cerita suka dan duka

Terpujilah buah tubuhmu dan  buah rinduku

Santa Maria
dikau Bunda Allah
Adalah aku bunda dari buah rahim yang ku kandung dalam kasih

Doakanlah semua yang berdosa 
Seperti aku dan kecemasan-kecemasanku

Pada masa kini hingga kami mati 

Agar kita bisa berjumpa muka dengan muka
Amin
23 Sep

Selasa, 19 Januari 2021

Anggur dan Rindu




Seorang wanita menuang anggur
Pada segelas piala bening di hadapannya
Lama ia menatap terpekur
Gamang dan sepi
Sedang hatinya dibanjiri kerinduan 
"Apakah anggur ini dapat menghapus  rindu?"
Ia bertanya pada pria muda di sampingnya
"Ya! Anggur ini menghapus rasa rindumu saat ini 
namun tak mampu menyembuhkan luka oleh rindu"


Sumber gambar : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.gambar.pro%2F2012%2F07%2F87-gambar-bir-anggur-merah-paling-hist.html&psig=AOvVaw2Eo04G1-6LMDYsyuCzi2gP&ust=1611204967453000&source=images&cd=vfe&ved=0CAIQjRxqFwoTCIDlg6azq-4CFQAAAAAdAAAAABAJ

Senin, 18 Januari 2021

Surat dari Tuhan

Dear Ani putriku
Apakah kau masih marah padaku? 
Aku tahu semua butuh waktu. 
Namun jangan biarkan aku mengetuk terlalu lama pintu hatimu.  

Putriku
Tadi, Javiero kecilmu merengek padaku
Dia memintaku mengirimkanmu sepucuk surat
Surat yang harum dan penuh cinta
Untuk memelukmu yang meringkuk sepi merindukannya.  
Dia tahu betapa dekatnya dia kini denganKU
Sehingga apapun yang dia butuh,  dia tahu akan semakin mudah mendapatkannya.  

Javiero anak yang manis
Seperti dugaanKu
Dia tumbuh menjadi anak yang bahagia karena kasihmu sejak ku titipkan ia dalam rahimmu.  

Doa-doamu tiba bersamanya yang berlari riang menjumpaiku
Dia selalu tersenyum bahagia kala itu
Dia mengatakan padaku,  engkau ibu yang hebat. 
Ya tentu saja aku tahu
Bukankah sejak dalam rahim ibumu aku telah mengenalmu? 

Ani putriku
Ada banyak hal yang tidak dapat langsung kau pahami
Karena keterbatasan dan ketidaktahuanmu adalah caraku menjagamu
Melindungimu
Dan membuatmu tenang 

Beberapa saat lalu Javiero membagikanku sebuah rahasia
Rahasia yang sangat besar katanya. 
Apa yang tak ku ketahui di semesta ini,  kataku dalam hati. 
Namun aku tetap mendengarkannya
Sambil duduk di pangkuanKu dia membisikanku ini:
"Bapa,  terima kasih sudah memberi kesempatanku menjadi anak dari mama yang hebat. 1 tahun 10 bulan memang saat yang singkat.  Namun aku melewati semuanya dengan sangat bahagia dalam kasih yang penuh dari mama.  Terima kasih karena boleh menjadi anak dari mama Fiany ku yang luar biasa. Dia berjuang hingga pasrah padaMu.  Aku sungguh sayang padanya."
Lalu ia turun dari pangkuanku dan berlari riang bersama teman-temannya.  
Merekalah cahaya di surgaku.  

Putriku... 
Aku mencintaimu.  Teruslah berjuang menjadi mama yang hebat. Perempuan yang luar biasa.  

Salamku
Bapa di Surga

PS: Kado baruku semoga sudah tiba padamu. 

Dengan penuh kasih,  untuk mama Javiero.  Percayalah,  selalu ada pelangi di balik hujan.  
Rest in Love,  Javiero kesayangan kami.  Doakan Bapa dan Mamamu.  Semua orang yang mencintaimu.  

RAHASIA

Hari ini, usianya sudah mencapai 15 Minggu jika tak salah aku menghitungnya. Aku masih ingat. Siapa bilang aku lupa. Kata orang, ia akan bergerak-gerak jika ia mendengarkan suraku. Iya, aku ibunya. Dia harus tahu, dia memiliki ibu yang hebat.
Hanya saja, aku tak ingin dia tahu, siapa Bapaknya. Cukuplah aku saja yang tahu. Bapaknya tak peduli padaku. Ah, laki-laki memang begitu. Seperti laki-laki di tempat ini.  Kadang ia datang dengan pakaian yang bagus bersama beberapa orang temannya. Menatap aku. Menyentuh wajahku. Membawakan makanan yang kemudian akan diambilnya kembali jika kawan-kawannya telah pergi.
“Selamat pagi, Susi. Kamu baik hari ini? Kita kedatangan tamu. Bapak dan ibu Setyawan. Mereka mau bertemu denganmu!”
Aku diam bergeming. Mereka duduk di hadapanku. Istrinya meneteskan air mata. Aku melihatnya cepat-cepat mengambil tisu dari balik tasnya yang sangat bagus.  
“Susi, perkenalkan. Saya Pak Setyawan. Ini istri saya. Kami membaca kisah tentangmu di media sosial. Kami merasa perlu datang dan memberikan dukungan untukmu!" Suara Pak Setyawan rasanya merdu sekali. Aku berjuang mengingat, di mana suara ini pernah ku dengar. Hm… Di mana ya? Aku terus berpikir dan rasanya kepalaku mau pecah. 
“aaaargggggh!” Aku berhasil berteriak. Rasanya legah. Tetapi, Angelo yang berada tak jauh dari tempat Pak Setyawan berdiri segera bangkit, menarik Pak Setyawan dan istrinya agar menjauh dariku. Lalu dengan segera Zuster Maria dan Lusia segera memegang ke dua tanganku, menekannya terlalu kuat hingga aku harus meringis menahan sakitnya.  Aku heran. Mengapa mereka demikian kasarnya padaku, padahal aku merasa nyaman saat berteriak.
Sorot mata Angelo tajam menatapku. Apa salahku?
“Maaf, Pak, Ibu. Kondisi hormonalnya yang tidak stabil mempengaruhi kejiwaannya. Maafkan ketidaknyamanan ini. Kita bisa ke ruang tamu saja, untuk melanjutkan perbincangan kita." Angelo mengajak dua orang beraroma harum itu keluar dari ruangan di mana aku berada. Mereka menatapku sekilas. Aku melihat sang Istri membisikkan sesuatu di kuping suaminya yang mengangguk-angguk sambil menepuk pundak istrinya.
Aku merasa, suami istri itu sedang kesulitan. Mereka mencariku untuk membagi beban hidup mereka. Ya, seperti orang-orang harum yang selalu datang dan pergi, meninggalkan beban mereka untukku lalu melangkah ringan seolah semua telah selesai.
“Dasar perempuan gila. Kalau saja terjadi sesuatu pada Tuan dan Nyonya itu, saya pastikan, kau menyesal menjadi perempuan tak berguna. Teruslah diam. Jangan pernah bicara apapun. Itu saja tugasmu!” Angelo berkata sedikit berteriak
“Pasang muka menyedihkan dan buat mereka merogoh koceknya lebih dalam!” Kasar Angelo berkata sambil meramas wajahku. Aku kesakitan dan mulai menangis histeris. Tapi tak ada suara  yang keluar dari mulutku selain lenguhan serak di telinga mereka.
Dari balik jendela, aku melihat sepasang mata menatapku. Aku takut pada mata itu. Maka cepat-cepat aku berdiri dan menghempaskan tubuhku ke kasur padat tak layak itu. Ku habiskan malam yang panjang ini dengan menangis menyumpahi kebodohanku. Ketidakmampuanku. Segala hal buruk yang disebabkan oleh kelemahanku. Aku tahu, mata pengawas yang kejam itu terus menatapku. Selalu begitu. Terus begitu. Sampai aku terbangun dengan selimut tebal yang membungkus tubuhku keesokan harinya
Hari ini aku merasa perlu jalan-jalan. Tetapi Maria dan lusia datang lebih cepat. 
“Hari ini kamu akan diperiksa. Kamu harus mandi dan berganti pakaian,” suara Zr. Maria memerintahku seperti biasanya. Dingin dan tak banyak kata.
“Aku sudah mandi!” kataku
“Ayo.. Mandi sana!”  Lusia memaksaku
“Aku sudah mandi!” Kataku menolak. 
“Mandi sana, cepat!” Lusia mulai tak sabaran
“Kenapa dia tak mendengarkan aku?” Aku ingin berteriak.
“Aaaarrrrghhh”
Tiba-tiba cengraman tangan yang besar membekapku. Menarikku ke kamar mandi dan mulai menyiram tubuhku. 
“Begini saja kalian berdua tak becus. Jika ia tak mau, paksa dengan segala cara. Paham?!  Dasar perempuan tua tak berguna," suara Angelo kasar dan kejam sambil menatap Maria dan Lusi yang tertunduk lalu ia berlalu ke luar.
“Kau terlalu lemah, Maria. Kau selalu tak bisa bersikap kasar padanya. Apa yang kau sukai dari perempuan muda mantan pelacur ini? Kita bisa celaka!” Lusia menghardik Maria yang sedang menutupi tubuhku dengan handuk basah. Tentu saja handuknya masih basah, karena baru ku pakai mandi pagi tadi. Ah, sudahlah. Mereka selalu tidak mendengarkanku.
Aku tak ingin bicara sekarang. Percuma. Tak ada yang mendengarkanku.
Ku biarkan diriku dituntun oleh Maria dan Lusia ke klinik. Aku berhadapan dengan seorang perempuan berumur seperti ibuku. Tetapi wajahnya mulus, tidak seperti ibuku. Tangannyapun halus saat dia mulai memeriksaku.
“Susi, sekarang susi akan menjadi seorang ibu. Ada bayi di dalam tubuhmu!” Perempuan itu berkata perlahan seolah aku anak bodoh yang tak tahu apa-apa.
“Susi harus makan yang teratur. Minum obat yang ibu beri ya. Susi harus sehat, agar anak dalam rahimmu sehat juga.”
Aku terus menatapnya. Tahu apa dia tentang anakku? Aku bahkan sudah tahu sebelum dia sampaikan padaku. Sudah 4 bulan aku tak datang bulan. Aku bukan orang bodoh yang tak paham hal serupa itu.
Sekali lagi aku memilih diam saja.
“Susi harus rajin minum susu juga, ya. Pokoknya harus senang, Ok?” katanya menatapku dengan mata berkaca-kaca
Aku hanya mengangguk saja. Biar cepat pergi dari situ.
“Kasihan dia. Apa sudah dilaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib?” suara ibu itu memecah keheningan saat ia mulai menuliskan beberapa hal dalam sebuah buku catatan.
“Sepertinya sudah, Bu Dokter. Kami tak begitu mengetahui perkembangan kasusnya. Sejak Ia tiba malam itu di sini, Pak Angelo yang mengurus semuanya!" suara Lusia terdengar sedikit berbisik

Aku diam dan terus menatap wajah dokter itu. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku ingat ibuku. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin mencari ibuku. Aku ingat sungguh.  Kedatanganku ke kota ini adalah untuk menemukannya. Aku malah bertemu Moomy yang menawarkan kebaikannya. Tetapi, semua berubah menjadi bencana sejak aku memutuskan menerima bantuan yang ditawarkan Moomy. Aku ingat malam itu, aku dibawa ke sebuah tempat. Bertemu seorang Pria kaya yang kemudian meniduriku. Kata Moomy, aku hanya perlu menyenangkan hati Bos. Aku tak perlu melakukan apa-apa. Tetapi yang terjadi lebih dari itu. Sekuat tenaga aku berusaha menolak. Tetapi setiap kali melakukannya aku selalu dengan kejam dipukuli Moomy. Aku lalu memilih menutup mata pada pria itu daripada mencium bau rokok pekat dari Silet, pria bertubuh kekar, suami muda Moomy.
Kalau mengingat hal itu, rasanya aku ingin mati saja. Tapi aku sayang ankku. Aku ingin dia selalu bersamaku. Aku ingin dia tahu, aku mencintainya. Aku takkan pernah meninggalkannya sama seperti yang ibu lakukan padaku.
Aku berjanji akan menjaganya selalu sekuat tenagaku. Termasuk saat malam ini, ketika aku merasa ada yang menarik selimutku. Aku memutuskan untuk tetap diam dengan air mata yang terus menetes. Aku tak ingin ia menyakiti anakku. Maka kubiarkan saja ia melakukan semua yang ia mau dari tubuhku. Aku tinggalkan semua rasa sakit oleh penolakan raga dan jiwaku.  Aku bahkan tak sadar ketika ia pergi meninggalkan peluh di tubuhku. Dan saat aku mulai merasakan nyeri yang luar biasa, sepasang mata itu muncul kembali di balik jendela. Aku meringkuk dan menjadi sangat ketakutan saat kurasakan seluruh tubuhku dibasuh dengan handuk yang hangat. Membelai ku lembut dengan kasih sayang yang selalu ku rindukan. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tetapi aku takut padanya. Sangat takut.  Aku jatuh tertidur dalam ketakutanku.

Aku terbangun ketika Zr Maria membangunkanku. Aku melihat wajahnya lebam seperti habis dipukuli. Aku ingin mengasihaninya. Tapi sikapnya sangat tidak bersahabat dan selalu menjaga jarak dariku seolah-olah aku virus yang akan membawa kesialan dalam hidupnya.
Aku berjuang agar bayiku tetap aman dan nyaman. Perutku makin membesar. Anak ini bahkan suka menyanyi banyak lagu. Anehnya, hanya dia yang bisa mendengarkanku.
Dia selalu mengikuti apa yang kupesankan padanya. Kami menyembunyikan makanan kami, obat-obatan yang dibagikan. Aku tahu, mereka sengaja melemahkanku agar bisa mengambil anakku daripadaku. Maka kami mulai berhenti makan dan minum semua yang diberikan kepada kami. 
Kami berdua adalah partner yang cocok. Dia selalu menuruti aku ibunya. Bahkan saat ku minta dia untuk tak bergerak dia melakukannya berjam-jam lamanya, sampai aku dibawa ke rumah sakit.
Hari itu hari yang sibuk. Aku tetap menyuruhnya untuk diam. Kami berdua tertawa lepas, karena berhasil membuat semua orang kebingungan. 
“Denyut jantung janinnya melemah. Harus segera dioperasi”
Aku mulai pusing. Gelap tak dapat melihat siapapun. Saat aku terbangun, anakku tersenyum di sampingku. Kami bernyanyi dan pergi meninggalkan ruangan itu. Aku melihat Zr Maria berlari ke dalam ruangan. Tetapi aku sudah sangat bahagia. Ada anakku bersamaku. Dia yang selalu memahami apa yang aku inginkan.
Aku bertemu dengan Pak Setiawan dan Istrinya juga Angelo. Aku mendengar mereka bertengkar hebat.
“Kembalikan semua yang sudah kami berikan. Katamu semua akan aman. Anak itu bisa kami ambil ketika selesai dioperasi. Ternyata kamu malah tidak bisa menjaganya. Cepat kembalikan uang kami!” Pak Setyawan marah dan suara itu. Ya! Suara yang sangat ku kenal. Dialah Bos yang menjadi mimpi burukku. Malam itu, Pak Setyawan sempat bertengkar hebat dengan Moomy karena sesuatu yang aku tak tahu. Sesuatu yang sangat sulit untuk ku ingat. Karena saat aku tersadar, aku sudah berada di rumah penampungan itu.
Aku tiba-tiba merasa perlu kembali dan saat itu aku melihat Zr Maria dengan lebih jelas. Dia menangis meraung-raung. Dan  Mata itu. Mata yang kutakuti. Mata itu adalah matanya. Yang selalu mengawasiku sekaligus dengan penuh kasih sayang menjagaku. Dialah yang memberikan selimut yang aku butuhkan saat aku kedinginan. Yang membersihkan tubuhku setelah Angelo meniduriku seenaknya.
Untuk pertama kalinya aku memeluknya dan untuk pertama kali pula aku mendengar suaranya yang lembut : “Maafkan mama, anakku”

Sumber gambar: https://ruthisahanaya.web.app/gambar-ibu-hamil-hitam-putih-kartun.html

MENUNGGU

 

“Halo!”

“Halo!”

“Eki ini Mama. Kenapa tadi menelpon berulang kali?”

Huuuuu..huuuu… Terdengar suara tangisan di seberang.

“Eki! Kamu kenapa, nak?”

“Mama… huuuuu…. Mama…”

“Eki kamu kenapa? Adikmu mana?”

Eki masih terus menangis. Ibunya semakin cemas.

“Eki sayang. Maafkan, mama. Maafkan mama, sayang. Kamu bisa bilang ke mama, ada apa?”

“Mama… Eki rindu. Adek juga. Tadi adek menangis. Adik mau tahu kapan mama pulang? Eki tidak menangis. Eki bilang sama adek kalau mama akan pulang. Lalu adek tertidur. Tetapi Eki tak bisa menahan rindu..huuuuu” Eki sesenggukan.

“Eki, maafkan Mama ya. Mama juga rindu. Tetapi kita belum bisa bertemu sayang. Eki bisa bantu mama?”

Eki mengangguk walau mamanya tak mampu melihat itu.

“Eki jaga adek ya. Tidak lama lagi kalau sudah selesai, mama pasti pulang. Eki masih bisa bertahan kan? Bantu mama sayang ya!”

Sekali lagi Eki mengangguk.

“Eki?”

“Iya mama.”

“Terima kasih, nak. Mama sayang Eki dan Aluna. Kita akan selalu bersama!”

Eki terdiam lama.

“Mama…”

“Iya!"

"Mama bisa berjanji sama Eki?”

“Apa itu?”

“Jangan tinggalkan Eki dan Luna seperti Papa”

Mitha, wanita yang Eki panggil sebagai mama itu terdiam. Air matanya berguguran. Dijauhkan ponsel dari telinganya. Berkali-kali dia menarik nafas. Lalu dengan tenang dia berkata: “Tentu saja Eki. Kita akan bersama selamanya”

Eki menghapus air matanya. Dia merasa jauh lebih tenang.

“Mama, Eki mengantuk.”

“Tidurlah sayang. Jangan lupa berdoa”

“Eki sayang mama”

“Mama sayang Eki”

Telepon ditutup. Eki melangkah ke kamarnya. Dilihatnya Aluna sudah tertidur pulas sambil memeluk sweater mamanya. Ada aroma mama di sana. Yang bisa menghapus rindu Aluna sesaat. Masih ada bekas air mata di wajah Aluna. Setelah menyeka wajah adenya dengan tisu, Eki menuju tempat tidurnya. Dia berlutut, berdoa lalu tidur.


Di seberang, Mitha terduduk menangis sesenggukan. Dia sangat merindukan Eki dan Aluna. Kekuatan terbesarnya setelah Hakim suaminya meninggal dunia. Perasaan bersalah membuncah hati keibuannya. Namun tanggung jawab ini adalah panggilan yang telah dipilihnya. Pandemi belum berlalu. Bahkan baru saja dimulai di kotanya. Rumah sakit mulai kebanjiran pasien. Beberapa tenaga kerja kesehatan pagi ini dilarang untuk kembali ke rumah termasuk dirinya karena beberapa telah terpapar virus kejam itu. Mereka wajib di karantina. Mitha baru saja melaksanakan dinas malam hari ke-2. Itu artinya, semalaman dia sudah tak pulang dan terpaksa malam  ini, Eki dan Luna tak bisa ia temani lagi. Untunglah dia bisa meminta bu Yum untuk menemani anak-anaknya.

 **

Pagi ini Bu Yum menyiapkan sarapan Eki dan Luna lalu meminta ijin untuk ke rumahnya.

“Eki, Ibu ke rumah dulu. Nanti sore ibu datang lagi ya. Ibu sudah siapkan makanan untukmu dan Aluna. Oh ya, ibu mau ingatkan pesan Mama Eki ya kalau Eki dan Aluna tidak boleh keluar dan tidak boleh menerima tamu. Eki bisa membantu Bu Yum menjaga Aluna sementara Bu Yum pulang kan?”

“Iya Ibu.” Eki menjawab dengan mantap.

“Nanti bangunkan Aluna, ya. Lalu kalian sarapan bersama!”

“Siap bu. Makasih. Hati-hati ya. Jangan lupa masker, ibu”

“Makasih Eki. Ibu berangkat dulu.”

Baru saja Bu Yum meninggalkan rumah, terdengar tangisan dari dalam kamar. Aluna telah terbangun. Cepat-cepat Eki berlari ke kamar.

“Luna, cup…cup..cup… Ini ada kaka Eki. Luna jangan menangis ya”

“Huuuuu Luna mau mama. Mama mana? Huuuuu”

“Luna, mama masih bertugas. Sebentar lagi mama pulang. Kita kan sudah terbiasa ditinggal mama bertugas.”

“Kapan mama pulang, kak Eki?”

“Sebentar lagi Aluna. Jangan menangis lagi ya!”

Aluna mengangguk. Eki berdiri mengambil segelas air hangat. Diberikannya pada Aluna.

“Kata mama, kita harus minum segelas air hangat di pagi hari”

Segera Aluna menghabiskan segelas air hangat pemberian Eki. Eki mengajaknya ke kamar mandi, mencucui muka lalu mereka menuju ke ruang makan.

“Bu Yum mana?’

“Lagi pulang. Nanti juga datang. Hari ini bu Yum buatkan nasi goreng untuk sarapan kita. Lihat nih, ada udang kesukaanmu!” kata Eki sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Aluna.

“Waaaah,” Aluna sampai memoncongkan bibirnya dan bertepuk tangan senang.

Dia mulai makan dengan lahap setelah mereka selesai berdoa.

“Kak…” suara Aluna tak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.

“Habiskan dulu makanmu, Aluna. Baru kamu bicara!”

“Kak Eki, Mama tidak akan meninggalkan kita seperti Papa kan?” Kata-kata Aluna seperti bom di telinga Eki.

“Hus! Jangan omong sembarangan kamu!”

“Aku takut kak!”

“Jangan takut. Mama pasti akan pulang!”

“Sungguh?”

“Ya! Mama pasti pulang! Percayalah. Mama sudah berjanji. Aluna tahu, mama kita adalah perempuan yang kuat. Mama tak pernah ingkar janji kan selama ini?”

Aluna mengangguk. Hatinya tenang. Mama pasti pulang.

**



“Eki? Ini mama. Ayo bangun!”

Eki terbangun. Keringat bercucuran. Bukan karena kipas anginnya tak menyala akibat listrik mati saat hujan tadi tetapi dia bermimpi dan dia telah lupa mimpi apa itu. Dia tak bisa melihat apapun. Tapi tadi suara mama. Suara yang berhasil membangunkannya dari mimpi buruk.

“Ma?”

“Iya sayang. Mama sudah pulang. Kamu dan Aluna baik saja kan? Makasih kamu sudah menjaga Aluna!”

“Mama di mana?”

“Mama di ranjang Aluna sayang. Kamu mau ke sini? Ayo.”

Eki berjuang menaiki ranjang Aluna dalam gulita. Diletakkan kepalanya juga di pangkuan sang Bunda. Rasanya rindu sekali. Sudah 6 hari mama tidak pulang. Sudah 4 hari mama tidak mengirim kabar.

“Ma, mama capek ya?”

“Sedikit sayang. Tapi mama senang karena kamu dan Aluna baik saja!”

“Ma, Kenapa 4 hari ini tidak ada kabar?”

“Mama sangat sibuk sayang. Kami tak punya waktu memegang ponsel. Nanti kalau kamu mau hubungi, kamu bisa menghubungi tante Lala ya. Kamu masih simpankan nomor tante Lala?”

“Iya ma. Tante Lala yang di resepsionis kan?”

“Iya. Kamu memang pintar. Kaka terhebat buat Aluna. Selalu begitu ya, sampai kapanpun”

Eki mengangguk. Dia berjanji akan jadi kaka terhebat buat Aluna selamanya.

Mama Eki membelai rambut Eki. Aluna bergerak sambil mengerang memamnggil mamanya.

“Luna, mama sudah pulang. Jangan sedih lagi,” kata Eki pada Luna. Namun Luna masih terus lelap dalam buaian sang Bunda.

“Ma, Eki dan Luna sayang mama. Kami selalu mendoakan mama setiap malam”

“Mama juga sayang kamu berdua. Tugas mama mendoakan kamu juga sampai selamanya. Kita saling mendoakan ya. Dalam rindu-rindu kita.”

Eki jatuh tertidur hingga pagi menyapa.


Dia sedang memeluk Aluna ketika ia tersadar oleh gerakan tubuh Aluna yang terlebih dahulu bangun.  

“Kak Eki kenapa tidur di ranjang Aluna?”

“Hei, mama sudah tiba semalam. Mama yang mengeloni kita berdua.”

“Oh ya? Ayo ke kamar mama”

Maka melompatlah mereka berdua berlarian ke kamar sang Bunda. Namun kamar masih sepi.

“Apa mama sudah berdinas lagi ya?”

“Jam berapa ya sekarang, kak Eki?”

“Jam 06.15,”  kata Eki sambil menujukkan jam yang tergantung di dinding.

“Belum jam dinas mama,” sambung Eki

Aluna hanya mengangguk. Dia lanjut mencari mamanya ke sekeliling rumah. Sampai bu Yum tiba. Memeluk mereka berdua dengan pelukan yang paling dalam dan hangat.

 

Tok…Tok….Tok… Pintu diketuk

 

Bu Yum melepas dekapannya dan menuju pintu lalu membuka pintu. Ada tante Lala di depan pintu rumah mereka.

Tanta Lala berdiri tenang tak berbicara lalu perlahan melangkah masuk. Bu Yum menarik tangan kedua kakak beradik itu ke sebuah kursi di ruang tamu.

“Hai! Eki masih kenal tante?”

Eki mengangguk. “Tante Lala?” katanya menggumam.

Tante Lala mengangguk perlahan.

“Kalian berdua baik saja?”

“Baik Tante. Mama sudah pulang kata kak Eki.”, suara Aluna bahagia sekali

“Iya kan kaka?” Aluna meminta persetujuan Eki.

“Iya. Semalam mama datang. Mama bilang, aku harus bicara sama tante Lala kalau aku mau tahu tentang mama. Ponsel mama rusak, kata mama!”

Lala berdiri, menuju Eki dan Aluna, memeluk keduanya erat. Ditanganya ada sebuah ponsel yang berisi sebuah tugas besar yang harus ia selesaikan hari ini dengan kakak beradik yang tak lagi yatim melainkan yatim piatu itu.

 

Ende, 18/01/2021

Untukmu semua yang menjadi korban keganasan pandemic ini. Doaku untukmu.

Sumber gambar : https://cdn01.indozone.id/local/5e75e1d46b78d.jpg

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...