“Halo!”
“Halo!”
“Eki ini Mama. Kenapa tadi menelpon
berulang kali?”
Huuuuu..huuuu… Terdengar suara tangisan
di seberang.
“Eki! Kamu kenapa, nak?”
“Mama… huuuuu…. Mama…”
“Eki kamu kenapa? Adikmu mana?”
Eki masih terus menangis. Ibunya semakin
cemas.
“Eki sayang. Maafkan, mama. Maafkan
mama, sayang. Kamu bisa bilang ke mama, ada apa?”
“Mama… Eki rindu. Adek juga. Tadi adek
menangis. Adik mau tahu kapan mama pulang? Eki tidak menangis. Eki bilang sama
adek kalau mama akan pulang. Lalu adek tertidur. Tetapi Eki tak bisa menahan
rindu..huuuuu” Eki sesenggukan.
“Eki, maafkan Mama ya. Mama juga rindu.
Tetapi kita belum bisa bertemu sayang. Eki bisa bantu mama?”
Eki mengangguk walau mamanya tak mampu
melihat itu.
“Eki jaga adek ya. Tidak lama lagi kalau
sudah selesai, mama pasti pulang. Eki masih bisa bertahan kan? Bantu mama
sayang ya!”
Sekali lagi Eki mengangguk.
“Eki?”
“Iya mama.”
“Terima kasih, nak. Mama sayang Eki dan Aluna.
Kita akan selalu bersama!”
Eki terdiam lama.
“Mama…”
“Iya!"
"Mama bisa berjanji sama Eki?”
“Apa itu?”
“Jangan tinggalkan Eki dan Luna seperti
Papa”
Mitha, wanita yang Eki panggil sebagai mama itu terdiam. Air matanya berguguran. Dijauhkan ponsel dari telinganya.
Berkali-kali dia menarik nafas. Lalu dengan tenang dia berkata: “Tentu saja
Eki. Kita akan bersama selamanya”
Eki menghapus air matanya. Dia merasa
jauh lebih tenang.
“Mama, Eki mengantuk.”
“Tidurlah sayang. Jangan lupa berdoa”
“Eki sayang mama”
“Mama sayang Eki”
Telepon ditutup. Eki melangkah ke
kamarnya. Dilihatnya Aluna sudah tertidur pulas sambil memeluk sweater mamanya. Ada aroma mama di sana.
Yang bisa menghapus rindu Aluna sesaat. Masih ada bekas air mata di wajah Aluna.
Setelah menyeka wajah adenya dengan tisu, Eki menuju tempat tidurnya. Dia
berlutut, berdoa lalu tidur.
Di seberang, Mitha terduduk
menangis sesenggukan. Dia sangat merindukan Eki dan Aluna. Kekuatan terbesarnya
setelah Hakim suaminya meninggal dunia. Perasaan bersalah membuncah hati
keibuannya. Namun tanggung jawab ini adalah panggilan yang telah dipilihnya. Pandemi belum berlalu. Bahkan baru saja
dimulai di kotanya. Rumah sakit mulai kebanjiran pasien. Beberapa tenaga kerja
kesehatan pagi ini dilarang untuk kembali ke rumah termasuk dirinya karena
beberapa telah terpapar virus kejam itu. Mereka wajib di karantina. Mitha baru
saja melaksanakan dinas malam hari ke-2. Itu artinya, semalaman dia sudah tak pulang
dan terpaksa malam ini, Eki dan Luna tak
bisa ia temani lagi. Untunglah dia bisa meminta bu Yum untuk menemani
anak-anaknya.
**
Pagi ini Bu Yum menyiapkan sarapan Eki
dan Luna lalu meminta ijin untuk ke rumahnya.
“Eki, Ibu ke rumah dulu. Nanti sore ibu
datang lagi ya. Ibu sudah siapkan makanan untukmu dan Aluna. Oh ya, ibu mau
ingatkan pesan Mama Eki ya kalau Eki dan Aluna tidak boleh keluar dan tidak
boleh menerima tamu. Eki bisa membantu Bu Yum menjaga Aluna sementara Bu Yum
pulang kan?”
“Iya Ibu.” Eki menjawab dengan mantap.
“Nanti bangunkan Aluna, ya. Lalu kalian
sarapan bersama!”
“Siap bu. Makasih. Hati-hati ya. Jangan
lupa masker, ibu”
“Makasih Eki. Ibu berangkat dulu.”
Baru saja Bu Yum meninggalkan rumah,
terdengar tangisan dari dalam kamar. Aluna telah terbangun. Cepat-cepat Eki
berlari ke kamar.
“Luna, cup…cup..cup… Ini ada kaka Eki.
Luna jangan menangis ya”
“Huuuuu Luna mau mama. Mama mana?
Huuuuu”
“Luna, mama masih bertugas. Sebentar
lagi mama pulang. Kita kan sudah terbiasa ditinggal mama bertugas.”
“Kapan mama pulang, kak Eki?”
“Sebentar lagi Aluna. Jangan menangis
lagi ya!”
Aluna mengangguk. Eki berdiri mengambil
segelas air hangat. Diberikannya pada Aluna.
“Kata mama, kita harus minum segelas air
hangat di pagi hari”
Segera Aluna menghabiskan segelas air
hangat pemberian Eki. Eki mengajaknya ke kamar mandi, mencucui muka lalu mereka
menuju ke ruang makan.
“Bu Yum mana?’
“Lagi pulang. Nanti juga datang. Hari
ini bu Yum buatkan nasi goreng untuk sarapan kita. Lihat nih, ada udang
kesukaanmu!” kata Eki sambil menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Aluna.
“Waaaah,” Aluna sampai memoncongkan
bibirnya dan bertepuk tangan senang.
Dia mulai makan dengan lahap setelah
mereka selesai berdoa.
“Kak…” suara Aluna tak jelas karena
mulutnya penuh dengan makanan.
“Habiskan dulu makanmu, Aluna. Baru kamu
bicara!”
“Kak Eki, Mama tidak akan meninggalkan
kita seperti Papa kan?” Kata-kata Aluna seperti bom di telinga Eki.
“Hus! Jangan omong sembarangan kamu!”
“Aku takut kak!”
“Jangan takut. Mama pasti akan pulang!”
“Sungguh?”
“Ya! Mama pasti pulang! Percayalah. Mama
sudah berjanji. Aluna tahu, mama kita adalah perempuan yang kuat. Mama tak
pernah ingkar janji kan selama ini?”
Aluna mengangguk. Hatinya tenang. Mama pasti
pulang.
**
“Eki? Ini mama. Ayo bangun!”
Eki terbangun. Keringat bercucuran. Bukan
karena kipas anginnya tak menyala akibat listrik mati saat hujan tadi tetapi
dia bermimpi dan dia telah lupa mimpi apa itu. Dia tak bisa melihat apapun.
Tapi tadi suara mama. Suara yang berhasil membangunkannya dari mimpi buruk.
“Ma?”
“Iya sayang. Mama sudah pulang. Kamu dan
Aluna baik saja kan? Makasih kamu sudah menjaga Aluna!”
“Mama di mana?”
“Mama di ranjang Aluna sayang. Kamu mau
ke sini? Ayo.”
Eki berjuang menaiki ranjang Aluna dalam
gulita. Diletakkan kepalanya juga di pangkuan sang Bunda. Rasanya rindu sekali.
Sudah 6 hari mama tidak pulang. Sudah 4 hari mama tidak mengirim kabar.
“Ma, mama capek ya?”
“Sedikit sayang. Tapi mama senang karena
kamu dan Aluna baik saja!”
“Ma, Kenapa 4 hari ini tidak ada kabar?”
“Mama sangat sibuk sayang. Kami tak
punya waktu memegang ponsel. Nanti kalau kamu mau hubungi, kamu bisa
menghubungi tante Lala ya. Kamu masih simpankan nomor tante Lala?”
“Iya ma. Tante Lala yang di resepsionis
kan?”
“Iya. Kamu memang pintar. Kaka terhebat
buat Aluna. Selalu begitu ya, sampai kapanpun”
Eki mengangguk. Dia berjanji akan jadi
kaka terhebat buat Aluna selamanya.
Mama Eki membelai rambut Eki. Aluna
bergerak sambil mengerang memamnggil mamanya.
“Luna, mama sudah pulang. Jangan sedih
lagi,” kata Eki pada Luna. Namun Luna masih terus lelap dalam buaian sang
Bunda.
“Ma, Eki dan Luna sayang mama. Kami selalu
mendoakan mama setiap malam”
“Mama juga sayang kamu berdua. Tugas mama
mendoakan kamu juga sampai selamanya. Kita saling mendoakan ya. Dalam
rindu-rindu kita.”
Eki jatuh tertidur hingga pagi menyapa.
Dia sedang memeluk Aluna ketika ia tersadar oleh gerakan tubuh Aluna yang terlebih dahulu bangun.
“Kak Eki kenapa tidur di ranjang Aluna?”
“Hei, mama sudah tiba semalam. Mama yang
mengeloni kita berdua.”
“Oh ya? Ayo ke kamar mama”
Maka melompatlah mereka berdua berlarian
ke kamar sang Bunda. Namun kamar masih sepi.
“Apa mama sudah berdinas lagi ya?”
“Jam berapa ya sekarang, kak Eki?”
“Jam 06.15,” kata Eki sambil menujukkan jam yang tergantung
di dinding.
“Belum jam dinas mama,” sambung Eki
Aluna hanya mengangguk. Dia lanjut mencari
mamanya ke sekeliling rumah. Sampai bu Yum tiba. Memeluk mereka berdua dengan
pelukan yang paling dalam dan hangat.
Tok…Tok….Tok… Pintu diketuk
Bu Yum melepas dekapannya dan
menuju pintu lalu membuka pintu. Ada tante Lala di depan pintu rumah mereka.
Tanta Lala berdiri tenang tak berbicara
lalu perlahan melangkah masuk. Bu Yum menarik tangan kedua kakak beradik itu ke
sebuah kursi di ruang tamu.
“Hai! Eki masih kenal tante?”
Eki mengangguk. “Tante Lala?” katanya
menggumam.
Tante Lala mengangguk perlahan.
“Kalian berdua baik saja?”
“Baik Tante. Mama sudah pulang kata kak
Eki.”, suara Aluna bahagia sekali
“Iya kan kaka?” Aluna meminta
persetujuan Eki.
“Iya. Semalam mama datang. Mama bilang,
aku harus bicara sama tante Lala kalau aku mau tahu tentang mama. Ponsel mama
rusak, kata mama!”
Lala berdiri, menuju Eki dan Aluna,
memeluk keduanya erat. Ditanganya ada sebuah ponsel yang berisi sebuah tugas
besar yang harus ia selesaikan hari ini dengan kakak beradik yang tak lagi
yatim melainkan yatim piatu itu.
Ende, 18/01/2021
Untukmu semua yang menjadi korban
keganasan pandemic ini. Doaku untukmu.
Sumber gambar : https://cdn01.indozone.id/local/5e75e1d46b78d.jpg