“Diam!
Diam! Jangan menangis. Kamu membuat Mama pusing. Sangat pusing. Ema, Ema, ambil
anak ini. Saya tidak tahan mendengar rengekannya”, Bu Dian berteriak dari dalam
kamar
“Mama..Mama…Mama…Mama”,
suara tangisan seorang anak kecil pecah
disenja itu
“Ema,
Ema. Duh ke mana sih Ema ini?” Bu Dian menggerutu memanggil pengasuh anaknya
Tergopoh-gopoh
Ema berlari dari arah dapur ke kamar sumber suara tangisan itu.
“Ibu
maaf. Saya sedang menyiapkan makan buat Mora. Ayo Mora. Mari Ema gendong”. Ema
membujuk Mora, gadis kecil, putri tunggal ibu Dian yang berumur 9 tahun yang terus menerus menangis
merengek-rengek.
“Tidak
mau Ema. Mora mau sama Mama. Mora mau mama”. Mora menolak hendak digendong oleh
Ema
“Ayo
sayang” Ema sedikit memaksa Mora lalu menggendongnya dan beranjak ke dapur.
Sekilas ditatapnya punggung ibu Dian yang sedang menatap tembok di depannya.
“Ema,
Ema, tolong Mora. Mora mau Mama uuuuuu”.
Mora terus terisak
Didudukannya
Mora di sebuah kursi di meja makan. Lama Ema menatap mata bening mora yang
penuh genangan air mata. Mora masih terisak
“Mora,
Mora sayang. Ema buatkan cumi goreng kesukaan Mora. Enak. Sangat enak”, kata
Ema halus untuk membujuk Mora
“Ema,
Mora mau memeluk mama. Mora sayang Mama”
Dan
air mata Ema menetes. Terbayang jelas hampir 4 tahun lalu. Mora adalah anak
manis yang sangat periang.
**
“Pak,
sebentar pulang kantornya cepat kan?” Bu Dian menatap suaminya pagi ini sebelum
ke kantor.
“Iya
Ma. Saya ingat, hari ini Mora ulang tahun yang ke 5 kan? Kita akan merayakannya
berempat dengan Ema. Saya akan pulang lebih cepat”, Pak Santos mengatakannya
lalu menyeruput kopi buatan istrinya.
“Gak
ada yang dilupakan, Pak?. Hadiah dari kita sudah saya siapkan”, Ibu Dian
menyambung
“Oh
iya. Saya hanya belum sempat membelikan sebuah hadiah rahasia untuknya”, kata
Pak Santos yang tampak sedikit berpikir.
“Ya
sudah, tidak apa, Pak. Kan sudah ada buku cerita yang disukainya. Sudah mama
bungkus pun menjadi kado”, kata bu Dian
“Hmm..
tapi itu sudah lama Papa janjikan padanya. Pokoknya akan Bapak usahakan”, kata
Pak Santos sambil tersenyum
“Mama…Mama…”
Terdengar suara seorang anak kecil dari arah kamar. Cepat-cepat bu Dian berlari
ke kamar. Menggendong putri kecilnya yang hari ini genap berusia 5 tahun
“Waaah,
Mora sayang sudah bangun? Mora mencari mama ya?”
“Iya.
Mora bermimpi. Mimpi tentang Bapak. Bapak pergi tapi tidak ajak Mora”, Mora
terisak menceritakan mimpinya
“Pak
Santos yang mendengarkan cerita anaknya terkekeh.
“Mora..
Mora. Dalam mimpi saja manja betul kamu nak. Sini, sini, ayo biarkan Bapak
menggendongmu, nak.”
Mora
segera turun dari gendongan ibunya dan berlari ke arah Bapaknya. Dalam gendongan
Bapaknya, Mira berkata : “Bapak, Bapak, janji ya, jangan tinggalkan Mora dan
Mama”, Mora berkata dengan wajah anak-anak yang lucu.
Semua
tertawa. Mora memang sangat penyayang.
Ibu
Dian teringat, saat Mora pertama kali bersekolah. Ketika pulang sekolah, Mora berlari-lari
mendapatinya dan memeluknya erat. Dengan berlinang air mata, Mora mengatakan
kalau dia sangat merindukan mamanya saat sedang belajar di ruang kelas.
Bu
Dian tersenyum jika mengingat hal itu. Putri kecilnya yang manja dan selalu
mengasihi ia dan suaminya.Bu Dian menyadari, bahwa Mora benar-benar rahmat bagi
hidupnya. Mora hadir setelah tiga tahun pernikahn mereka. Disaat Ia mulai putus
asa dan berpikir bahwa rahmat ini tak bisa dimilikinya. Mora datang dan
menyembuhkan rasa bencinya pada dirinya sendiri yang ia yakini memiliki
permasalahan kesuburan. Kini Mora telah genap berusia lima tahun. Bu Dian
semakin menyadari bahwa dalam perkawinan, kebahagiaan terbesar adalah menjadi seorang ibu.
“Baik.
Bapak ke kantor dulu. Sedikit lagi pasti hujan. Sudah bulan November”, suara
pak santos membuyarkan lamunan Bu Dian. Pak Santos menurunkan Mora dari gendongannya
lalu bergegas hendak ke kantor . Mora dan bu Dian menghantarnya ke depan rumah.
“Mora
nanti sama Mama ya, ke sekolah. Ingat, jam 5 nanti kita punya janjikan ya”,
kata Pak Santos
“Janjian
yang itu Pak?”, kata Mora dengan wajah berbinar sambil memberikan kode dengan
jarinya
“Yess.
Janji rahasia kita”, kata Pak Santos sambil mengeluarkan sepeda motornya.
Ibu
Dian tersenyum.
“I
Love you, Papa. I loooove you”, kata Mora sambil melompat-lompat bahagia
“Iya..
I Love you too, Mora. I love you, Mama. Terima kasih untuk cinta”, kata Pak
Santos sambil menatap bu Dian lama
Wajah
Bu Dian memerah karena malu. Aneh sekali. Pak Santos tiba-tiba jauh lebih
romantis.
Pak
Santos menyalakan mesin motornya. Sebelum berangkat, kembali ditatap wajah
istri dan putrinya. Dua orang yang sangat dicintainya. Ada senyum di sudut
bibirnya, seperti hendak mengatakan sesuatu. Bu Dian terus menatapnya pula.
Suami ku yang luar biasa, katanya dalam hati.
“Saya
berangkat. Sampai jumpa”, kata Pak Santos dan berlalu pergi.
Bu
Dian menatap punggung suaminya hingga hilang dari pandangannya. Kok saya
tiba-tiba terharu ya. Ah, Bapak Mora memang selalu romantis, kata Bu Dian dalam
hati.
Sambil
tersenyum, ia dan Mora putri kecilnya melangkah masuk ke dalam rumah.
**
Di
luar hujan masih deras turun. November yang basah.
“Ma..ma…
Papa belum tiba ya? Ini sudah jam 5 lewat. Kita terlambat ma”. Mora mulai merengek
“Iya
sayang. Sabar. Lagi hujan. Kasihan, nanti papa pasti kehujanan”. Bu Dian
dengan
sabar berusaha menenangkan gadis kecilnya.
“Ema
tolong ambilkan handphone saya di dalam kamar. Saya mau menghubungi Bapak”
Ema
berlari ke kamar, mengambil handphone dan memberikan pada ibu Dian
“Pak..
di mana sekarang?”
“Saya
masih di kantor Bu. Hujannya lebat. Ini mau pulang. Tunggu redah ya” jawab Pak
Santos dari seberang.
Mendengar
ibunya berbicara dengan Bapaknya, cepat-cepat Mora meminta ikut berbicara.
“Mama.
Mama. Mora mau bicara sama Papa”.
Bu
Dianpun memberikan handphonenya pada Mora anaknya.
“Pa.
Pa. Cepet. Kita terlambat. Yang itu
sudah ada kan? Rahasia kita?” dengan riang Mora berkata pada Papanya
“Iya
sayang. Ini Papa mau pulang. Yang itu akan papa beli saat perjalanan pulang nanti, terdengar suara Pak
Santos
“Sekarang
Pa. Sekarang” Mora sedikit memaksa.
“Mora,
tidak boleh begitu. Sekarang lagi hujan. Kasihan Papa", kata bu Dian
mengingatkan Mora
“Pokoknya
Mora mau Papa datang sekarang. Sekarang Pa. Bawakan rahasia kita. Jangan lupa. Janji ya, Pak”
Mora sedikit merengek lalu memberikan handphone pada ibunya dan melanjutkan
permainannya.
“Mora. Gak boleh begitu sayang", bu Dian
kembali mengingatkan Mora. Dia lalu melanjutkan pembicaraan dengan suaminya
lewat Handphone.
“Pa.
Pa. Gak usah dipaksakan. Masih
hujan. Papa berteduh saja dulu. Setelah
redah baru datang. Pesanan Mora nanti saja. Besok juga masih bisa”
“Iya
ma tidak papa. Ni hujan dah mulai redah. Papa jalan dulu. Besok nanti gak
sempat. I love you ma. Bilang Mora, I
love her. Papa berangkat”
“Iya
Pa. hati-hati. Kami tunggu ya”
Telpon
di matikan.
Sudah
jam 19.00, Pak Santos belum juga tiba. Telponnya berdering tapi tidak pernah
diangkat.
Mora
sudah tertidur sambil menangis.
Bu
Dian tak tenang. Di hubungi semua teman-teman kantor Pak Santos.
“Pak
Santos sudah pulang sejak jam 17.30 saat hujan redah, Bu.”, demikian kata
teman-teman kantor.
Bu
Dian mulai merasakan kegelisahan dan ketakutan.
Ada apa sebenarnya? Kamu di mana Pak sekarang?
Saat
ia lagi sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya, tiba-tiba Handphone nya
berdering. Nama suaminya muncul di layar handphonenya. Secepat kilat di angkatnya,
“Pa.. kamu di mana? Kami cemas menanti.”
“Malam
Kak Dian. Ini Saya, Heru Kak."
"Heru?
Kamu sama Kak Santos ya? Diajak kak Santos ke rumah ngerayain ultah Mora?"
Bu Dian sedikit legah. Ditelpon sama sepupunya. Heru, seorang Polantas.
"Eh,
tapi kak Santos mana?", bu Dian melanjutkan sebelum Heru berbicara.
"Kak,
kami lagi di Rumah Sakit Cipto. Kakak
bisa ke Rumah sakit sekarang? Di UGD”, terdengar suara Heru sangat tenang.
"Rumah
Sakit? Ada apa Heru? Mana suami saya? Mana suami saya? Kamu tolong jujur sama
Kakak. Di mana Kak Santos?”, Ibu Dian histeris berteriak
“Kak,
Kak Santos gak kenapa-kenapa. Mohon kakak tenang. Kak Santos baik-baik saja.
Kami tunggu ya Kak”
“Saya
mau bicara dengan suami saya. Tolong Heru”, Ibu Dian semakin histeris berteriak
Ema
berlari tergopoh-gopoh memeluk tubuh bu Dian yang lunglai.
“Ada
apa Ibu?”, Ema cemas bertanya
“Bapak,
Ema. Bapak di Rumah sakit”
“Apa?
Bapak tidak apa-apa kan Bu? Ibu harus kuat. Ayo kita ke sana. Mora biar saya
titipkan sama oma tetangga sebelah ya?”
Tanpa
menanti bu Dian mengangguk, sigap Ema menggendong Mora dan menghantarnya ke
rumah Oma Mirna.
***
Ibu
Dian tertegun memandang sosok yang sangat ia cintai, terbujur kaku. Kepalanya
dibebat. Darah terus menetes dari hidung dan mulutnya.
Suaminya.
Pria yang mencintai dan menerimanya sebagai hidupnya selamanya. Pria yang
dengan gagah menggandeng tangannya sambil mengatakan kepada semua keluarganya,
bahwa dia akan terus bersamanya apapun yang terjadi. Yang dengan gagah berjanji
di depan altarnya bahwa mereka akan selalu bersama dalam untung dan malang.
Pria yang tetap menerimanya walau ia hanya seorang yatim piatu. Pria itu, kini
terbujur tak bergeming. Tak lagi menatapnya dengan pandangan penuh cinta
seperti biasanya. Seperti pagi tadi. Iya, pagi tadi.
Tiba-tiba
Dian teringat, ketika Santos lama menatapnya. Pagi tadi juga, Santos
berulang-ulang mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Bahkan tiba-tiba
mengucapkan terima kasih dan lalu mengatakan sampai jumpa. Kata-kata yang
tiba-tiba dia sadari sebagai sebuah pesan.
Dia
pun teringat bagaimana Mora bermimpi, Papanya pergi tanpa pamit.
Kenapa.
Kenapa harus Kak Santos? Kenapa semua yang saya miliki harus direnggut dari
saya? Apakah saya tak layak untuk bahagia? Mengapa? Mengapa semua ini terjadi
“Pa..
Bangun pa. Saya mohon. jangan tinggalkan saya seperti ini. Pa… Ayo pa bangun.
Kita harus merayakan hari ulang tahun Mora kita Pa. Pa, kenapa? kenapa pergi
seperti ini. Kenapa ?
Pa…
Mana janjimu Pa? Bahwa kau tidak akan meninggalkan saya seperti ke dua orang
tua saya meninggalkan saya.
Pa…
lihat saya Pa. Saya tak kuat Pa. Siapa yang akan menggandeng tangan saya? Siapa
yang akan memeluk saya? Siapa yang akan menemani saya membesarkan Mora kita
Pa?” Ibu Dian terisak.
Ema
memeluk bu Dian yang terus histeris di hadapan jenazah sang suami yang sangat
ia cintai.
“Ema,
Ini tas almarhum dan sebuah paket yang terus beliau peluk.” Kata Heru yang tak
tega menatap Bu Dian sepupunya.
Ema
langsung menerima pemberian Heru sambil mengucapkan terima kasih.
Bu
Dian pingsan dan tak sadarkan diri. Dibantu Heru, Ema mengurusi seluruh
kebutuhan pemulasaran jenazah pak Santos yang ditemukan terjatuh dalam sebuah
kecelakaan tunggal di jalan Sudirman. Tidak jauh dari tempatnya membelikan
hadiah rahasia buat Mora putri kecilnya. Sebuah boneka little pony berwarna
pink yang yang kemudian ditemukan terus
dipeluknya saat pertama kali beliau dihantar ke rumah sakit.
**
Banyak
orang di rumah. Mora senang sekali. Papanya mengundang banyak orang untuk
menghadiri hari ulang tahunnya. Tapi Papa terus saja tertidur. Boneka hadiah
rahasia yang dititipkan pada Ema terus dipeluknya. Papa tidak bangun juga. Mora
mulai menangis,
“Pa,
hadiahnya sudah ada. Kuenya juga sudah ada. Ayo Pa. kita nyanyikan selamat
ulang tahun", Mora memanggil-manggil papanya. Hening, tak ada jawaban; hanya isak tangis
Omanya memecah keheningan.
Mengapa
semua orang menangis di hari ulang tahun Saya? Mengapa tak ada musik dan
balon-balon seperti biasanya. Dan mengapa papa terus tertidur? Mora tak
memahami apa yang terjadi. Dia berlari menemui ibunya yang hanya menatapnya
tajam lalu merenggut boneka hadiah rahasianya dan membuangnya ke sudut ruangan.
Mora
menjerit-jerit oleh marah
“Mama
jahat. Mama jahat. Kenapa hadiah rahasia papa untuk Mora mama buang? Kenapa
ma?”
Mora
terus menangis hingga tertidur dalam pelukan Ema
**
“Ema,
Mora lapar”
Ema
tersadarkan oleh panggilan Mora.
“Oh
iya, Ema sudah siapkan Mora makan. Cumi-Cumi goreng kan, kesukaan Mora?” Ema
bergegas menyiapkan makanan Mora
“Yummy....Mora
suka” Mora kembali ceria dan melupakan begitu saja tangisannya tadi.
“Ema…
Mora rindu Papa”, kata Mora sambil menyuap sesendok nasi di mulutnya
“Hm,
Mora, makan dulu, baru ngomong, sayang. Nanti kamu tersedak”, Ema
mengingatkannya dengan penuh kasih sayang.
“Ema,
sungguh. Mora rindu papa.”, Mora bertanya dengan wajah sedikit ditekuk
Suasana
begitu hening. Ema tercekat rasanya. Diusapnya rambut Mora. Sambil memeluk
Mora, Ema berkata : “ Papa tidak jauh sayang. Papa ada di hati Mora. Kalau Mora
rindu, Mora berdoa ya.”
“Seperti
yang ema ajarkan itu?”
“Iya.
Seperti itu”
“Tapi
tetap rindu. Mora ingat terus”
“Tidak
apa-apa. Papa juga pasti rindu Mora”, Ema mengelus rambut Mora dengan penuh
kasih.
“Minggu
depan Mora sudah selesai liburan. Mora mau sekolah lagi di kelas yang baru.
Papa bilang Mora harus rajin belajar. Mora harus jaga mama”, kata Mora dengan
sungguh-sungguh.
“Oh
ya? Papa yang bilang? Kapan?”, Ema bertanya
“Waktu
Mora ulang tahun itu, Ema. Saat banyak orang datang. Waktu itu, Mora
terbangun. Diam-diam Mora mengambil lagi
boneka hadiah rahasia yang dibuang mama. Saat itu, papa ke kamar dan mengatakan
hal itu”
Ema
memeluk Mora kuat.
“Iya
sayang. Mora harus jaga mama. Mora harus rajin belajar”
“Ema..
mengapa mama membenci Mora? Sejak Papa pergi, mama terus memarahi Mora.
Mungkinkah karena Mora nakal, Ema?”, Mora bertanya dengan kepolosan seorang
anak
“Tidak
sayang. Mama selalu sayang Mora. Mama hanya lagi suka sendirian. Mama lagi
mengerjakan sebuah tugas yang besar. Mora harus bantu mama ya”
“Ema…
Mora merasa, mama selalu bersedih karena Mora. Setiap dekat dengan Mora, mama
pasti menangis. Ema, mungkin kalau Mora
tidak mengganggu mama dengan tidak selalu muncul di hadapan mama, mama akan
bahagia?”
“Hei..
Bukan begitu Mora. Mora harus selalu di samping mama seperti yang papa
pesankan." Ema mengatakan hal itu dengan lembut dan sungguh-sungguh.
"hm..
Ema. Mora boleh minta sesuatu?”, mata Mora menatap ema dengan penuh harap
“Boleh.
Apa itu?”, Ema menjawabnya
“Bolehkah
kalau Mora merasa rindu hendak memeluk
mama, Mora memeluk Ema saja. Supaya Mama jangan bersedih. Karena Mora yakin,
mama tak suka Mora memeluknya” Matanya yang bening berharap
Tetes
air mata ema bergulir dari kedua bola matanya.
“Boleh
Mora. Sangat boleh. Kapanpun Mora mau, Mora boleh memeluk Ema”
“Terim
kasih Ema. Mora juga sayang Ema. Sayang Papa, Sayang Mama. Ema itu yang terbaik
buat Mora.”
Dan
keduanyapun berpelukan.
“Ibu,
beberapa hari ini, Mora selalu demam. Dia memaksa tetap masuk sekolah. Tadi
saat menjemput Mora, badannya panas Bu. Mora sangat tidak bersemangat”, lapor
Ema
"ooo.
Kasih obat penurun panas saja, yang ada di kotak obat. Seperti biasanya. Dia selalu manja dan
merepotkan”, Dian menjawab tak peduli
“Iya
bu. Sudah saya beri, tetapi panasnya tidak turun-turun bu. Ini sudah jam 10
malam”, Ema tak tahan menjawab ketidakpedulian Bu Dian
“hm.
Paling nanti turun juga. Biarkan saja. Saya lelah melihatnya manja seperti
itu”, Bu Dian menimpali dan memunggungi Ema
Ema
mengangguk dan berlalu. Hatinya tak tenang. Mora demam tinggi. Dia
memanggil-manggil nama mamanya dalam lirih tertahankan. Seperti sebuah
ketakutan.
“Mora,
Mora. Bagaimna rasanya sekarang?”, Ema mengajaknya bicara
“Ema,
Mora sakit kepala. Mora merasa sangat dingin.”, kata Mora dengan suara sedikit
lemah.
“Ema
panggil mama Mora ya”, kata Ema sambil beranjak pergi
“Jangan
Ema. Nanti mama sedih. Mora kuat Ema. Mora bisa bangun”, sambil berkata demikian,
Mora berusaha bangun dari tidurnya.
“Sudah..sudah..
tak apa Mora. Bobo saja. Ema jaga Mora. Mora mau minum susu? Ema buatkan ya”
katanya tak tega melihat gadis cilik itu
“Iya
Ema. Terima kasih”
Ema
segera menuju dapur. Saat masih di depan pintu Mora memanggilnya
“Ema…”
Ema
berhenti menatap wajah mungil anak itu yang dirawatnya sejak bayi
“Mora
sayang Ema. Terima kasih sudah jadi mama buat Mora”
Ema
berlari ke arahnya, memeluknya kuat-kuat. Badannya dingin. Ema merasa legah.
Suhu tubuh Mora sudah turun. Setelah menghabiskan sebotol susu, Mora tertidur
pulas saat Ema membacakan dongeng Cinderela untuknya. Ema merasakan betul, Mora
tidak bersemangat. Dia hanya terdiam saja. Tidak seperti biasanya.
Jam
02.00 dini hari, ibu Dian menjenguk ke dalam kamar Mora. Dipegangnya dahi
anaknya, suhu tubuhnya tidak panas. Hatinya sedikit merasa tak enak, namun
tiba-tiba dilihatnya little pony itu di situ. Terjatuh di bawah tempat tidur
Mora, hatinya kembali dingin.
Boneka
pembunuh ini. Yang membuat suamiku meninggal. Aku benci. Benci pada boneka ini.
Benci pada Mora yang memaksakan sehingga suamiku harus meregang nyawa. Boneka
itu di situ. Dipeluk oleh Mora dengan bahagia. Sedangkan aku harus kehilangan
suamiku karenanya.
Ibu
Dian berlalu dengan air mata.
Di
dalam kamarnya, tangisnya pecah kembali.
Dia marah. Marah pada seluruh situasi. Marah pada hari ulang tahun yang
menyakitkan. Pada rengekan Mora yang meminta papanya segera pulang. Pada
permintaan Mora tentang kado rahasia. Aaaah.. hatinya kembali terluka.
“Ibu..Ibu….
Mora Ibu. Mora” terdengar suara Ema menggedor pintu kamarnya
“Ada
apa Ema? Saya capek”
“Mora
ibu.. hidungnya berdarah. Diapun muntah dan berdarah.”, Ema dengan gelisah
menyampaikan kondisi Mora
“Masa,
jangan mengada-ada kamu. Tadi saya ke kamarmu. Suhu tubuhnya normal kok”, ibu
Dian kaget mendengar laporan Ema
“Iya
bu. Sungguh bu. Mari bu”, Ema sedikit memaksa.
Bu Dian berlari ke kamar Ema, tempat Mora
terbaring. Ada ceceran darah di sana. Bu Dian seperti dikagetkan dari tidur
panjang. Tiba-tiba dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Seperti malam itu,
saat Santos pergi dan tak pernah kembali lagi. Di peluknya anaknya:
“Mora..
kamu kenapa nak”
Mora
terus berkata lirih tak jelas. Ibu Dian bertanya kembali, “Kenapa nak?”
“Maaf.
Maafkan Mora mama”, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mungil Mora.
Air
mata Bu Dian menetes. Dipeluknya Mora. Hadiah Tuhan yang ia lupakan karena
berlarut dalam duka. Mora yang menjadi tanda hadir satu-satunya dari suaminya
yang telah pergi. Harta berharga yang ia miliki namun ia sia-siakan oleh
egonya. Mora yang selalu menatapnya dari kejauhan dengan tatapan takut. Yang
kadang berpura-pura agar menyentuhnya, lalu meminta maaf. Mora itu adalah Mora
yang dahulu selalu tak bisa tidur jika belum mencium pipinya. Mora yang
ceria. “Mora, maafkan mama”, Bu Dian
histeris berteriak.
Bersama
Ema, Mora dilarikan ke rumah sakit.
**
“Mora
terkena demam berdarah, bu. Hasil uji lab menunjukkan Trombositnya sangat
rendah. Sekarang Mora dalam kondisi kritis.
Untuk sementara agar mendapatkan perawatan intensif, Mora kami rawat di
ICU ya bu. Sayang sekali, kenapa sangat terlambat membawanya agar segera
mendapatkan pertolongan”, terdengar nada penyesalan dari dokter yang bertugas
di UGD
“Iya
Pak Dokter. Saya benar-benar menyesal. Tapi Pak Dokter, tolong selamatkan anak
saya. Lakukan dengan cara yang terbaik. Berappun biayanya, saya akan bayar",
sambil menahan tangis dan sedikit memaksa bu Dian menyampaikan pada Dokter yang
merawat Mora.
“Iya
bu. Pasti kita akan lakukan yang terbaik. Nanti Pasien akan segera dipindahkan
ke ICU”, kata Dokter jaga UGD
“Baik
bu. Saya tinggal dulu. Kami mohon doanya agar kami bisa memberikan perawatan
terbaik buat anak ibu”, kata dokter melanjutkan.
“Terima
kasih Pak dokter”, Bu Dian lirih berkata
Banyak
selang yang di pasang. Mora Nampak lemah terbaring di ruang ICU. Ema memegang
tangannya. Ada sebutir tetes air mata yang jatuh di kedua sudut mata Mora.
"Ema,
biarkan saya yang menjaganya. Kamu istirahat dulu”, setengah berbisik, Bu Dian
meminta
Ema
memberikannya waktu berdua dengan Mora.
Bu
Dian yang kemudian duduk dan memegang tangan anaknya.
“Maafkan
mama sayang. Maafkan mama melupakanmu. Maafkan mama yang sibuk memikirkan diri
sendiri. Menyalahkan semua orang. Terutama menyalahkanmu. Mora, bertahanlah sayang.
Mama sangat menyayangimu. Mama mohon, tetaplah di sini. Biarkan mama
memperbaiki semua yang sudah mama buat. Biarkan mama menebusnya sayang”, suara
bu Dian lirih
“Mama..mama…”,
terdengar suara Mora lirih memanggilnya
Dian
mendengatkan telinganya ke bibir Mora
agar bisa mendengarkan dengan baik
“Maafkan
Mora, Mama. Mora nakal. Mora tidak tahan dengan sakit. Maafkan Mora membuat
mama susah”
Dian
berusaha memeluk Mora kuat. “Mora, semua salah mama. Sehatlah sayang.
Berjuanglah sayang. Mama akan selalu di sini. Mendampingimu. Mama kan menjagamu
sekuat tenaga”, Bu Dian berusaha meyakinkan Mora sambil menahan tangis.
“Mama..maafkan
mora. Maafkan Mora, Mama”, lalu Mora terjatuh lunglai tak sadarakan diri. Hiruk
pikuk suara peralatan berbunyi
“Suster!
Suster! Tolong anak saya, Suster. Tolong Suster”, Bu Dian menjerit melihat
keadaan Mora.
Secepat
kilat para perawat dan Dokter segera memberikan bantuan tehadap Mora. Ibu Dian
terkulai di sudut ruangan terisak
“Mora..maafkan
mama. Mora bertahanlah. Mama mohon bertahanlah. Mora. Tuhan sembuhkan anakku.
Ampuni aku Tuhan. Ampuni rahim yang mengandung. Tuhan selamatkan anak ku."
***
Mama…
Mora sangat menyayangimu mama. Hari ini Mora lihat mama sedih dan menangis di
depan foto Papa. Mora sangat sedih. Mora juga rindu papa. Tapi, sepertinya mama
jauh lebih merindukan Papa.
Mama, pernah suatu waktu Mora pengen memeluk mama,
saat mama tertidur selepas menangis di hari Ulang Tahun Mora yang ke 9. Mora
mau bilang, Mama, ini Mora. Mora ada
Mama. Mora akan jaga mama selalu. Mora sayang mama, tapi Mora urungkan niat
karena Mora takut akan semkain membuat mama bersedih. Mama jangan takut. Mama
jangan sedih lagi. Mora dan Papa selalu menyayangi Mama. Ma.. Kalau mama rindu Mora, mama boleh
memeluk Ema. Sama seperti kalau Mora rindu ingin memeluk mama, mora memeluk
Ema. Ma.. Mora tidak akan lelah mengatakan, bahwa Mora sangat mencintai mama.
Selamanya. Mama adalah ibu terhebat bagi Mora. Sampai jumpa mama.
Di
depan pusara dua orang yang sangat mencintainya itu, Ibu Dian membaca kembali
curahan hati Mora dalam sebuah surat, yang Mora tulis dan titipkan pada Ema.
Sekali lagi air matanya berlinang. Setahun sudah berlalu. Biasanya setiap Hari
ulang tahun Mora, Bu Dian selalu mengunjungi pusara suaminya. Ini adalah tahun
pertama, bu Dian mengunjungi pusara suami dan anaknya sekaligus.
Hujan
bulan November kembali berguguran. Bu Dian tak beranjak. Dia terus terduduk
memeluk nisan anaknya. Tak dipedulikan badannya yang mulai kuyup, hingga
dirasanya dekapan yang sudah sangat lama ia rindukan. Dekapan hangat suaminya.
Hatinya sangat bahagia. Dan ia pun terbang di antara cahaya yang begitu
benderang.
Ende,
23 Nov 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar