Sabtu, 19 Desember 2020

Little Pony


“Diam! Diam! Jangan menangis. Kamu membuat Mama pusing. Sangat pusing. Ema, Ema, ambil anak ini. Saya tidak tahan mendengar rengekannya”, Bu Dian berteriak dari dalam kamar

“Mama..Mama…Mama…Mama”, suara tangisan seorang anak kecil  pecah disenja itu

“Ema, Ema. Duh ke mana sih Ema ini?” Bu Dian menggerutu memanggil pengasuh anaknya

Tergopoh-gopoh Ema berlari dari arah dapur ke kamar sumber suara tangisan itu.

“Ibu maaf. Saya sedang menyiapkan makan buat Mora. Ayo Mora. Mari Ema gendong”. Ema membujuk Mora, gadis kecil, putri tunggal ibu Dian yang berumur  9 tahun yang terus menerus menangis merengek-rengek.

“Tidak mau Ema. Mora mau sama Mama. Mora mau mama”. Mora menolak hendak digendong oleh Ema

“Ayo sayang” Ema sedikit memaksa Mora lalu menggendongnya dan beranjak ke dapur. Sekilas ditatapnya punggung ibu Dian yang sedang menatap tembok di depannya.

“Ema, Ema, tolong Mora.  Mora mau Mama uuuuuu”. Mora terus terisak

Didudukannya Mora di sebuah kursi di meja makan. Lama Ema menatap mata bening mora yang penuh genangan air mata. Mora masih terisak

“Mora, Mora sayang. Ema buatkan cumi goreng kesukaan Mora. Enak. Sangat enak”, kata Ema halus untuk  membujuk Mora

“Ema, Mora mau memeluk mama. Mora sayang Mama”

Dan air mata Ema menetes. Terbayang jelas hampir 4 tahun lalu. Mora adalah anak manis yang sangat periang.

**

“Pak, sebentar pulang kantornya cepat kan?” Bu Dian menatap suaminya pagi ini sebelum ke kantor.

“Iya Ma. Saya ingat, hari ini Mora ulang tahun yang ke 5 kan? Kita akan merayakannya berempat dengan Ema. Saya akan pulang lebih cepat”, Pak Santos mengatakannya lalu menyeruput kopi buatan istrinya.

“Gak ada yang dilupakan, Pak?. Hadiah dari kita sudah saya siapkan”, Ibu Dian menyambung

“Oh iya. Saya hanya belum sempat membelikan sebuah hadiah rahasia untuknya”, kata Pak Santos  yang tampak sedikit berpikir.

“Ya sudah, tidak apa, Pak. Kan sudah ada buku cerita yang disukainya. Sudah mama bungkus pun menjadi kado”, kata bu Dian

“Hmm.. tapi itu sudah lama Papa janjikan padanya. Pokoknya akan Bapak usahakan”, kata Pak Santos sambil tersenyum

 

“Mama…Mama…” Terdengar suara seorang anak kecil dari arah kamar. Cepat-cepat bu Dian berlari ke kamar. Menggendong putri kecilnya yang hari ini genap berusia 5 tahun

“Waaah, Mora sayang sudah bangun? Mora mencari mama ya?”

“Iya. Mora bermimpi. Mimpi tentang Bapak. Bapak pergi tapi tidak ajak Mora”, Mora terisak menceritakan mimpinya

“Pak Santos yang mendengarkan cerita anaknya terkekeh.

“Mora.. Mora. Dalam mimpi saja manja betul kamu nak. Sini, sini, ayo biarkan Bapak menggendongmu, nak.”

Mora segera turun dari gendongan ibunya dan berlari ke arah Bapaknya. Dalam gendongan Bapaknya, Mira berkata : “Bapak, Bapak, janji ya, jangan tinggalkan Mora dan Mama”, Mora berkata dengan wajah anak-anak yang lucu.

Semua tertawa. Mora memang sangat penyayang.

Ibu Dian teringat, saat Mora pertama kali bersekolah. Ketika  pulang sekolah, Mora berlari-lari mendapatinya dan memeluknya erat. Dengan berlinang air mata, Mora mengatakan kalau dia sangat merindukan mamanya saat sedang belajar di ruang kelas.

Bu Dian tersenyum jika mengingat hal itu. Putri kecilnya yang manja dan selalu mengasihi ia dan suaminya.Bu Dian menyadari, bahwa Mora benar-benar rahmat bagi hidupnya. Mora hadir setelah tiga tahun pernikahn mereka. Disaat Ia mulai putus asa dan berpikir bahwa rahmat ini tak bisa dimilikinya. Mora datang dan menyembuhkan rasa bencinya pada dirinya sendiri yang ia yakini memiliki permasalahan kesuburan. Kini Mora telah genap berusia lima tahun. Bu Dian semakin menyadari bahwa dalam perkawinan, kebahagiaan terbesar adalah  menjadi seorang ibu.

“Baik. Bapak ke kantor dulu. Sedikit lagi pasti hujan. Sudah bulan November”, suara pak santos membuyarkan lamunan Bu Dian. Pak Santos menurunkan Mora dari gendongannya lalu bergegas hendak ke kantor . Mora dan bu Dian menghantarnya ke depan rumah.

“Mora nanti sama Mama ya, ke sekolah. Ingat, jam 5 nanti kita punya janjikan ya”, kata Pak Santos

“Janjian yang itu Pak?”, kata Mora dengan wajah berbinar sambil memberikan kode dengan jarinya

“Yess. Janji rahasia kita”, kata Pak Santos sambil mengeluarkan sepeda motornya.

Ibu Dian tersenyum.

“I Love you, Papa. I loooove you”, kata Mora sambil melompat-lompat bahagia

“Iya.. I Love you too, Mora. I love you, Mama. Terima kasih untuk cinta”, kata Pak Santos sambil menatap bu Dian lama

Wajah Bu Dian memerah karena malu. Aneh sekali. Pak Santos tiba-tiba jauh lebih romantis.

Pak Santos menyalakan mesin motornya. Sebelum berangkat, kembali ditatap wajah istri dan putrinya. Dua orang yang sangat dicintainya. Ada senyum di sudut bibirnya, seperti hendak mengatakan sesuatu. Bu Dian terus menatapnya pula. Suami ku yang luar biasa, katanya dalam hati.

“Saya berangkat. Sampai jumpa”, kata Pak Santos dan berlalu pergi.

Bu Dian menatap punggung suaminya hingga hilang dari pandangannya. Kok saya tiba-tiba terharu ya. Ah, Bapak Mora memang selalu romantis, kata Bu Dian dalam hati.

Sambil tersenyum, ia dan Mora putri kecilnya melangkah masuk ke dalam rumah.

**

Di luar hujan masih deras turun. November yang basah.

“Ma..ma… Papa belum tiba ya? Ini sudah jam 5 lewat. Kita terlambat ma”.  Mora mulai merengek

“Iya sayang. Sabar. Lagi hujan. Kasihan, nanti papa pasti kehujanan”. Bu Dian

dengan sabar berusaha menenangkan gadis kecilnya.

“Ema tolong ambilkan handphone saya di dalam kamar. Saya mau menghubungi Bapak”

Ema berlari ke kamar, mengambil handphone dan memberikan pada ibu Dian

“Pak.. di mana sekarang?”

“Saya masih di kantor Bu. Hujannya lebat. Ini mau pulang. Tunggu redah ya” jawab Pak Santos dari seberang.

Mendengar ibunya berbicara dengan Bapaknya, cepat-cepat Mora meminta ikut berbicara.

“Mama. Mama. Mora mau bicara sama Papa”.

Bu Dianpun memberikan handphonenya pada Mora anaknya.

“Pa. Pa.  Cepet. Kita terlambat. Yang itu sudah ada kan? Rahasia kita?” dengan riang Mora berkata pada Papanya

“Iya sayang. Ini Papa mau pulang. Yang itu akan papa beli saat  perjalanan pulang nanti, terdengar suara Pak Santos

“Sekarang Pa. Sekarang” Mora sedikit memaksa.

“Mora, tidak boleh begitu. Sekarang lagi hujan. Kasihan Papa", kata bu Dian mengingatkan Mora

“Pokoknya Mora mau Papa datang sekarang. Sekarang Pa. Bawakan  rahasia kita. Jangan lupa. Janji ya, Pak” Mora sedikit merengek lalu memberikan handphone pada ibunya dan melanjutkan permainannya.

“Mora.  Gak boleh begitu sayang", bu Dian kembali mengingatkan Mora. Dia lalu melanjutkan pembicaraan dengan suaminya lewat Handphone.

“Pa. Pa.  Gak usah dipaksakan. Masih hujan.  Papa berteduh saja dulu. Setelah redah baru datang. Pesanan Mora nanti saja. Besok juga masih bisa”

“Iya ma tidak papa. Ni hujan dah mulai redah. Papa jalan dulu. Besok nanti gak sempat.  I love you ma. Bilang Mora, I love her. Papa  berangkat”

“Iya Pa. hati-hati. Kami tunggu ya”

Telpon di matikan.

 

Sudah jam 19.00, Pak Santos belum juga tiba. Telponnya berdering tapi tidak pernah diangkat.

Mora sudah tertidur sambil menangis.

Bu Dian tak tenang. Di hubungi semua teman-teman kantor Pak Santos.

“Pak Santos sudah pulang sejak jam 17.30 saat hujan redah, Bu.”, demikian kata teman-teman kantor.

Bu Dian mulai merasakan kegelisahan dan ketakutan.  Ada apa sebenarnya? Kamu di mana Pak sekarang?

Saat ia lagi sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya, tiba-tiba Handphone nya berdering. Nama suaminya muncul di layar handphonenya. Secepat kilat di angkatnya, “Pa.. kamu di mana? Kami cemas menanti.”

“Malam Kak Dian. Ini Saya, Heru Kak."

"Heru? Kamu sama Kak Santos ya? Diajak kak Santos ke rumah ngerayain ultah Mora?" Bu Dian sedikit legah. Ditelpon sama sepupunya. Heru, seorang Polantas.

"Eh, tapi kak Santos mana?", bu Dian melanjutkan sebelum Heru berbicara.

"Kak, kami lagi  di Rumah Sakit Cipto. Kakak bisa ke Rumah sakit sekarang? Di UGD”, terdengar suara  Heru sangat tenang.

"Rumah Sakit? Ada apa Heru? Mana suami saya? Mana suami saya? Kamu tolong jujur sama Kakak. Di mana Kak Santos?”, Ibu Dian histeris berteriak

“Kak, Kak Santos gak kenapa-kenapa. Mohon kakak tenang. Kak Santos baik-baik saja. Kami tunggu ya Kak”

“Saya mau bicara dengan suami saya. Tolong Heru”, Ibu Dian semakin histeris berteriak

Ema berlari tergopoh-gopoh memeluk tubuh bu Dian yang lunglai.

“Ada apa Ibu?”, Ema cemas bertanya

“Bapak, Ema. Bapak di Rumah sakit”

“Apa? Bapak tidak apa-apa kan Bu? Ibu harus kuat. Ayo kita ke sana. Mora biar saya titipkan sama oma tetangga sebelah ya?”

Tanpa menanti bu Dian mengangguk, sigap Ema menggendong Mora dan menghantarnya ke rumah Oma Mirna.

***

Ibu Dian tertegun memandang sosok yang sangat ia cintai, terbujur kaku. Kepalanya dibebat. Darah terus menetes dari hidung dan mulutnya.

Suaminya. Pria yang mencintai dan menerimanya sebagai hidupnya selamanya. Pria yang dengan gagah menggandeng tangannya sambil mengatakan kepada semua keluarganya, bahwa dia akan terus bersamanya apapun yang terjadi. Yang dengan gagah berjanji di depan altarnya bahwa mereka akan selalu bersama dalam untung dan malang. Pria yang tetap menerimanya walau ia hanya seorang yatim piatu. Pria itu, kini terbujur tak bergeming. Tak lagi menatapnya dengan pandangan penuh cinta seperti biasanya. Seperti pagi tadi. Iya, pagi tadi.

Tiba-tiba Dian teringat, ketika Santos lama menatapnya. Pagi tadi juga, Santos berulang-ulang mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Bahkan tiba-tiba mengucapkan terima kasih dan lalu mengatakan sampai jumpa. Kata-kata yang tiba-tiba dia sadari sebagai sebuah pesan.

Dia pun teringat bagaimana Mora bermimpi, Papanya pergi tanpa pamit.

Kenapa. Kenapa harus Kak Santos? Kenapa semua yang saya miliki harus direnggut dari saya? Apakah saya tak layak untuk bahagia? Mengapa? Mengapa semua ini terjadi

“Pa.. Bangun pa. Saya mohon. jangan tinggalkan saya seperti ini. Pa… Ayo pa bangun. Kita harus merayakan hari ulang tahun Mora kita Pa. Pa, kenapa? kenapa pergi seperti ini. Kenapa ?

Pa… Mana janjimu Pa? Bahwa kau tidak akan meninggalkan saya seperti ke dua orang tua saya meninggalkan saya.

Pa… lihat saya Pa. Saya tak kuat Pa. Siapa yang akan menggandeng tangan saya? Siapa yang akan memeluk saya? Siapa yang akan menemani saya membesarkan Mora kita Pa?” Ibu Dian terisak.

Ema memeluk bu Dian yang terus histeris di hadapan jenazah sang suami yang sangat ia cintai.

“Ema, Ini tas almarhum dan sebuah paket yang terus beliau peluk.” Kata Heru yang tak tega menatap Bu Dian sepupunya.

Ema langsung menerima pemberian Heru sambil mengucapkan terima kasih.

Bu Dian pingsan dan tak sadarkan diri. Dibantu Heru, Ema mengurusi seluruh kebutuhan pemulasaran jenazah pak Santos yang ditemukan terjatuh dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan Sudirman. Tidak jauh dari tempatnya membelikan hadiah rahasia buat Mora putri kecilnya. Sebuah boneka little pony berwarna pink  yang yang kemudian ditemukan terus dipeluknya saat pertama kali beliau dihantar ke rumah sakit.

**

Banyak orang di rumah. Mora senang sekali. Papanya mengundang banyak orang untuk menghadiri hari ulang tahunnya. Tapi Papa terus saja tertidur. Boneka hadiah rahasia yang dititipkan pada Ema terus dipeluknya. Papa tidak bangun juga. Mora mulai menangis,

“Pa, hadiahnya sudah ada. Kuenya juga sudah ada. Ayo Pa. kita nyanyikan selamat ulang tahun", Mora memanggil-manggil papanya.  Hening, tak ada jawaban; hanya isak tangis Omanya memecah keheningan.

Mengapa semua orang menangis di hari ulang tahun Saya? Mengapa tak ada musik dan balon-balon seperti biasanya. Dan mengapa papa terus tertidur? Mora tak memahami apa yang terjadi. Dia berlari menemui ibunya yang hanya menatapnya tajam lalu merenggut boneka hadiah rahasianya dan membuangnya ke sudut ruangan.

Mora menjerit-jerit oleh marah

“Mama jahat. Mama jahat. Kenapa hadiah rahasia papa untuk Mora mama buang? Kenapa ma?”

Mora terus menangis hingga tertidur dalam pelukan Ema

**

“Ema, Mora lapar”

Ema tersadarkan oleh panggilan Mora.

“Oh iya, Ema sudah siapkan Mora makan. Cumi-Cumi goreng kan, kesukaan Mora?” Ema bergegas menyiapkan makanan Mora

“Yummy....Mora suka” Mora kembali ceria dan melupakan begitu saja tangisannya tadi.

“Ema… Mora rindu Papa”, kata Mora sambil menyuap sesendok nasi di mulutnya

“Hm, Mora, makan dulu, baru ngomong, sayang. Nanti kamu tersedak”, Ema mengingatkannya dengan penuh kasih sayang.

“Ema, sungguh. Mora rindu papa.”, Mora bertanya dengan wajah sedikit ditekuk

Suasana begitu hening. Ema tercekat rasanya. Diusapnya rambut Mora. Sambil memeluk Mora, Ema berkata : “ Papa tidak jauh sayang. Papa ada di hati Mora. Kalau Mora rindu, Mora berdoa ya.”

“Seperti yang ema ajarkan itu?”

“Iya. Seperti itu”

“Tapi tetap rindu. Mora ingat terus”

“Tidak apa-apa. Papa juga pasti rindu Mora”, Ema mengelus rambut Mora dengan penuh kasih.

“Minggu depan Mora sudah selesai liburan. Mora mau sekolah lagi di kelas yang baru. Papa bilang Mora harus rajin belajar. Mora harus jaga mama”, kata Mora dengan sungguh-sungguh.

“Oh ya? Papa yang bilang? Kapan?”, Ema bertanya

“Waktu Mora ulang tahun itu, Ema. Saat banyak orang datang. Waktu itu, Mora terbangun.  Diam-diam Mora mengambil lagi boneka hadiah rahasia yang dibuang mama. Saat itu, papa ke kamar dan mengatakan hal itu”

Ema memeluk Mora kuat.

“Iya sayang. Mora harus jaga mama. Mora harus rajin belajar”

“Ema.. mengapa mama membenci Mora? Sejak Papa pergi, mama terus memarahi Mora. Mungkinkah karena Mora nakal, Ema?”, Mora bertanya dengan kepolosan seorang anak

“Tidak sayang. Mama selalu sayang Mora. Mama hanya lagi suka sendirian. Mama lagi mengerjakan sebuah tugas yang besar. Mora harus bantu mama ya”

“Ema… Mora merasa, mama selalu bersedih karena Mora. Setiap dekat dengan Mora, mama pasti menangis.  Ema, mungkin kalau Mora tidak mengganggu mama dengan tidak selalu muncul di hadapan mama, mama akan bahagia?”

“Hei.. Bukan begitu Mora. Mora harus selalu di samping mama seperti yang papa pesankan." Ema mengatakan hal itu dengan lembut dan sungguh-sungguh.

"hm.. Ema. Mora boleh minta sesuatu?”, mata Mora menatap ema dengan penuh harap

“Boleh. Apa itu?”, Ema menjawabnya

“Bolehkah kalau Mora merasa rindu hendak  memeluk mama, Mora memeluk Ema saja. Supaya Mama jangan bersedih. Karena Mora yakin, mama tak suka Mora memeluknya” Matanya yang bening berharap

Tetes air mata ema bergulir dari kedua bola matanya.

“Boleh Mora. Sangat boleh. Kapanpun Mora mau, Mora boleh memeluk Ema”

“Terim kasih Ema. Mora juga sayang Ema. Sayang Papa, Sayang Mama. Ema itu yang terbaik buat Mora.”

Dan keduanyapun berpelukan.

 

“Ibu, beberapa hari ini, Mora selalu demam. Dia memaksa tetap masuk sekolah. Tadi saat menjemput Mora, badannya panas Bu. Mora sangat tidak bersemangat”, lapor Ema

"ooo. Kasih obat penurun panas saja, yang ada di kotak obat.  Seperti biasanya. Dia selalu manja dan merepotkan”, Dian menjawab tak peduli

“Iya bu. Sudah saya beri, tetapi panasnya tidak turun-turun bu. Ini sudah jam 10 malam”, Ema tak tahan menjawab ketidakpedulian Bu Dian

“hm. Paling nanti turun juga. Biarkan saja. Saya lelah melihatnya manja seperti itu”, Bu Dian menimpali dan memunggungi Ema

Ema mengangguk dan berlalu. Hatinya tak tenang. Mora demam tinggi. Dia memanggil-manggil nama mamanya dalam lirih tertahankan. Seperti sebuah ketakutan.

“Mora, Mora. Bagaimna rasanya sekarang?”, Ema mengajaknya bicara

“Ema, Mora sakit kepala. Mora merasa sangat dingin.”, kata Mora dengan suara sedikit lemah.

“Ema panggil mama Mora ya”, kata Ema sambil beranjak pergi

“Jangan Ema. Nanti mama sedih. Mora kuat Ema. Mora bisa bangun”, sambil berkata demikian, Mora berusaha bangun dari tidurnya.

“Sudah..sudah.. tak apa Mora. Bobo saja. Ema jaga Mora. Mora mau minum susu? Ema buatkan ya” katanya tak tega melihat gadis cilik itu

“Iya Ema. Terima kasih”

Ema segera menuju dapur. Saat masih di depan pintu Mora memanggilnya

“Ema…”

Ema berhenti menatap wajah mungil anak itu yang dirawatnya sejak bayi

“Mora sayang Ema. Terima kasih sudah jadi mama buat Mora”

Ema berlari ke arahnya, memeluknya kuat-kuat. Badannya dingin. Ema merasa legah. Suhu tubuh Mora sudah turun. Setelah menghabiskan sebotol susu, Mora tertidur pulas saat Ema membacakan dongeng Cinderela untuknya. Ema merasakan betul, Mora tidak bersemangat. Dia hanya terdiam saja. Tidak seperti biasanya.

 

Jam 02.00 dini hari, ibu Dian menjenguk ke dalam kamar Mora. Dipegangnya dahi anaknya, suhu tubuhnya tidak panas. Hatinya sedikit merasa tak enak, namun tiba-tiba dilihatnya little pony itu di situ. Terjatuh di bawah tempat tidur Mora, hatinya kembali dingin.

Boneka pembunuh ini. Yang membuat suamiku meninggal. Aku benci. Benci pada boneka ini. Benci pada Mora yang memaksakan sehingga suamiku harus meregang nyawa. Boneka itu di situ. Dipeluk oleh Mora dengan bahagia. Sedangkan aku harus kehilangan suamiku karenanya.

Ibu Dian berlalu dengan air mata.

Di dalam kamarnya, tangisnya pecah kembali.  Dia marah. Marah pada seluruh situasi. Marah pada hari ulang tahun yang menyakitkan. Pada rengekan Mora yang meminta papanya segera pulang. Pada permintaan Mora tentang kado rahasia. Aaaah.. hatinya kembali terluka.

 

“Ibu..Ibu…. Mora Ibu. Mora” terdengar suara Ema menggedor pintu kamarnya

“Ada apa Ema? Saya capek”

“Mora ibu.. hidungnya berdarah. Diapun muntah dan berdarah.”, Ema dengan gelisah menyampaikan kondisi Mora

“Masa, jangan mengada-ada kamu. Tadi saya ke kamarmu. Suhu tubuhnya normal kok”, ibu Dian kaget mendengar laporan Ema

“Iya bu. Sungguh bu. Mari bu”, Ema sedikit memaksa.

 Bu Dian berlari ke kamar Ema, tempat Mora terbaring. Ada ceceran darah di sana. Bu Dian seperti dikagetkan dari tidur panjang. Tiba-tiba dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Seperti malam itu, saat Santos pergi dan tak pernah kembali lagi. Di peluknya anaknya:

“Mora.. kamu kenapa nak”

Mora terus berkata lirih tak jelas. Ibu Dian bertanya kembali, “Kenapa nak?”

“Maaf. Maafkan Mora mama”, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mungil Mora.

Air mata Bu Dian menetes. Dipeluknya Mora. Hadiah Tuhan yang ia lupakan karena berlarut dalam duka. Mora yang menjadi tanda hadir satu-satunya dari suaminya yang telah pergi. Harta berharga yang ia miliki namun ia sia-siakan oleh egonya. Mora yang selalu menatapnya dari kejauhan dengan tatapan takut. Yang kadang berpura-pura agar menyentuhnya, lalu meminta maaf. Mora itu adalah Mora yang dahulu selalu tak bisa tidur jika belum mencium pipinya. Mora yang ceria.   “Mora, maafkan mama”, Bu Dian histeris berteriak.

Bersama Ema, Mora dilarikan  ke rumah sakit.

 

**

“Mora terkena demam berdarah, bu. Hasil uji lab menunjukkan Trombositnya sangat rendah. Sekarang Mora dalam kondisi kritis.  Untuk sementara agar mendapatkan perawatan intensif, Mora kami rawat di ICU ya bu. Sayang sekali, kenapa sangat terlambat membawanya agar segera mendapatkan pertolongan”, terdengar nada penyesalan dari dokter yang bertugas di UGD

“Iya Pak Dokter. Saya benar-benar menyesal. Tapi Pak Dokter, tolong selamatkan anak saya. Lakukan dengan cara yang terbaik. Berappun biayanya, saya akan bayar", sambil menahan tangis dan sedikit memaksa bu Dian menyampaikan pada Dokter yang merawat Mora.

“Iya bu. Pasti kita akan lakukan yang terbaik. Nanti Pasien akan segera dipindahkan ke ICU”, kata Dokter jaga UGD

“Baik bu. Saya tinggal dulu. Kami mohon doanya agar kami bisa memberikan perawatan terbaik buat anak ibu”, kata dokter melanjutkan.

“Terima kasih Pak dokter”, Bu Dian lirih berkata

 

Banyak selang yang di pasang. Mora Nampak lemah terbaring di ruang ICU. Ema memegang tangannya. Ada sebutir tetes air mata yang jatuh di kedua sudut mata Mora.

"Ema, biarkan saya yang menjaganya. Kamu istirahat dulu”, setengah berbisik, Bu Dian meminta

Ema memberikannya waktu berdua dengan Mora. 

Bu Dian yang kemudian duduk dan memegang tangan anaknya.

“Maafkan mama sayang. Maafkan mama melupakanmu. Maafkan mama yang sibuk memikirkan diri sendiri. Menyalahkan semua orang. Terutama menyalahkanmu. Mora, bertahanlah sayang. Mama sangat menyayangimu. Mama mohon, tetaplah di sini. Biarkan mama memperbaiki semua yang sudah mama buat. Biarkan mama menebusnya sayang”, suara bu Dian lirih

“Mama..mama…”, terdengar suara Mora lirih memanggilnya

Dian mendengatkan telinganya ke bibir  Mora agar bisa mendengarkan dengan baik

“Maafkan Mora, Mama. Mora nakal. Mora tidak tahan dengan sakit. Maafkan Mora membuat mama susah”

Dian berusaha memeluk Mora kuat. “Mora, semua salah mama. Sehatlah sayang. Berjuanglah sayang. Mama akan selalu di sini. Mendampingimu. Mama kan menjagamu sekuat tenaga”, Bu Dian berusaha meyakinkan Mora sambil menahan tangis.

“Mama..maafkan mora. Maafkan Mora, Mama”, lalu Mora terjatuh lunglai tak sadarakan diri. Hiruk pikuk suara peralatan berbunyi

“Suster! Suster! Tolong anak saya, Suster. Tolong Suster”, Bu Dian menjerit melihat keadaan Mora.

Secepat kilat para perawat dan Dokter segera memberikan bantuan tehadap Mora. Ibu Dian terkulai di sudut ruangan terisak

“Mora..maafkan mama. Mora bertahanlah. Mama mohon bertahanlah. Mora. Tuhan sembuhkan anakku. Ampuni aku Tuhan. Ampuni rahim yang mengandung. Tuhan selamatkan anak ku."

***

Mama… Mora sangat menyayangimu mama. Hari ini Mora lihat mama sedih dan menangis di depan foto Papa. Mora sangat sedih. Mora juga rindu papa. Tapi, sepertinya mama jauh lebih merindukan Papa.

Mama, pernah suatu waktu Mora pengen memeluk mama, saat mama tertidur selepas menangis di hari Ulang Tahun Mora yang ke 9. Mora mau bilang, Mama, ini Mora. Mora  ada Mama. Mora akan jaga mama selalu. Mora sayang mama, tapi Mora urungkan niat karena Mora takut akan semkain membuat mama bersedih. Mama jangan takut. Mama jangan sedih lagi. Mora dan Papa selalu menyayangi Mama.  Ma.. Kalau mama rindu Mora, mama boleh memeluk Ema. Sama seperti kalau Mora rindu ingin memeluk mama, mora memeluk Ema. Ma.. Mora tidak akan lelah mengatakan, bahwa Mora sangat mencintai mama. Selamanya. Mama adalah ibu terhebat bagi Mora. Sampai jumpa mama.

 

Di depan pusara dua orang yang sangat mencintainya itu, Ibu Dian membaca kembali curahan hati Mora dalam sebuah surat, yang Mora tulis dan titipkan pada Ema. Sekali lagi air matanya berlinang. Setahun sudah berlalu. Biasanya setiap Hari ulang tahun Mora, Bu Dian selalu mengunjungi pusara suaminya. Ini adalah tahun pertama, bu Dian mengunjungi pusara suami dan anaknya sekaligus.

Hujan bulan November kembali berguguran. Bu Dian tak beranjak. Dia terus terduduk memeluk nisan anaknya. Tak dipedulikan badannya yang mulai kuyup, hingga dirasanya dekapan yang sudah sangat lama ia rindukan. Dekapan hangat suaminya. Hatinya sangat bahagia. Dan ia pun terbang di antara cahaya yang begitu benderang.

 

Ende, 23 Nov 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...