Rumah Baca Sukacita (RBS) adalah salah satu dari banyak impian masa kecil yang saya perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Impian yang terajut begitu saja, disuatu sore, ketika saya duduk di teras rumah sahabat kecil saya, Rizal Mendoza.
Saat itu, saya punya jadwal tetap berkunjung ke rumahnya selain untuk bermain yaitu untuk menikmati Majalah Bobo yang dihantar om Sepeda istimewa (Si om punya 6 jari, yang selalu buat kami kagum). Sesekali saya membaca ditemani sahabat saya yang sibuk bermain gamebot. Dikesempatan lain, saya ditemani Alm. Mama Dina Ngasu. Perempuan hebat yang menyayangi saya seperti anaknya sendiri.
Hobi membaca mengharuskan saya berjuang lebih keras. Kadang rasanya sungkan mau mengatakan saya datang karena mau membaca Kunang-Kunang dan Majalah Bobo. Tetapi, karena mama Dina sudah sangat hafal kebiasaan saya, maka Beliau selalu (menurut saya) sengaja meletakkan bahan bacaan ini di teras kalau sudah dibaca anak laki-laki kesayangannya. (Bahagia di surga, Mama)
Saking sukanya membaca dijaman sulit itu, saya pernah berjuang menabung uang supaya bisa meminjam buku berbayar pada Devi tetangga saya. Dia punya buku anak-anak yang bagus. Satu buku dibayar Rp. 100. Ada yang Rp 150. Dan saya berjuang sekali melakukannya.
Kalau tidak ada uang maka saya bayar rasa ingin membaca saya dengan melahap tabloid Intisari yang sengaja Bapak bawa dari kantor.
Saya baru bisa membeli buku sendiri saat menjadi mahasiswi. Tentu saja setelah berjuang menghemat. Alm Nini, teman kuliah saya adalah adalah teladan super tentang kewajiban membeli buku tiap bulan. Kami rajin mengunjungi Toko Buku. Tetapi kami tidak pernah berani masuk TB. Gramedia kalau sedang tidak diskon. Di TB. Toga Mas kami rajin duduk "talepok", membaca buku yang sudah dilepas dari kemasannya. Biasanya ada 1 eksemplar dari edisi tertentu yang dilepas kemasannya. Tapi jangan berharap kalau itu best seller. Kata Nini, "Dong kunci mati, mbak Evel"
Saya membaca, mengumpulkan buku namun menyimpan impian saya lalu sayapun melupakannya, hingga suatu ketika, Ve Tena (Orang muda bimbingan saya di OMK St. Marinus Puurere) menghubungi saya untuk meminjam buku-buku koleksi pribadi saya dalam giat lapak baca SM3T di Taman Renungan Bung Karno setiap malam Minggu. Mereka meminjam 1 doz buku-buku saya tiap bergiat.
Giat itu lalu menghantar saya diwawancarai Br. Hans untuk kepentingan pemberitaan. Inilah awal bagaimana Semesta mengingatkan impian saya dalam pertanyaan wawancara.
"Kapan mulai mewujudkan mimpi itu, Kak Ev?" Pertanyaan Br Hans seperti sebuah kekuatan yang menggerakan seluruh semangat. Saya bergerak saat itu juga Saya kumpulkan buku-buku saya (yang sangat minim bacaan anak-anak) dan mulai mengatur strategi untuk memulai. Maka kesempatan Semesta siapkan untuk mendukung niat baik. Bulan Oktober, saat semua orang Katolik berkumpul dari rumah ke rumah untuk berdoa Rosario, menjadi waktu yang pas memperkenalkan giat yang saya mulai. 13 Oktober jadwal doa di rumah saya dan saya sampaikan tentang membuka "Rak Buku Woloweku". Orang pertama yang langsung meminjam buku adalah Arol. Pelan-pelan saya mulai bergiat. Saya memberanikan diri mendekati Para suster SMCJ untuk mendapat dukungan. Puji Tuhan, mereka menyampaikan kalau mereka memiliki misi yang sama sehubungan dengan pendampingan pendidikan anak-anak. Betapa bahagianya saya. Saya mulai menyusun kerangka giat saya. Perlahan-lahan sambil melihat potensi yang ada.
Saat itu, Rak Buku Woloweku sempat mau saya ganti dengan nama Taman Bermain Kasih Bunda, karena tiba-tiba saya mulai tidak fokus. Namun syukurlah, Sr. Mensy, SMCJ selalu mengingatkan saya.
Giat perdana kami dihadiri puluhan anak-anak. Itu luar biasa sekali. Saya diberi tempat oleh para suster untuk bergiat di "rumah" mereka. Betapa senangnya. Namun semua terlalu mendadak, maka mendadak juga mereka hilang.
Saya mulai merasa stres karena menurunnya minat. Masih ada anak-anak yang setia. Tetapi saya sibuk melihat kuantitas bukan kualitas. Saya dilanda perasaan gagal yang besar pada awal pergerakan.
Saya sibuk mencari cara mengatasi situasi. Namun belum menemukan yang terbaik. Kegiatan mulai menjadi hambar. Rencana saya terlalu ideal. Saya lupa menyiapkan fondasi yang matang terlebih dahulu.
Dalam kekecewaan saya, Saya disadarkan oleh Arol, Margaret dan teman-temannya yang bahkan dalam hujan bulan November, tetap semangat datang bergiat dalam tema mingguan di Biara SMCJ. Para aspiran mendampingi mereka membaca dan bergiat kreatif seperti origami dan aneka permainan kreatif lainnya.
Arol dan Margaret menyadarkan saya bahwa masih ada harapan bahkan dalam kerunyaman situasi sekalipun.
Saya bangkit dan kembali semangat. Maka mulai berdatangan kembali anak-anak yang mau bergiat dengan demikian permintaan akan bahan bacaan kembali meningkat. Saya kembali didera kecemasan karena ketiadaan buku bacaan anak-anak lagi. Hingga saya melihat kesempatan datang dari kantor Lurah yang memiliki banyak buku bacaan. Lurah lalu mengijinkan saya meminjam buku-buku untuk bergiat. Saya sangat terbantu saat itu. Sayangnya, aturan mewajibkan saya untuk selalu pulang pergi mengantar dan meminjam ulang. Saya tidak berusaha mencari celah meminjam buku untuk bergiat selama sebulan lalu dikembalikan dan pinjam lagi. Entahlah mengapa saat itu. Saya memutuskan berhenti meminjam dari Kelurahan.
Saya lalu mulai mencari bantuan lewat adik saya Helen. Dari dia saya tahu tentang Free Cargo Literacy. Saya berusaha bertanya ke banyak orang dan melalui Ve Tena (sekali lagi) saya mendapat link orang-orang yg berurusan dengan giat ini. Maka mulailah saya mengenal Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Saat masuk dalam lingkaran PBI, saya seperti masuk ke sebuah dunia baru. Tempat di mana saya temukan banyak orang sejak dahulu, bertahun lamanya menggeluti dunia ini. Berjuang demi anak bangsa memperoleh akses buku bacaan bermutu. Mereka bersama membentuk jaringan yang kuat. Saling mendukung dan berbagi. Saling memberikan informasi. Saling menyemangati.
Hari itu, seharian saya membaca semua kiriman di akun PBI dan mulai berjuang masuk dalam lingkaran ini. Yang membuat saya terharu, orang- orang ini adalah orang-orang baik yang menerima orang lain dengan cara terbaik lalu memperlakukan orang lain dengan cara baik juga. Bayangkan saja, mereka begitu cepat menanggapi setiap pertanyaan, menunjukkan kepedulian dan setia memberi kekuatan serta jalan keluar. Mereka menyemangati saat ada yang mulai lelah. Semua orang bisa bercerita apa saja. Lingkaran kebaikan ini menarik saya ke dalamnya. Membuka mata saya untuk terus menyadari bahwa saya tidak sendirian. Ada banyak orang yang mempunyai impian dan tekad yang sama. Di PBI-lah saya berkenalan dengan seorang Oma hebat, yang setia berjuang membagikan buku-buku ke banyak orang. Oma Mathilda Mey namanya. Dari oma inilah, semangat pantang menyerah saya pelajari. Saya ikuti cerita beliau setiap tanggal menuju 17 dalam bulan. Bagaiman beliau semangat menghantar paketan buku ke seluruh penjuru Indonesia melaui Kantor Pos Indonesia. Seperti para donatur lainnya, mereka tidak membuat aturan yang macam-macam untuk berbagi kebaikan. Saya ikut masuk dalam daftar penerima paketan dari Beliau. Saya bahagia bercampur bangga.
Dalam perjalanan ini, Saya lalu mulai diarahkan untuk bertemu dengan pegiat dalam radius terdekat/terjangkau. Lewat Mbak Eni Pustaka Pelangi saya bertemu Mbak Iin dari RB. Mustika yang sampai sekarang menjadi sahabat seperjuangan di Forum Giat Literasi Ende. Dari mbak Eni pula saya berkenalan dengan Komunitas 1001 Buku. Berkenalan dengan mbak Dilla yang sangat baik hati yang hingga kini selalu tak lupa memberikan info terbaru tentang apa saja sehingga membantu saya untuk terus belajar. Begitulah bagaiman saya masuk dalam jaringan giat ini.
Nama Rumah Baca Sukacita
Sejarah nama Rumah Baca Sukacita sendiri berawal dari bulan Desember, minggu ke 3 di tahun 2018. Ceritanya sederhana dan terjadi begitu saja. Sebelumnya saya berencana memberi nama giat ini dalam bahasa daerah. Tapi sungguh tidak mendapat yang cocok. Entahlah. Rasanya tak ada yang pas. Hingga perayaan Minggu Gaudette tiba dan dengan sederhana saja nama itu saya pilih karena saya suka dengan kata itu. Saya merasa itu yang saya inginkan. Giat ini mendatangkan Sukacita tidak saja buat saya tapi buat banyak orang lainnya. Maka Rumah Baca Sukacita adalah nama yang saya pilih. Luar biasanya, makin ke sini makin saya merasa nama ini nama yang hebat.
Bersama Rumah Baca Sukacita (RBS) saya bertemu sosok-sosok hebat seperti Umi Sri Wahyuni, Mama Iis Beribe, Om Nando Watu, Dicky Senda, Kak Adi Cahyadi, Om Kris. Saya juga bertemu Ertyn, Im, Kak lin, Petra, Erlyn yang kemudian menjadi relawan RBS.
Saya menemukan semakin banyak orang-orang dalam frekuensi yang sama. Bidang pilihan minat kami berbeda tetapi kami berada dalam lingkaran kebaikan yang sama. Kami saling mendukung. Melebarkan jaringan di antara kami. Terus berjuang menjadi masyarakat aktif yang berguna, agen perubahan dalam lingkungan masyarakat kami masing-masing.
Forum Giat Literasi Kab. Ende: Wadah berekspresi
Jaringan kebaikan ini terus melebar dan saya lalu dihantar untuk bertemu dengan gudangnya pengalaman hidup dan ilmu praktis, Taman Bacaan Pelangi melalui ajakan mbak Iin dari Rumah Baca Mustika. Dalam perkembangan selanjutnya, RBS mendapat banyak kebaikan lewat komitmen luar biasa TB. Pelangi yang membantu dan mendukung pergerakan para pegiat literasi Ende. Berbagai workshop dibuat untuk menambah keterampilan para pegiat. Kami bahkan diberi kesempatan untuk berlatih dongeng bersama kak Aryo dari Ayo Dongeng Indonesia. Luar biasa. Terima kasih TB. Pelangi.
Masih jelas dalam ingatan saya, kegiatan pertama bersama TB. Pelangi telah mempertemukan saya dengan mbak Nilla Tanzil, sosok inspiraif yang memiliki semangat menggerakkan luar biasa. Beliaulah founder TB Pelangi. Perempuan cerdas Yang memberi banyak perhatian pada perkembangan literasi Indonesia Timur.
Itulah awal saya mulai bertemu hampir semua pegiat di Kabupaten Ende. Teman-teman pejuang yang tahan banting. Punya sejuta ide yang dengan apik mereka eksekusi. Mereka bergerak tanpa menantikan apresiasi dan jauh dari pengakuan. Terus bergerak karena yang mereka kejar adalah pencapaian realistis. Membaca bukan sekedar hobi tetapi menjadi sebuah kebutuhan. Anak-anak menjadi sasaran utama giat. Yang mereka bentuk adalah generasi. Dari merekalah saya belajar semua ini. Say bahagia karena lalu bisa menjadi bagian dari forum yang kami sebut : Forum Giat Literasi Kab. Ende. Di forum ini semua saling membantu. Setiap giat dari tiap komunitas yang bergabung mendapat dukungan penuh dari komunitas lainnya. Kebersamaan menjadikan kami menyatu sebagai sebuah keluarga. Tahun ini, tahun berlumur kesedihan. Dalam kurang dari 40 hari, kami kehilangan teman seperjuangan. Alm. Nadia dan Alm. Frando Soi (Pendiri Pley Pustaka). Berbahagialah di surga, teman.
DONASI BUKU
Mendaftar di Pustaka Bergerak Indonesia dan masuk dalam komunitas 1001Buku membuat donasi buku mulai mengalir. Tiap kali mendapat donasi, perasaan bahagia itu pasti muncul. Apalagi saat mulai membuka paket donasi, hati saya disesaki oleh haru. Saya melihat begitu banyak buku-buku yang selalu jadi impian saya. Saya pernah suatu waktu menghabiskan 30lebih majalah Bobo saat majalah itu tiba. Kalap rasanya. Saya membaca sambil menangis.
Betapa sulitnya masa yang lalu. Saya bahagia bisa memenuhi kebutuhan anak-anak akan bacaan bermutu yang sulit ditemukan di Ende karena akses yang tidak mudah. Saya bahagia karena RBS bisa menjadi rumah tempat anak-anak memulai petualangan mereka lewat buku.
Sayang, banjir buku lewat program FCL hanya bisa saya alami 3 bulan. Regulasi lalu berubah maka dahaga buku mulai kembali terasa. Saya berjuang dengan membeli buku-buku bekas. Namun perlahan berhenti meminta donasi karena ongkos kirim yang sangat mahal. Dalam dahaga itu, selalu ada orang baik ditiap hal baik yang kita buat. Para donatur tetap setia mengirimkan buku walau biaya ongkir selalu jauh lebih mahal dari harga buku.
Giat Lintas Batas
Giat RBS mulai keluar dari pagar Woloweku setelah kami terlibat dalam perhelatan Tri Warna Soccer Festival Ende. 2 stan jadi tempat RBS bergiat di fasilitasi oleh Panitia Seksi Pameran yang adalah seksi yang dibidangi Umi Sri. Perempuan hebat yang saya jumpai dalam kegiatan ACSE Ende. Setiap hari puluhan anak datang. Bahkan sejak stan belum dibuka. Hingga stan kami tutup secara paksa. 🤭
Mereka memenuhi stan kami dengan berbagai tema kegiatan yang kami sajikan. Saat itu saya mulai mengenal jiwa tahan banting relawan perdana RBS. Kami berjalan bahkan berlari dengan ritme yang sama. Kami terus bergerak. Dan kami bahagia.
Relawan lain mulai berdatangan. Para Suster SMCJ tetap setia mendampingi dari awal. Kami bertambah banyak. Adik saya yang selalu bersama saya mendampingi orang muda, mulai ikut giat ini selepas putri kecilnya berusia 2 tahun. Ulang tahun putrinya kami jadikan pesta literasi. Dan kami mulai giat bersama. Teman-teman mengambil porsinya masing-masing. Bergiat sesuai minat mereka. Setahun yang lalu, menuju 1 tahun RBS kami giatkan Dongeng Bergerak. Kami pergi ke banyak sekolah setiap sabtu dan komunitas anak Sekami setiap hati Minggu untuk membagikan sukacita bercerita dan mengenalkan sukacita membaca. Giat itu semakin menyatukan kami. Saya sadar, kalau dahulu impian saya jika saya memiliki banyak uang, saya akan membuka perpustakaan. Ternyata tidak harus punya banyak uang. Yang penting banyak semangat, ketekunan dan kerja keras.
Giat di Masa Sulit Pandemi Covid19
Saat pandemi covid19, kami membatasi aktivitas di Rumah Baca Sukacita. Kami mulai giat daring dengan berbagai metode yang kami bisa. Anak-anak hanya boleh meminjam dan mengantar buku. Tidak ada giat bersama. Atas permintaan teman, kami membuat kanal Youtube untuk berbagi cerita. Nama akunnya Rumah Baca Sukacita Ende. Silahkan mampir.
Dukungan pembuatannya datang dari adik saya Itok Aman yang selalu Setia memberi saran agar RBS terus berbenah. Kaka suster saya, Sr. Alvaresta,, P. Karm mengirimkan jingle RBS ciptaannya sendiri dan Helen membuat gerakan tariannya. Pak Guru di Papua membuatkan logo RBS. Semua orang bersekongkol membantu kami mati-matian.
Relawan mulai menciptakan tema-tema unik setiap bulan dalam aksi Literasi Sukacita kami.
Beberapa kali kelas menulis dibuka. Pak Eto Kwuta membantu kami mendampingi sahabat Sukacita dalam menulis. Namun kami hentikan giat ini sejenak karena kondisi pandemi yang makin memburuk. Semoga bisa dilanjutkan kembali.
RBS juga mendapat dukungan dari Gereja Lokal. Para Suster FCJ dan dari Komunitas CMF Puurere.
Kami terus dibantu dalam banyak kesulitan.
Tanggal 13 Oktober , kami kenangkan kembali semua perjuangan kami, mengingat orang-orang yang mendukung kami. Mereka-mereka yang selalu Setia memberikan semangat.
Terima kasih untukmu semua yang dengan caramu masing-masing telah ikut mendukung kami berbagi ilmu berbagi sukacita. Semoga Tuhan membalas semua niat baikmu semua. Terima kasih tetap setia mengikuti perkembangan RBS. Terima kasih telah ikut membagikan semangat ini ke lebih banyak orang. Doakan kami, semoga kami terus bertumbuh dan terus menjadi lentera yang bersinar dalam sukacita.
Selanjutnya, bagi Bapa/Mama, kenalan semuanya, jika berminat berdonasi untuk giat kami, kamo siap terima segala bentuk bantuan material/barang.
Buku, permainan edukatif, perlengkapan, perangkat komputer, rak buku, alat tulis dan alat gambar.
Donasi bisa dikirimkan ke alamat berikut:
Rumah Baca Sukacita
UP. Ibu Evelyn Sare
Jln. Prof WZ Yohanes
(Depan Kantor LBK Ende)
Rt. 003/RW 001
Kel. Rewarangga Selatan
Kec. Ende Timur
Kab. Ende
Provinsi NTT
Kode Pos : 86361
No HP : 082237617692.
Salam RBS: Berbagi ilmu, berbagi sukacita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar