Senin, 28 Desember 2020

Katakan Kau Sayang Padaku

Anakku, ijinkan mama bercerita
Cerita ini  tentang kita
Sejak hari itu
ketika degup jantungmu menggetarkan tubuhku
Dan nafasmu menyatu dalam nafasku

Kala itu, 
tak pernah aku mengeluh oleh lelah
pun tak pernah aku letih oleh ketaknyamanan
Memilikimu sudah terlalu membuat aku bahagia

Lalu dalam sebuah perjuangan hebat
Kau lahir ke dunia
Bening bola matamu melunturkan nyeri yang menggerogoti ragaku
Ya, rinduku terbayar
Kita berjumpa dan kau menamgis sejadi-jadinya dalam pelukanku
Selepas 9 purnama kau mukim di rahimku

Kita menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia
Ada aku, ibumu
Ada papamu 
dan tentu saja ada kamu, buah cinta kami.

Tahun berlalu
Aku mulai merindukanmu memanggilku mama
Atau memanggil Papa pada Papamu
Aku rindu kau bisa berjalan
Tertatih dalam genggamanku
Hingga aku mulai merasa
Ada yang berbeda sayang

Kau istimewa, putriku
diberikan Tuhan untuk kami dengan istimewa
Memurnikan cinta kami padamu dan Ilahi pencipta
Menempa iman kami yang kadang gagal oleh keegoan manusiawi kami. 

Kau berbicara padaku dengan matamu
Kau luluh dalam pelukanku untuk mengatakan kerinduan jika aku terlalu sibuk di kantor

Maka hari-hari istimewa kita dimulai
Mata ku selalu memandangmu
Tanganku selalu menggandeng dan  memelukmu
Lutut ku bertelut untuk mu
Hatiku dipenuhi cinta untukmu

Sesekali mama termenung melihat teman seumuranmu
Mereka meniti cita,
bersekolah menuntut ilmu
Namun ketika memandangmu,
Mama tahu, Dirimu  adalah sekolah bagi kami semua

Dan aku, mamamu.. tetap memcintaimu sayang
Semakin bertambah
Tak  berkurang
Tak pernah sekalipun mama menyesali kehadiranmu, putri manisku. 
Mama bahkn semakin mencintaimu
Kau menjadi alasan bagi Mama, untuk kuat bertahan. 

Bola matamu berlumur  kata
Bibirmu  mungil sesekali tersenyum memandang mama
Tangan dan kakimu yang terus bergerak
Sayang... apa yang kau pikirkan?
Bolehkah Mama tahu??
Dan kalau Ade mau tahu,
Mama dan Papa semakin jatuh cinta padamu.

Sesekali mama meminta perhatian lebih dari Tuhan
Agar IA sudi memberi mama kesempatan
Mendengarmu memanggil nama mama dari mulut mungilmu

Tapi Putriku, kau tahu
Tuhan kadang sulit diajak kompromi
seperti ketika hari itu
di awal tahun 2020
Dia memanggilmu kembali
Di bawah guyuran hujan, air mata mama berderai.
Dalam pelukan Mama dan Papa jiwamu terbang
Kembali pada Semesta. 
Mama belum rela sayang.
Mama minta ade bisa bersama mama, lebih lama lagi. 
Jangan dulu sekarang
Ini baru tahun ke 13 sayang
Mengapa sekarang, sayang???

Mama masih punya banyak waktu untuk menjaga dan merawatmu, sayang. 
Tangan mama masih kuat menggendongmu
Kaki mama masih mampu menopangmu
Cinta mama masih belum tuntas mama berikan
Tapi Tuhan tak bergeming.
Tuhan tetap mengambilmu dari Mama
Mengambil separuh jiwa mama
Mengambilmu, kekuatan Mama
Saat itu, mama hanya mampu memeluk tubu kakumu.
Tubuh gadis kecilku sayang.
Yang kubesarkan dalam cinta penuh iman

Ade...Mama sayang padamu.
Katakan Kau sayang padaku. 



*Ende, awal 2020
Catatan hati ini 
untuk yang terkasih,  ananda Grace Lori
Selamat jalan Grace kami tercinta
Gadis kecilku
Malaikat tak bersayap kami
Kekuatan dan harapan kami
Doa-doa kami.
Sungguh!
Mulai kini, 
Rindu ini akan abadi. 

Kamis, 24 Desember 2020

Bayi Kesepian


Seorang anak berdiri di depan sebuah gereja
Sedang orang-orang dewasa berdandan hilir mudik menuju gereja
"Apakah hari ini Natal?", Ia bertanya
"Ya! ", jawab seorang perempuan muda. 
"Kami hendak mengikuti perayaan Natal", kata seorang Bapak yang lain.  
Si anak lalu menangis tersedu
Mengingat sang bayi kesepian 
Corona belum berlalu
Tak ada yang akan mengunjunginya.  

Cerita Perjalanan Rumah Baca Sukacita di Tahun ke-2

Rumah Baca Sukacita (RBS) adalah salah satu dari banyak impian masa kecil yang saya perjuangkan dengan sungguh-sungguh.  Impian yang terajut begitu saja,  disuatu sore,  ketika saya duduk di teras rumah sahabat kecil saya,  Rizal Mendoza. 
Saat itu,  saya punya jadwal  tetap berkunjung ke rumahnya selain untuk bermain yaitu untuk menikmati Majalah Bobo yang dihantar om Sepeda istimewa (Si om punya 6 jari, yang selalu buat kami kagum). Sesekali saya membaca ditemani sahabat saya yang sibuk bermain gamebot.  Dikesempatan lain,  saya ditemani Alm. Mama Dina Ngasu. Perempuan hebat yang menyayangi saya seperti anaknya sendiri.  

Hobi membaca mengharuskan saya berjuang lebih keras. Kadang rasanya sungkan mau mengatakan saya datang karena mau membaca Kunang-Kunang dan Majalah Bobo.  Tetapi,  karena mama Dina sudah sangat hafal kebiasaan saya,  maka Beliau selalu (menurut saya)  sengaja meletakkan bahan bacaan ini di teras kalau sudah dibaca anak laki-laki kesayangannya. (Bahagia di surga,  Mama) 
Saking sukanya membaca dijaman sulit itu,  saya pernah berjuang menabung uang supaya bisa meminjam buku berbayar pada Devi  tetangga saya.  Dia punya buku anak-anak yang bagus.  Satu buku dibayar Rp.  100. Ada yang Rp 150. Dan saya berjuang sekali melakukannya. 
Kalau tidak ada uang maka  saya bayar rasa ingin membaca saya dengan melahap tabloid Intisari yang sengaja Bapak bawa dari kantor.  

Saya baru bisa membeli buku sendiri saat menjadi mahasiswi. Tentu saja setelah berjuang menghemat.  Alm Nini, teman kuliah saya adalah adalah teladan super tentang kewajiban membeli buku tiap bulan. Kami rajin mengunjungi Toko Buku.  Tetapi kami tidak pernah berani masuk TB.  Gramedia kalau sedang tidak diskon.  Di TB.  Toga Mas kami rajin duduk "talepok",  membaca buku yang sudah dilepas dari kemasannya.  Biasanya ada 1 eksemplar dari edisi tertentu yang dilepas kemasannya.  Tapi jangan berharap kalau itu best seller.  Kata Nini,  "Dong kunci mati,  mbak Evel"

Saya membaca,  mengumpulkan buku namun menyimpan impian saya lalu sayapun melupakannya,  hingga suatu ketika,  Ve Tena (Orang muda bimbingan saya di OMK St. Marinus Puurere)  menghubungi saya untuk meminjam buku-buku koleksi pribadi saya dalam giat lapak baca SM3T di Taman Renungan Bung Karno setiap malam Minggu.  Mereka meminjam 1 doz buku-buku saya tiap bergiat.  
Giat itu lalu menghantar saya diwawancarai Br. Hans untuk kepentingan pemberitaan.  Inilah awal bagaimana Semesta mengingatkan impian saya dalam pertanyaan wawancara.
"Kapan mulai mewujudkan mimpi itu,  Kak Ev?" Pertanyaan Br Hans seperti sebuah kekuatan yang menggerakan seluruh semangat. Saya bergerak saat itu juga Saya kumpulkan buku-buku saya (yang sangat minim bacaan anak-anak)  dan mulai mengatur strategi untuk memulai.  Maka kesempatan Semesta siapkan untuk mendukung niat baik.  Bulan Oktober,  saat semua orang Katolik berkumpul dari rumah ke rumah untuk berdoa Rosario, menjadi waktu yang pas memperkenalkan giat yang saya mulai. 13 Oktober jadwal doa di rumah saya dan saya sampaikan tentang membuka "Rak Buku Woloweku". Orang pertama yang langsung meminjam buku adalah Arol.  Pelan-pelan saya mulai bergiat.  Saya memberanikan diri mendekati Para suster SMCJ untuk mendapat dukungan. Puji Tuhan,  mereka menyampaikan kalau mereka memiliki misi yang sama sehubungan dengan pendampingan pendidikan anak-anak.  Betapa bahagianya saya.  Saya mulai menyusun kerangka giat saya.  Perlahan-lahan sambil melihat potensi yang ada.  
Saat itu,  Rak Buku Woloweku sempat mau saya ganti dengan nama Taman Bermain Kasih Bunda,  karena tiba-tiba saya mulai tidak fokus.  Namun syukurlah,  Sr.  Mensy,  SMCJ selalu mengingatkan saya.  

Giat perdana kami dihadiri puluhan anak-anak.  Itu luar biasa sekali. Saya diberi tempat oleh para suster untuk bergiat di "rumah" mereka. Betapa senangnya.  Namun semua terlalu mendadak,  maka mendadak juga mereka hilang.  
Saya mulai merasa stres karena menurunnya minat.  Masih ada anak-anak yang setia.  Tetapi saya sibuk melihat kuantitas bukan kualitas.  Saya dilanda perasaan gagal yang besar pada awal pergerakan. 

Saya sibuk mencari cara mengatasi situasi.  Namun belum menemukan yang terbaik.  Kegiatan mulai menjadi hambar.  Rencana saya terlalu ideal.  Saya lupa menyiapkan fondasi yang matang terlebih dahulu.  
Dalam kekecewaan saya,  Saya disadarkan oleh  Arol,  Margaret dan teman-temannya yang bahkan dalam hujan bulan November,  tetap semangat datang bergiat dalam tema mingguan di Biara SMCJ.  Para aspiran mendampingi mereka membaca dan bergiat kreatif seperti origami dan aneka permainan kreatif lainnya. 
Arol dan Margaret menyadarkan saya bahwa masih ada harapan bahkan dalam kerunyaman situasi sekalipun.  
Saya bangkit dan kembali semangat. Maka mulai berdatangan kembali anak-anak yang mau bergiat dengan demikian permintaan akan bahan bacaan kembali meningkat. Saya kembali didera kecemasan karena ketiadaan buku bacaan anak-anak lagi. Hingga saya melihat kesempatan datang dari kantor Lurah yang memiliki banyak buku bacaan.  Lurah lalu mengijinkan saya meminjam buku-buku untuk bergiat.  Saya sangat terbantu saat itu. Sayangnya,  aturan mewajibkan saya untuk selalu pulang pergi mengantar dan meminjam ulang. Saya tidak berusaha mencari celah meminjam buku untuk bergiat selama sebulan lalu dikembalikan dan pinjam lagi.  Entahlah mengapa saat itu. Saya memutuskan berhenti meminjam dari Kelurahan. 

Saya lalu mulai mencari bantuan lewat adik saya Helen.  Dari dia saya tahu tentang Free Cargo Literacy.  Saya berusaha bertanya ke banyak orang dan melalui Ve Tena (sekali lagi)  saya mendapat link orang-orang yg berurusan dengan giat ini.  Maka mulailah saya mengenal Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Saat masuk dalam lingkaran PBI,  saya seperti masuk ke sebuah dunia baru.  Tempat di mana saya temukan banyak orang sejak dahulu,  bertahun lamanya menggeluti dunia ini.  Berjuang demi anak bangsa memperoleh akses buku bacaan bermutu. Mereka bersama membentuk jaringan yang kuat. Saling mendukung dan berbagi.  Saling memberikan informasi.  Saling menyemangati.  

Hari itu,  seharian saya  membaca semua kiriman di akun PBI dan mulai berjuang masuk dalam lingkaran ini.  Yang membuat saya terharu,  orang- orang ini adalah orang-orang baik yang menerima orang lain dengan cara terbaik lalu memperlakukan orang lain dengan cara baik juga.  Bayangkan saja,  mereka begitu cepat menanggapi setiap pertanyaan,  menunjukkan kepedulian dan setia memberi kekuatan serta jalan keluar.  Mereka menyemangati saat ada yang mulai lelah.  Semua orang bisa bercerita apa saja.  Lingkaran kebaikan ini menarik saya ke dalamnya. Membuka mata saya untuk terus menyadari bahwa saya tidak sendirian.  Ada banyak orang yang mempunyai impian dan tekad yang sama. Di PBI-lah  saya berkenalan dengan seorang Oma hebat,  yang setia berjuang membagikan buku-buku ke banyak orang. Oma Mathilda Mey namanya. Dari oma inilah,  semangat pantang menyerah saya pelajari. Saya ikuti cerita beliau setiap tanggal menuju 17 dalam bulan.  Bagaiman beliau semangat menghantar paketan buku ke seluruh penjuru Indonesia melaui Kantor Pos Indonesia. Seperti para donatur lainnya,  mereka tidak membuat aturan yang macam-macam untuk berbagi kebaikan.  Saya ikut masuk dalam daftar penerima paketan dari Beliau.  Saya bahagia bercampur bangga.  

Dalam perjalanan ini,  Saya lalu mulai diarahkan untuk bertemu dengan pegiat dalam radius terdekat/terjangkau.  Lewat Mbak Eni Pustaka Pelangi saya bertemu Mbak Iin dari RB. Mustika yang sampai sekarang menjadi sahabat seperjuangan di Forum Giat Literasi Ende. Dari mbak Eni pula saya berkenalan dengan Komunitas 1001 Buku.  Berkenalan dengan mbak Dilla yang sangat baik hati yang hingga kini selalu tak lupa memberikan info terbaru tentang apa saja sehingga membantu saya untuk terus belajar. Begitulah bagaiman saya masuk dalam jaringan giat ini.  

Nama Rumah Baca Sukacita 

Sejarah nama Rumah Baca Sukacita sendiri berawal dari bulan Desember,  minggu ke 3 di tahun 2018. Ceritanya sederhana dan terjadi begitu saja. Sebelumnya saya berencana memberi nama giat ini dalam bahasa daerah.  Tapi sungguh tidak mendapat yang cocok.  Entahlah.  Rasanya tak ada yang pas.  Hingga perayaan Minggu Gaudette tiba dan dengan sederhana saja nama itu saya pilih karena saya suka dengan kata itu.  Saya merasa itu yang saya inginkan.  Giat ini mendatangkan Sukacita tidak saja buat saya tapi buat banyak orang lainnya.  Maka Rumah Baca Sukacita adalah nama yang saya pilih.  Luar biasanya,  makin ke sini makin saya merasa nama ini nama yang hebat.

Bersama Rumah Baca Sukacita (RBS) saya bertemu  sosok-sosok hebat seperti Umi Sri Wahyuni,  Mama Iis Beribe,  Om Nando Watu,  Dicky Senda,  Kak Adi Cahyadi,  Om Kris.  Saya juga bertemu Ertyn,  Im,  Kak lin,  Petra,  Erlyn yang kemudian menjadi relawan RBS. 
Saya menemukan semakin banyak orang-orang dalam frekuensi yang sama.  Bidang pilihan minat kami berbeda tetapi kami berada dalam lingkaran kebaikan yang sama. Kami saling mendukung. Melebarkan jaringan di antara kami.  Terus berjuang menjadi masyarakat aktif yang berguna,  agen perubahan dalam lingkungan masyarakat kami masing-masing.  

Forum Giat Literasi Kab.  Ende: Wadah berekspresi

Jaringan kebaikan ini terus melebar dan saya lalu dihantar untuk bertemu dengan gudangnya pengalaman hidup dan ilmu praktis,  Taman Bacaan Pelangi melalui ajakan mbak Iin dari Rumah Baca Mustika. Dalam perkembangan selanjutnya,  RBS mendapat banyak kebaikan lewat komitmen luar biasa TB.  Pelangi yang membantu dan mendukung pergerakan para pegiat literasi Ende.  Berbagai workshop dibuat untuk menambah keterampilan para pegiat.  Kami bahkan diberi kesempatan untuk berlatih dongeng bersama kak Aryo dari Ayo Dongeng Indonesia.  Luar biasa.  Terima kasih TB.  Pelangi.  
Masih jelas dalam ingatan saya,  kegiatan pertama bersama TB.  Pelangi telah mempertemukan saya dengan mbak Nilla Tanzil,  sosok inspiraif yang  memiliki semangat menggerakkan luar biasa.  Beliaulah founder TB Pelangi.  Perempuan cerdas Yang memberi banyak perhatian pada perkembangan literasi Indonesia Timur.  
 Itulah awal saya mulai bertemu hampir semua pegiat di Kabupaten Ende. Teman-teman pejuang yang tahan banting.  Punya sejuta ide yang dengan apik mereka eksekusi.  Mereka bergerak tanpa menantikan apresiasi dan jauh dari pengakuan.  Terus bergerak karena yang mereka kejar adalah pencapaian realistis.  Membaca bukan sekedar hobi tetapi menjadi sebuah kebutuhan.  Anak-anak menjadi sasaran utama giat.  Yang mereka bentuk adalah generasi.  Dari merekalah saya belajar semua ini.  Say bahagia karena lalu bisa menjadi bagian dari forum yang kami sebut : Forum Giat Literasi Kab.  Ende. Di forum ini semua saling membantu.  Setiap giat dari tiap komunitas yang bergabung mendapat dukungan penuh dari komunitas lainnya.  Kebersamaan menjadikan kami menyatu sebagai sebuah keluarga. Tahun ini,  tahun berlumur kesedihan.  Dalam kurang dari 40 hari,  kami kehilangan teman seperjuangan.  Alm.  Nadia dan Alm.  Frando Soi (Pendiri Pley Pustaka). Berbahagialah di surga,  teman. 

DONASI BUKU
Mendaftar di Pustaka Bergerak Indonesia dan masuk dalam komunitas 1001Buku membuat donasi buku mulai mengalir.  Tiap kali mendapat donasi, perasaan bahagia itu pasti muncul. Apalagi saat mulai membuka paket donasi, hati saya disesaki oleh haru.  Saya melihat begitu banyak buku-buku yang selalu jadi impian saya.  Saya pernah suatu waktu menghabiskan 30lebih majalah Bobo saat majalah itu tiba. Kalap rasanya.  Saya membaca sambil menangis.  
Betapa sulitnya masa yang lalu.  Saya bahagia bisa memenuhi kebutuhan anak-anak akan bacaan bermutu yang sulit ditemukan di Ende karena akses yang tidak mudah.  Saya bahagia karena RBS bisa menjadi rumah tempat anak-anak memulai petualangan mereka lewat buku.

Sayang,  banjir buku lewat program FCL hanya bisa saya alami 3 bulan.  Regulasi lalu berubah maka dahaga buku mulai kembali terasa.  Saya berjuang dengan membeli buku-buku bekas.  Namun perlahan berhenti meminta donasi karena ongkos kirim yang sangat mahal.  Dalam dahaga itu,  selalu ada orang baik ditiap hal baik yang kita buat.  Para donatur tetap setia mengirimkan buku walau biaya ongkir selalu jauh lebih mahal dari harga buku.

Giat Lintas Batas

Giat RBS mulai keluar dari pagar Woloweku setelah kami terlibat dalam perhelatan Tri Warna Soccer Festival Ende.  2 stan jadi tempat RBS bergiat di fasilitasi oleh Panitia Seksi Pameran yang adalah seksi yang dibidangi Umi Sri. Perempuan hebat yang saya jumpai dalam kegiatan ACSE Ende.  Setiap hari puluhan anak datang.  Bahkan sejak stan belum dibuka.  Hingga stan kami tutup secara paksa.  🤭
Mereka memenuhi stan kami dengan berbagai tema kegiatan yang kami sajikan.  Saat itu saya mulai mengenal jiwa tahan banting relawan perdana RBS.  Kami berjalan bahkan berlari dengan ritme yang sama.  Kami terus bergerak. Dan kami bahagia.

Relawan lain mulai berdatangan.  Para Suster SMCJ tetap setia mendampingi dari awal.  Kami bertambah banyak.  Adik saya yang selalu bersama saya mendampingi orang muda,  mulai ikut giat ini selepas putri kecilnya berusia 2 tahun.  Ulang tahun putrinya kami jadikan pesta literasi.  Dan kami mulai giat bersama.  Teman-teman mengambil porsinya masing-masing.  Bergiat sesuai minat mereka.  Setahun yang lalu,  menuju 1 tahun RBS kami giatkan Dongeng Bergerak.  Kami pergi ke banyak sekolah setiap sabtu dan komunitas anak Sekami setiap hati Minggu untuk membagikan sukacita bercerita dan mengenalkan sukacita membaca. Giat itu semakin menyatukan kami. Saya sadar, kalau dahulu impian saya jika saya memiliki banyak uang, saya akan membuka perpustakaan. Ternyata tidak harus punya banyak uang. Yang penting banyak semangat, ketekunan dan kerja keras. 

Giat di Masa Sulit Pandemi Covid19

Saat pandemi covid19, kami membatasi aktivitas di Rumah Baca Sukacita.  Kami mulai giat daring dengan berbagai metode yang kami bisa.  Anak-anak hanya boleh meminjam dan mengantar buku.  Tidak ada giat bersama. Atas permintaan teman,  kami membuat kanal Youtube untuk berbagi cerita.  Nama akunnya Rumah Baca Sukacita Ende.  Silahkan mampir.  
Dukungan pembuatannya datang dari adik saya Itok Aman yang selalu Setia memberi saran agar RBS terus berbenah.  Kaka suster saya,  Sr. Alvaresta,, P. Karm mengirimkan jingle RBS ciptaannya sendiri dan Helen membuat gerakan tariannya.  Pak Guru di Papua membuatkan logo RBS. Semua orang bersekongkol membantu kami mati-matian.
Relawan mulai menciptakan tema-tema unik setiap bulan dalam aksi Literasi Sukacita kami.  
Beberapa kali kelas menulis dibuka.  Pak Eto Kwuta membantu kami mendampingi sahabat Sukacita dalam menulis.  Namun kami hentikan giat ini sejenak karena kondisi pandemi yang makin memburuk.  Semoga bisa dilanjutkan kembali.  

RBS juga mendapat dukungan dari Gereja Lokal.  Para Suster FCJ dan dari Komunitas CMF Puurere.  
Kami terus dibantu dalam banyak kesulitan.

Tanggal 13 Oktober ,  kami kenangkan kembali semua perjuangan kami,  mengingat orang-orang yang mendukung kami.  Mereka-mereka yang selalu Setia memberikan semangat. 
Terima kasih untukmu semua yang dengan caramu masing-masing telah ikut mendukung kami berbagi ilmu berbagi sukacita. Semoga Tuhan membalas semua niat baikmu semua.  Terima kasih tetap setia mengikuti perkembangan RBS.  Terima kasih telah ikut membagikan semangat ini ke lebih banyak orang.  Doakan kami,  semoga kami terus bertumbuh dan terus menjadi lentera yang bersinar dalam sukacita.

Selanjutnya,  bagi Bapa/Mama,  kenalan semuanya,  jika berminat berdonasi untuk giat kami,  kamo siap terima segala bentuk bantuan material/barang.  
Buku,  permainan edukatif,  perlengkapan,  perangkat komputer,  rak buku,  alat tulis dan alat gambar.  
Donasi bisa dikirimkan ke alamat berikut:  
Rumah Baca Sukacita 
UP. Ibu Evelyn Sare
Jln. Prof WZ Yohanes 
(Depan Kantor LBK Ende) 
Rt. 003/RW 001 
Kel. Rewarangga Selatan 
Kec. Ende Timur 
Kab. Ende 
Provinsi NTT 
Kode Pos : 86361 
No HP : 082237617692.

Salam RBS: Berbagi ilmu,  berbagi sukacita. 

Sabtu, 19 Desember 2020

Little Pony


“Diam! Diam! Jangan menangis. Kamu membuat Mama pusing. Sangat pusing. Ema, Ema, ambil anak ini. Saya tidak tahan mendengar rengekannya”, Bu Dian berteriak dari dalam kamar

“Mama..Mama…Mama…Mama”, suara tangisan seorang anak kecil  pecah disenja itu

“Ema, Ema. Duh ke mana sih Ema ini?” Bu Dian menggerutu memanggil pengasuh anaknya

Tergopoh-gopoh Ema berlari dari arah dapur ke kamar sumber suara tangisan itu.

“Ibu maaf. Saya sedang menyiapkan makan buat Mora. Ayo Mora. Mari Ema gendong”. Ema membujuk Mora, gadis kecil, putri tunggal ibu Dian yang berumur  9 tahun yang terus menerus menangis merengek-rengek.

“Tidak mau Ema. Mora mau sama Mama. Mora mau mama”. Mora menolak hendak digendong oleh Ema

“Ayo sayang” Ema sedikit memaksa Mora lalu menggendongnya dan beranjak ke dapur. Sekilas ditatapnya punggung ibu Dian yang sedang menatap tembok di depannya.

“Ema, Ema, tolong Mora.  Mora mau Mama uuuuuu”. Mora terus terisak

Didudukannya Mora di sebuah kursi di meja makan. Lama Ema menatap mata bening mora yang penuh genangan air mata. Mora masih terisak

“Mora, Mora sayang. Ema buatkan cumi goreng kesukaan Mora. Enak. Sangat enak”, kata Ema halus untuk  membujuk Mora

“Ema, Mora mau memeluk mama. Mora sayang Mama”

Dan air mata Ema menetes. Terbayang jelas hampir 4 tahun lalu. Mora adalah anak manis yang sangat periang.

**

“Pak, sebentar pulang kantornya cepat kan?” Bu Dian menatap suaminya pagi ini sebelum ke kantor.

“Iya Ma. Saya ingat, hari ini Mora ulang tahun yang ke 5 kan? Kita akan merayakannya berempat dengan Ema. Saya akan pulang lebih cepat”, Pak Santos mengatakannya lalu menyeruput kopi buatan istrinya.

“Gak ada yang dilupakan, Pak?. Hadiah dari kita sudah saya siapkan”, Ibu Dian menyambung

“Oh iya. Saya hanya belum sempat membelikan sebuah hadiah rahasia untuknya”, kata Pak Santos  yang tampak sedikit berpikir.

“Ya sudah, tidak apa, Pak. Kan sudah ada buku cerita yang disukainya. Sudah mama bungkus pun menjadi kado”, kata bu Dian

“Hmm.. tapi itu sudah lama Papa janjikan padanya. Pokoknya akan Bapak usahakan”, kata Pak Santos sambil tersenyum

 

“Mama…Mama…” Terdengar suara seorang anak kecil dari arah kamar. Cepat-cepat bu Dian berlari ke kamar. Menggendong putri kecilnya yang hari ini genap berusia 5 tahun

“Waaah, Mora sayang sudah bangun? Mora mencari mama ya?”

“Iya. Mora bermimpi. Mimpi tentang Bapak. Bapak pergi tapi tidak ajak Mora”, Mora terisak menceritakan mimpinya

“Pak Santos yang mendengarkan cerita anaknya terkekeh.

“Mora.. Mora. Dalam mimpi saja manja betul kamu nak. Sini, sini, ayo biarkan Bapak menggendongmu, nak.”

Mora segera turun dari gendongan ibunya dan berlari ke arah Bapaknya. Dalam gendongan Bapaknya, Mira berkata : “Bapak, Bapak, janji ya, jangan tinggalkan Mora dan Mama”, Mora berkata dengan wajah anak-anak yang lucu.

Semua tertawa. Mora memang sangat penyayang.

Ibu Dian teringat, saat Mora pertama kali bersekolah. Ketika  pulang sekolah, Mora berlari-lari mendapatinya dan memeluknya erat. Dengan berlinang air mata, Mora mengatakan kalau dia sangat merindukan mamanya saat sedang belajar di ruang kelas.

Bu Dian tersenyum jika mengingat hal itu. Putri kecilnya yang manja dan selalu mengasihi ia dan suaminya.Bu Dian menyadari, bahwa Mora benar-benar rahmat bagi hidupnya. Mora hadir setelah tiga tahun pernikahn mereka. Disaat Ia mulai putus asa dan berpikir bahwa rahmat ini tak bisa dimilikinya. Mora datang dan menyembuhkan rasa bencinya pada dirinya sendiri yang ia yakini memiliki permasalahan kesuburan. Kini Mora telah genap berusia lima tahun. Bu Dian semakin menyadari bahwa dalam perkawinan, kebahagiaan terbesar adalah  menjadi seorang ibu.

“Baik. Bapak ke kantor dulu. Sedikit lagi pasti hujan. Sudah bulan November”, suara pak santos membuyarkan lamunan Bu Dian. Pak Santos menurunkan Mora dari gendongannya lalu bergegas hendak ke kantor . Mora dan bu Dian menghantarnya ke depan rumah.

“Mora nanti sama Mama ya, ke sekolah. Ingat, jam 5 nanti kita punya janjikan ya”, kata Pak Santos

“Janjian yang itu Pak?”, kata Mora dengan wajah berbinar sambil memberikan kode dengan jarinya

“Yess. Janji rahasia kita”, kata Pak Santos sambil mengeluarkan sepeda motornya.

Ibu Dian tersenyum.

“I Love you, Papa. I loooove you”, kata Mora sambil melompat-lompat bahagia

“Iya.. I Love you too, Mora. I love you, Mama. Terima kasih untuk cinta”, kata Pak Santos sambil menatap bu Dian lama

Wajah Bu Dian memerah karena malu. Aneh sekali. Pak Santos tiba-tiba jauh lebih romantis.

Pak Santos menyalakan mesin motornya. Sebelum berangkat, kembali ditatap wajah istri dan putrinya. Dua orang yang sangat dicintainya. Ada senyum di sudut bibirnya, seperti hendak mengatakan sesuatu. Bu Dian terus menatapnya pula. Suami ku yang luar biasa, katanya dalam hati.

“Saya berangkat. Sampai jumpa”, kata Pak Santos dan berlalu pergi.

Bu Dian menatap punggung suaminya hingga hilang dari pandangannya. Kok saya tiba-tiba terharu ya. Ah, Bapak Mora memang selalu romantis, kata Bu Dian dalam hati.

Sambil tersenyum, ia dan Mora putri kecilnya melangkah masuk ke dalam rumah.

**

Di luar hujan masih deras turun. November yang basah.

“Ma..ma… Papa belum tiba ya? Ini sudah jam 5 lewat. Kita terlambat ma”.  Mora mulai merengek

“Iya sayang. Sabar. Lagi hujan. Kasihan, nanti papa pasti kehujanan”. Bu Dian

dengan sabar berusaha menenangkan gadis kecilnya.

“Ema tolong ambilkan handphone saya di dalam kamar. Saya mau menghubungi Bapak”

Ema berlari ke kamar, mengambil handphone dan memberikan pada ibu Dian

“Pak.. di mana sekarang?”

“Saya masih di kantor Bu. Hujannya lebat. Ini mau pulang. Tunggu redah ya” jawab Pak Santos dari seberang.

Mendengar ibunya berbicara dengan Bapaknya, cepat-cepat Mora meminta ikut berbicara.

“Mama. Mama. Mora mau bicara sama Papa”.

Bu Dianpun memberikan handphonenya pada Mora anaknya.

“Pa. Pa.  Cepet. Kita terlambat. Yang itu sudah ada kan? Rahasia kita?” dengan riang Mora berkata pada Papanya

“Iya sayang. Ini Papa mau pulang. Yang itu akan papa beli saat  perjalanan pulang nanti, terdengar suara Pak Santos

“Sekarang Pa. Sekarang” Mora sedikit memaksa.

“Mora, tidak boleh begitu. Sekarang lagi hujan. Kasihan Papa", kata bu Dian mengingatkan Mora

“Pokoknya Mora mau Papa datang sekarang. Sekarang Pa. Bawakan  rahasia kita. Jangan lupa. Janji ya, Pak” Mora sedikit merengek lalu memberikan handphone pada ibunya dan melanjutkan permainannya.

“Mora.  Gak boleh begitu sayang", bu Dian kembali mengingatkan Mora. Dia lalu melanjutkan pembicaraan dengan suaminya lewat Handphone.

“Pa. Pa.  Gak usah dipaksakan. Masih hujan.  Papa berteduh saja dulu. Setelah redah baru datang. Pesanan Mora nanti saja. Besok juga masih bisa”

“Iya ma tidak papa. Ni hujan dah mulai redah. Papa jalan dulu. Besok nanti gak sempat.  I love you ma. Bilang Mora, I love her. Papa  berangkat”

“Iya Pa. hati-hati. Kami tunggu ya”

Telpon di matikan.

 

Sudah jam 19.00, Pak Santos belum juga tiba. Telponnya berdering tapi tidak pernah diangkat.

Mora sudah tertidur sambil menangis.

Bu Dian tak tenang. Di hubungi semua teman-teman kantor Pak Santos.

“Pak Santos sudah pulang sejak jam 17.30 saat hujan redah, Bu.”, demikian kata teman-teman kantor.

Bu Dian mulai merasakan kegelisahan dan ketakutan.  Ada apa sebenarnya? Kamu di mana Pak sekarang?

Saat ia lagi sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya, tiba-tiba Handphone nya berdering. Nama suaminya muncul di layar handphonenya. Secepat kilat di angkatnya, “Pa.. kamu di mana? Kami cemas menanti.”

“Malam Kak Dian. Ini Saya, Heru Kak."

"Heru? Kamu sama Kak Santos ya? Diajak kak Santos ke rumah ngerayain ultah Mora?" Bu Dian sedikit legah. Ditelpon sama sepupunya. Heru, seorang Polantas.

"Eh, tapi kak Santos mana?", bu Dian melanjutkan sebelum Heru berbicara.

"Kak, kami lagi  di Rumah Sakit Cipto. Kakak bisa ke Rumah sakit sekarang? Di UGD”, terdengar suara  Heru sangat tenang.

"Rumah Sakit? Ada apa Heru? Mana suami saya? Mana suami saya? Kamu tolong jujur sama Kakak. Di mana Kak Santos?”, Ibu Dian histeris berteriak

“Kak, Kak Santos gak kenapa-kenapa. Mohon kakak tenang. Kak Santos baik-baik saja. Kami tunggu ya Kak”

“Saya mau bicara dengan suami saya. Tolong Heru”, Ibu Dian semakin histeris berteriak

Ema berlari tergopoh-gopoh memeluk tubuh bu Dian yang lunglai.

“Ada apa Ibu?”, Ema cemas bertanya

“Bapak, Ema. Bapak di Rumah sakit”

“Apa? Bapak tidak apa-apa kan Bu? Ibu harus kuat. Ayo kita ke sana. Mora biar saya titipkan sama oma tetangga sebelah ya?”

Tanpa menanti bu Dian mengangguk, sigap Ema menggendong Mora dan menghantarnya ke rumah Oma Mirna.

***

Ibu Dian tertegun memandang sosok yang sangat ia cintai, terbujur kaku. Kepalanya dibebat. Darah terus menetes dari hidung dan mulutnya.

Suaminya. Pria yang mencintai dan menerimanya sebagai hidupnya selamanya. Pria yang dengan gagah menggandeng tangannya sambil mengatakan kepada semua keluarganya, bahwa dia akan terus bersamanya apapun yang terjadi. Yang dengan gagah berjanji di depan altarnya bahwa mereka akan selalu bersama dalam untung dan malang. Pria yang tetap menerimanya walau ia hanya seorang yatim piatu. Pria itu, kini terbujur tak bergeming. Tak lagi menatapnya dengan pandangan penuh cinta seperti biasanya. Seperti pagi tadi. Iya, pagi tadi.

Tiba-tiba Dian teringat, ketika Santos lama menatapnya. Pagi tadi juga, Santos berulang-ulang mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Bahkan tiba-tiba mengucapkan terima kasih dan lalu mengatakan sampai jumpa. Kata-kata yang tiba-tiba dia sadari sebagai sebuah pesan.

Dia pun teringat bagaimana Mora bermimpi, Papanya pergi tanpa pamit.

Kenapa. Kenapa harus Kak Santos? Kenapa semua yang saya miliki harus direnggut dari saya? Apakah saya tak layak untuk bahagia? Mengapa? Mengapa semua ini terjadi

“Pa.. Bangun pa. Saya mohon. jangan tinggalkan saya seperti ini. Pa… Ayo pa bangun. Kita harus merayakan hari ulang tahun Mora kita Pa. Pa, kenapa? kenapa pergi seperti ini. Kenapa ?

Pa… Mana janjimu Pa? Bahwa kau tidak akan meninggalkan saya seperti ke dua orang tua saya meninggalkan saya.

Pa… lihat saya Pa. Saya tak kuat Pa. Siapa yang akan menggandeng tangan saya? Siapa yang akan memeluk saya? Siapa yang akan menemani saya membesarkan Mora kita Pa?” Ibu Dian terisak.

Ema memeluk bu Dian yang terus histeris di hadapan jenazah sang suami yang sangat ia cintai.

“Ema, Ini tas almarhum dan sebuah paket yang terus beliau peluk.” Kata Heru yang tak tega menatap Bu Dian sepupunya.

Ema langsung menerima pemberian Heru sambil mengucapkan terima kasih.

Bu Dian pingsan dan tak sadarkan diri. Dibantu Heru, Ema mengurusi seluruh kebutuhan pemulasaran jenazah pak Santos yang ditemukan terjatuh dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan Sudirman. Tidak jauh dari tempatnya membelikan hadiah rahasia buat Mora putri kecilnya. Sebuah boneka little pony berwarna pink  yang yang kemudian ditemukan terus dipeluknya saat pertama kali beliau dihantar ke rumah sakit.

**

Banyak orang di rumah. Mora senang sekali. Papanya mengundang banyak orang untuk menghadiri hari ulang tahunnya. Tapi Papa terus saja tertidur. Boneka hadiah rahasia yang dititipkan pada Ema terus dipeluknya. Papa tidak bangun juga. Mora mulai menangis,

“Pa, hadiahnya sudah ada. Kuenya juga sudah ada. Ayo Pa. kita nyanyikan selamat ulang tahun", Mora memanggil-manggil papanya.  Hening, tak ada jawaban; hanya isak tangis Omanya memecah keheningan.

Mengapa semua orang menangis di hari ulang tahun Saya? Mengapa tak ada musik dan balon-balon seperti biasanya. Dan mengapa papa terus tertidur? Mora tak memahami apa yang terjadi. Dia berlari menemui ibunya yang hanya menatapnya tajam lalu merenggut boneka hadiah rahasianya dan membuangnya ke sudut ruangan.

Mora menjerit-jerit oleh marah

“Mama jahat. Mama jahat. Kenapa hadiah rahasia papa untuk Mora mama buang? Kenapa ma?”

Mora terus menangis hingga tertidur dalam pelukan Ema

**

“Ema, Mora lapar”

Ema tersadarkan oleh panggilan Mora.

“Oh iya, Ema sudah siapkan Mora makan. Cumi-Cumi goreng kan, kesukaan Mora?” Ema bergegas menyiapkan makanan Mora

“Yummy....Mora suka” Mora kembali ceria dan melupakan begitu saja tangisannya tadi.

“Ema… Mora rindu Papa”, kata Mora sambil menyuap sesendok nasi di mulutnya

“Hm, Mora, makan dulu, baru ngomong, sayang. Nanti kamu tersedak”, Ema mengingatkannya dengan penuh kasih sayang.

“Ema, sungguh. Mora rindu papa.”, Mora bertanya dengan wajah sedikit ditekuk

Suasana begitu hening. Ema tercekat rasanya. Diusapnya rambut Mora. Sambil memeluk Mora, Ema berkata : “ Papa tidak jauh sayang. Papa ada di hati Mora. Kalau Mora rindu, Mora berdoa ya.”

“Seperti yang ema ajarkan itu?”

“Iya. Seperti itu”

“Tapi tetap rindu. Mora ingat terus”

“Tidak apa-apa. Papa juga pasti rindu Mora”, Ema mengelus rambut Mora dengan penuh kasih.

“Minggu depan Mora sudah selesai liburan. Mora mau sekolah lagi di kelas yang baru. Papa bilang Mora harus rajin belajar. Mora harus jaga mama”, kata Mora dengan sungguh-sungguh.

“Oh ya? Papa yang bilang? Kapan?”, Ema bertanya

“Waktu Mora ulang tahun itu, Ema. Saat banyak orang datang. Waktu itu, Mora terbangun.  Diam-diam Mora mengambil lagi boneka hadiah rahasia yang dibuang mama. Saat itu, papa ke kamar dan mengatakan hal itu”

Ema memeluk Mora kuat.

“Iya sayang. Mora harus jaga mama. Mora harus rajin belajar”

“Ema.. mengapa mama membenci Mora? Sejak Papa pergi, mama terus memarahi Mora. Mungkinkah karena Mora nakal, Ema?”, Mora bertanya dengan kepolosan seorang anak

“Tidak sayang. Mama selalu sayang Mora. Mama hanya lagi suka sendirian. Mama lagi mengerjakan sebuah tugas yang besar. Mora harus bantu mama ya”

“Ema… Mora merasa, mama selalu bersedih karena Mora. Setiap dekat dengan Mora, mama pasti menangis.  Ema, mungkin kalau Mora tidak mengganggu mama dengan tidak selalu muncul di hadapan mama, mama akan bahagia?”

“Hei.. Bukan begitu Mora. Mora harus selalu di samping mama seperti yang papa pesankan." Ema mengatakan hal itu dengan lembut dan sungguh-sungguh.

"hm.. Ema. Mora boleh minta sesuatu?”, mata Mora menatap ema dengan penuh harap

“Boleh. Apa itu?”, Ema menjawabnya

“Bolehkah kalau Mora merasa rindu hendak  memeluk mama, Mora memeluk Ema saja. Supaya Mama jangan bersedih. Karena Mora yakin, mama tak suka Mora memeluknya” Matanya yang bening berharap

Tetes air mata ema bergulir dari kedua bola matanya.

“Boleh Mora. Sangat boleh. Kapanpun Mora mau, Mora boleh memeluk Ema”

“Terim kasih Ema. Mora juga sayang Ema. Sayang Papa, Sayang Mama. Ema itu yang terbaik buat Mora.”

Dan keduanyapun berpelukan.

 

“Ibu, beberapa hari ini, Mora selalu demam. Dia memaksa tetap masuk sekolah. Tadi saat menjemput Mora, badannya panas Bu. Mora sangat tidak bersemangat”, lapor Ema

"ooo. Kasih obat penurun panas saja, yang ada di kotak obat.  Seperti biasanya. Dia selalu manja dan merepotkan”, Dian menjawab tak peduli

“Iya bu. Sudah saya beri, tetapi panasnya tidak turun-turun bu. Ini sudah jam 10 malam”, Ema tak tahan menjawab ketidakpedulian Bu Dian

“hm. Paling nanti turun juga. Biarkan saja. Saya lelah melihatnya manja seperti itu”, Bu Dian menimpali dan memunggungi Ema

Ema mengangguk dan berlalu. Hatinya tak tenang. Mora demam tinggi. Dia memanggil-manggil nama mamanya dalam lirih tertahankan. Seperti sebuah ketakutan.

“Mora, Mora. Bagaimna rasanya sekarang?”, Ema mengajaknya bicara

“Ema, Mora sakit kepala. Mora merasa sangat dingin.”, kata Mora dengan suara sedikit lemah.

“Ema panggil mama Mora ya”, kata Ema sambil beranjak pergi

“Jangan Ema. Nanti mama sedih. Mora kuat Ema. Mora bisa bangun”, sambil berkata demikian, Mora berusaha bangun dari tidurnya.

“Sudah..sudah.. tak apa Mora. Bobo saja. Ema jaga Mora. Mora mau minum susu? Ema buatkan ya” katanya tak tega melihat gadis cilik itu

“Iya Ema. Terima kasih”

Ema segera menuju dapur. Saat masih di depan pintu Mora memanggilnya

“Ema…”

Ema berhenti menatap wajah mungil anak itu yang dirawatnya sejak bayi

“Mora sayang Ema. Terima kasih sudah jadi mama buat Mora”

Ema berlari ke arahnya, memeluknya kuat-kuat. Badannya dingin. Ema merasa legah. Suhu tubuh Mora sudah turun. Setelah menghabiskan sebotol susu, Mora tertidur pulas saat Ema membacakan dongeng Cinderela untuknya. Ema merasakan betul, Mora tidak bersemangat. Dia hanya terdiam saja. Tidak seperti biasanya.

 

Jam 02.00 dini hari, ibu Dian menjenguk ke dalam kamar Mora. Dipegangnya dahi anaknya, suhu tubuhnya tidak panas. Hatinya sedikit merasa tak enak, namun tiba-tiba dilihatnya little pony itu di situ. Terjatuh di bawah tempat tidur Mora, hatinya kembali dingin.

Boneka pembunuh ini. Yang membuat suamiku meninggal. Aku benci. Benci pada boneka ini. Benci pada Mora yang memaksakan sehingga suamiku harus meregang nyawa. Boneka itu di situ. Dipeluk oleh Mora dengan bahagia. Sedangkan aku harus kehilangan suamiku karenanya.

Ibu Dian berlalu dengan air mata.

Di dalam kamarnya, tangisnya pecah kembali.  Dia marah. Marah pada seluruh situasi. Marah pada hari ulang tahun yang menyakitkan. Pada rengekan Mora yang meminta papanya segera pulang. Pada permintaan Mora tentang kado rahasia. Aaaah.. hatinya kembali terluka.

 

“Ibu..Ibu…. Mora Ibu. Mora” terdengar suara Ema menggedor pintu kamarnya

“Ada apa Ema? Saya capek”

“Mora ibu.. hidungnya berdarah. Diapun muntah dan berdarah.”, Ema dengan gelisah menyampaikan kondisi Mora

“Masa, jangan mengada-ada kamu. Tadi saya ke kamarmu. Suhu tubuhnya normal kok”, ibu Dian kaget mendengar laporan Ema

“Iya bu. Sungguh bu. Mari bu”, Ema sedikit memaksa.

 Bu Dian berlari ke kamar Ema, tempat Mora terbaring. Ada ceceran darah di sana. Bu Dian seperti dikagetkan dari tidur panjang. Tiba-tiba dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Seperti malam itu, saat Santos pergi dan tak pernah kembali lagi. Di peluknya anaknya:

“Mora.. kamu kenapa nak”

Mora terus berkata lirih tak jelas. Ibu Dian bertanya kembali, “Kenapa nak?”

“Maaf. Maafkan Mora mama”, hanya kalimat itu yang keluar dari mulut mungil Mora.

Air mata Bu Dian menetes. Dipeluknya Mora. Hadiah Tuhan yang ia lupakan karena berlarut dalam duka. Mora yang menjadi tanda hadir satu-satunya dari suaminya yang telah pergi. Harta berharga yang ia miliki namun ia sia-siakan oleh egonya. Mora yang selalu menatapnya dari kejauhan dengan tatapan takut. Yang kadang berpura-pura agar menyentuhnya, lalu meminta maaf. Mora itu adalah Mora yang dahulu selalu tak bisa tidur jika belum mencium pipinya. Mora yang ceria.   “Mora, maafkan mama”, Bu Dian histeris berteriak.

Bersama Ema, Mora dilarikan  ke rumah sakit.

 

**

“Mora terkena demam berdarah, bu. Hasil uji lab menunjukkan Trombositnya sangat rendah. Sekarang Mora dalam kondisi kritis.  Untuk sementara agar mendapatkan perawatan intensif, Mora kami rawat di ICU ya bu. Sayang sekali, kenapa sangat terlambat membawanya agar segera mendapatkan pertolongan”, terdengar nada penyesalan dari dokter yang bertugas di UGD

“Iya Pak Dokter. Saya benar-benar menyesal. Tapi Pak Dokter, tolong selamatkan anak saya. Lakukan dengan cara yang terbaik. Berappun biayanya, saya akan bayar", sambil menahan tangis dan sedikit memaksa bu Dian menyampaikan pada Dokter yang merawat Mora.

“Iya bu. Pasti kita akan lakukan yang terbaik. Nanti Pasien akan segera dipindahkan ke ICU”, kata Dokter jaga UGD

“Baik bu. Saya tinggal dulu. Kami mohon doanya agar kami bisa memberikan perawatan terbaik buat anak ibu”, kata dokter melanjutkan.

“Terima kasih Pak dokter”, Bu Dian lirih berkata

 

Banyak selang yang di pasang. Mora Nampak lemah terbaring di ruang ICU. Ema memegang tangannya. Ada sebutir tetes air mata yang jatuh di kedua sudut mata Mora.

"Ema, biarkan saya yang menjaganya. Kamu istirahat dulu”, setengah berbisik, Bu Dian meminta

Ema memberikannya waktu berdua dengan Mora. 

Bu Dian yang kemudian duduk dan memegang tangan anaknya.

“Maafkan mama sayang. Maafkan mama melupakanmu. Maafkan mama yang sibuk memikirkan diri sendiri. Menyalahkan semua orang. Terutama menyalahkanmu. Mora, bertahanlah sayang. Mama sangat menyayangimu. Mama mohon, tetaplah di sini. Biarkan mama memperbaiki semua yang sudah mama buat. Biarkan mama menebusnya sayang”, suara bu Dian lirih

“Mama..mama…”, terdengar suara Mora lirih memanggilnya

Dian mendengatkan telinganya ke bibir  Mora agar bisa mendengarkan dengan baik

“Maafkan Mora, Mama. Mora nakal. Mora tidak tahan dengan sakit. Maafkan Mora membuat mama susah”

Dian berusaha memeluk Mora kuat. “Mora, semua salah mama. Sehatlah sayang. Berjuanglah sayang. Mama akan selalu di sini. Mendampingimu. Mama kan menjagamu sekuat tenaga”, Bu Dian berusaha meyakinkan Mora sambil menahan tangis.

“Mama..maafkan mora. Maafkan Mora, Mama”, lalu Mora terjatuh lunglai tak sadarakan diri. Hiruk pikuk suara peralatan berbunyi

“Suster! Suster! Tolong anak saya, Suster. Tolong Suster”, Bu Dian menjerit melihat keadaan Mora.

Secepat kilat para perawat dan Dokter segera memberikan bantuan tehadap Mora. Ibu Dian terkulai di sudut ruangan terisak

“Mora..maafkan mama. Mora bertahanlah. Mama mohon bertahanlah. Mora. Tuhan sembuhkan anakku. Ampuni aku Tuhan. Ampuni rahim yang mengandung. Tuhan selamatkan anak ku."

***

Mama… Mora sangat menyayangimu mama. Hari ini Mora lihat mama sedih dan menangis di depan foto Papa. Mora sangat sedih. Mora juga rindu papa. Tapi, sepertinya mama jauh lebih merindukan Papa.

Mama, pernah suatu waktu Mora pengen memeluk mama, saat mama tertidur selepas menangis di hari Ulang Tahun Mora yang ke 9. Mora mau bilang, Mama, ini Mora. Mora  ada Mama. Mora akan jaga mama selalu. Mora sayang mama, tapi Mora urungkan niat karena Mora takut akan semkain membuat mama bersedih. Mama jangan takut. Mama jangan sedih lagi. Mora dan Papa selalu menyayangi Mama.  Ma.. Kalau mama rindu Mora, mama boleh memeluk Ema. Sama seperti kalau Mora rindu ingin memeluk mama, mora memeluk Ema. Ma.. Mora tidak akan lelah mengatakan, bahwa Mora sangat mencintai mama. Selamanya. Mama adalah ibu terhebat bagi Mora. Sampai jumpa mama.

 

Di depan pusara dua orang yang sangat mencintainya itu, Ibu Dian membaca kembali curahan hati Mora dalam sebuah surat, yang Mora tulis dan titipkan pada Ema. Sekali lagi air matanya berlinang. Setahun sudah berlalu. Biasanya setiap Hari ulang tahun Mora, Bu Dian selalu mengunjungi pusara suaminya. Ini adalah tahun pertama, bu Dian mengunjungi pusara suami dan anaknya sekaligus.

Hujan bulan November kembali berguguran. Bu Dian tak beranjak. Dia terus terduduk memeluk nisan anaknya. Tak dipedulikan badannya yang mulai kuyup, hingga dirasanya dekapan yang sudah sangat lama ia rindukan. Dekapan hangat suaminya. Hatinya sangat bahagia. Dan ia pun terbang di antara cahaya yang begitu benderang.

 

Ende, 23 Nov 2018


Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...