Rabu, 30 September 2020

Patah Hati

Kemarin kau datang
membawa sekuntum cinta yang mekar
kelopaknya merah merayu 
aromanya memabukkan isi kepala

Hari ini kau datang lagi
Dengan kuntum cinta yang layu terkoyak
kelopaknya  merah penuh luka
sedang aroma pilu menyengat hati

Kau terkulai di dadaku yang bergemuruh
air matamu membanjir
sedang tubuhku diam bergeming
saat kau memelukku 
sayup-sayup kau nyatakan bara cintamu
sambil menyebut namanya 

Kini, air mata jatuh lagi
Tidak merintik dari matamu saja
Tapi membanjir dari mataku juga

Senin, 28 September 2020

Seorang Ibu Meratap

Seorang ibu meratap 
Di hadapan jenazah  kekasihnya
Buah Cinta yang ia dekap
Sembilan bulan lamanya tanpa lelah

Seorang ibu meratap
Di hadapan putranya yang lelap
Bukan oleh nikmat air susunya
Setelah lelah bermain dan tertawa

Seorang ibu meratap
Di hadap raga kaku pria kecilnya
Yang memanggilnya mama
Lalu memeluknya saat hati pengap

Seorang ibu meratap
Di hadapan tubuh beku anaknya
Sejak kemarin maut merenggutnya
Tanpa pesan tanpa tanda

Seorang ibu meratap
Berharap langit berpihak pada andainya
Pulangkan ia jika boleh
Biar kurahimi dalam hangat kasih

Seorang ibu meratap
melepas pergi anaknya
Berkecamuk rela namun belum siap
Memaksa hati yang beku dalam luka
Pada duka di hadapan buah hatinya
Ia melihat namun tak bisa menatap
Kini cinta telah bersekat
Hanya doa melipatnya dekat

Seorang ibu meratap
Mendekam duka
Mendekap cinta
Pada pergi mencabik luka dalam sukma.

Ende, 28 September 2020
Rest in Love,  Albert Gerson Unfinit (Black Finit) 
Puisi ini saya persembahkan untuk ibunda dari Alm.  Gerson,  sahabat saya. 
Perempuan hebat yang menelan air mata pilu oleh duka.  

Jumat, 25 September 2020

Cinta 44tahun

Adalah kami, lima perempuan di sisi pria ganteng ini.  Dan adalah Mama,  perempuan yang bertahan dari dahulu; tak bergeser dari sisi pria yang menjadi asal usul miteku.  Hahaha

Mereka (Babo dan Inang)  selalu saling meledek jika bercerita tentang awal mula bertemu.  Mereka bertemu di sawah (Cinta jaman itu...hhhahah) tempat Inang membantu Amang Hugo,  Bapaknya,  menggarap sawah orang lain.  Dan adalah Babo G,  pemuda tampan asli Nua Tour Nangablo.  Pemilik sawah tetangga tempat Dua Pinse,  gadis manis asli Napungliti bekerja.  
Maka drama,  sendok sebiji turun ke kali terjadi.  Kata Babo G,  demi menarik perhatiannya,  Inang Pence (Cara Epo menyebut namanya)  berusaha keras turun ke kali biar bisa lewati pematang sawah sang tampan.  Hahhaha.  Tentu saja kata Inang Pence, semua adalah bohong belaka.  Dan dari kemampuan saya menangkap cerita,  Babo G sepertinya mengarang cerita. Hahhaha
Bagaimana cinta unik beda suku (yang suka saling mengejek dan yang selalu dihindari) bisa terjadi kalau Babo G kurang pasang akting.  

Kisah cinta mereka penuh liku-liku.  Melawan kebiasaan itu berat. (Pahamkan,  Crespo memanggil Babo pada Bapak saya yang Lio,  dan Inang pada mama saya yang Sikka)  
Babo G sukses merebut hati Amang karena dengan berani menyampaikan rasa cintanya pada Inang langsung pada sang Ayah. Pesta pernikahan mereka dihiasi tragedi.  Dan Inang terus bertahan karena Babo melakukan apa yang selalu Beliau pesankan. "Jika engkau menikah dan membawa istrimu ke rumahmu,  maka satu-satunya kekuatan yang ada di sisinya saat itu adalah dirimu.  Jangan kecewakan dia"

Ketika Babo habiskan waktu untuk studi di Kupang,  APDN,  Inang setia ditemani puluhan surat cinta Bapak yang sekarang sudah di tangan saya. 
Surat dengan bubuhan tahun 1970an itu menjadi bukti romantisnya cinta mereka. 
Di kesempatan lain akan saya tuliskan kisah surat-surat ini.  


Kini setelah kami semua ke luar dari rumah,  melanjutkan hidup kami, berkeluarga,   Babo dan Inang tetap setia berdua.  Saling menjaga.  Saling mengasihi.  Kadang bertengkar. Kadang Inang jengkel karena Babo suka makan mie.  Dilain masa mereka saling merindukan.  
Setiap pagi,  Babo menyiapkan segelas susu hangat untuk Inang.  Karena kondisinya,  Inang tidak boleh bangun terlalu pagi.  Maka Babo membiarkan Inang tidur sampai Inang merasa sudah pas buat bangun.  
Kalau kebetulan kami datang dan menginap,  Babo akan ingatkan untuk tidak boleh membangunkan istrinya tercinta kalau masih tidur.  Hm..  Penyayang. 


Sejak dahulu,  saya tidak pernh melihat bapa atau mama saling meninggalkan untuk kesibukan masing-masing di luar urusan anak dan pekerjaan.  Bahkan sejak Babo pensiun,  Inang tidak boleh lama bahkan untuk menginap di rumah anak-anaknya. Dua hari itu waktu maksimal.  

Kata Bapak pada saya yang menjaganya,  saat beliau sakit : "Bukan Bapa tidak mau ko jaga,  Nona.  Tapi Bapak tidak bisa tidur kalau mama tidak ada". Itu hal yang selalu saya ingat sampai sekarang. (Saat itu beliau sakit. Kami berbagi tugas menjaga. Mama menjaga pagi mengingat mama juga sakit-sakitan,  sedangkan saya kebagian dinas malam. Ternyata Beliau tidak bisa jauh dari sang Istri.. Hhhhhh) 

Keluarga kami keluarga yang sederhana.  Tidak ada harta materi yang luar biasa mewah.  Kami hanya bahagia dan saling mengasihi saja.  Saling mendukung dan yang selalu Bapa ajarkan,  jalani dengan sungguh-sungguh apa saja yang sudah kami putuskan.  
Satu hal yang wajib buat keluarga kami adalah makan bersama.  Itu terjadi pada malam hari,  ketika bapak masih aktif bekerja.  Dan ketika pensiun,  maka,  pagi,  siang dan malam selalu bersama.  

Kami menentukan rencana pilihan jurusan saat kuliah sejak kami SMP. Saat makan malam,  Babo punya banyak pertanyaan untuk kami terutama masalah sekolah.  Itulah caranya membayar waktu yang Beliau habiskan di kantor dari pagi sampai siang/sore. 
Demikianlah Babo dan Inang membangun rumah ternyaman buat kami.  Rumah tempat kami bertumbuh secara fisik dan psikis.  Tempat kami menemukan banyak cinta.  Tempat kami diajarkan lewat sikap hidup tentang bagaiman harus mencintai.  
Indah dalam kesederhanaan . 

Dalam bahagianya keluarga kami,  hadir pemuda tampan yang menggoyahkan kedudukan Babo G.  Namanya Fernando. Dia tumbuh bersama kami dengan kasih dan cinta yang sama yang kami dapatkan. 

Sekarang,  4 orang perempuan kecil mereka sudah menghadirkan 5 pria tampan.  Linda yang sulung,  bersuami dan memiliki 2 putra.  Evelyn (saya)  yang ke 3, bersuami dan memiliki seorang putra.  Sedangkan Diana , anak ke 2 menjadi suster dengan nama biara Sr.  Alvaresta,  P.Karm.  Si bungsu,  masih menikmati masa single dalam karya-karya pelayanannya.  Sedangkan pria tandingan Babo sudah bekerja sebagai seorang perawat.  Dia belum menikah.  Empat saudarinya terlampau cerewet katanya.  Hahhahaha.  

Selamat HUT Pernikahan Babo dan Inang
Sehat selalu.  Tetap mencintai dan menjadi teladan mencintai buat kami.  

Salam
EPING,  Putri ke3

Foto: Om Anggoro

Rabu, 23 September 2020

PUISI TERINDAH DARIMU

Sudah lama berlalu
Tak jua sampai di kupingku
suara sendu merayu
Melantunkan puisi syahdu
Saat hati sedang merindu
Sampai hari itu

Sampai ketika
kau memanggilku ibu
Itulah puisi terindah bagiku
Yang kunanti sedari dulu

Dulu ketika
Tuhan menghadirkanmu di rahimku
Di rahim puisiku
Hidup
bersama doa-doa
Yang tak pernah kujadwalkan

Ende, 23 September 2020
MaCres

Jumat, 18 September 2020

Bertanggung Jawab


Pagi hari
Anak-anak tidak ke sekolah
Seragam tergantung rapih
Ruang -ruang kelas sepi

Siang hari
Orang tua berkerumun ramai
Berkumpul tertawa 
Makan minum berpesta pora

Malam hari
Orang tua pulang ke rumah
Menjumpai  anak di rumah sejak pagi
Bermain dalam sepi

Pagi di esok hari
Orang tua pergi lagi
Menjumpai kawan beramai lagi
Saat kembali anak telah pergi

Ende,  19 Setp.  2020

Sumber gambar: https://www.voaindonesia.com/amp/anak-anak-korban-terbesar-akibat-virus-corona-/5396331.html


Senin, 14 September 2020

Terkejut


Kami tidak sedang tidur
Tetapi kami kami sedang kecanduan 
Berjalan sambil menutup mata
Dengan hati yang memang sudah dipaksa untuk tertutup

Hingga tiba -tiba
Kaki kami sampai di pinggir jurang
Dan kami terkejut
Telah kami jual nyawa kami dengan harga yang murah

Ende,  14/09/2020

Masker untuk Cinta

Jangan lupa pakai maskermu
Ko harus sehat selalu
Karena menanti Cinta yang tak pasti itu tidak mudah
Kau butuh tubuh yang kuat untuk menanggung kemungkinan yang membuat harimu musnah

Entah sampai kapan kau mau bertahan
Sedang dia di sana memeluk langitnya. 
Dan kau di sini merintih membayangnya
Sungguh jangan lupa pakai maskermu, bucin


Jumat, 11 September 2020

Berjuang Sendirian


Malam telah larut
Ia lupa bahwa siang telah pergi berlalu
Harinya terlampau sibuk
Untuk sekedar memikirkan jam berapa saat ini

Ada puluhan tangan terkatup dalam gelisah
Sedangkan hati mereka meraihnya
Mata mereka menjeratnya 
Suara rintihan mereka menawannya
Hingga ia lupa berapa lama telah berdiri berjaga

Ada tangisan anak-anak
Namun bukan anaknya
Ada erangan pria paruh baya
Tapi bukan ayahnya
Ada juga rintihan ibu tua
Pun bukan ibunya
Dan ia lelah berjuang mengingat kapan
 terakhir kali berdiam dalam hangatnya keluarga

Hingga sakit mereka adalah sakitnya
Perih mereka adalah perihnya
Luka mereka adalah lukanya
Ketakutan mereka adalah ketakutannya
Sepi mereka adalah sepinya

Dan ketika jiwanya terbang melintasi langit
dia bahkan tak pernah sempat berpamitan. 
Apalagi menyiapkan tempat untuknya beristirahat

ENDE, 12 September 2020
Tentang tenaga medis yang berjuang sendirian melawan Covid19 karena yang lain sibuk berjuang untuk terjangkit dan menjangkiti. 

Kamis, 10 September 2020

Kopi Petani

Ini kopi hasil olahan tangan petani
Disemai dengan harapan
Di-air-i dari tiap tetes peluh
Dirawat dan disayang bak anak sendiri

Hingga suatu saat ia tiba di sebuah tempat
Yang menelanjangi tubuhnya
Mengenakan baju baru
Dengan nama baru
Tidak seperti nama sebenarnya

Dan dia terpaksa diam tak bergeming


Rabu, 09 September 2020

Doa Ibu


Pagi-pagi buta
Seorang ibu bergegas
Kaki tuanya menerabas rerumputan basah
Pinggangnya terasa ngilu
Pandangannya belum juga menajam
Sedang pening kepalanya belum juga pergi

Lunglai ia bertelut 
Pada lutut yang bergetar perih
Lalu bibirnya berucap sendu
Anakku sakit,  wahai Tabib

Cinta dalam Lelap

Hari itu, 
ketika usianya belum juga genap 1 Minggu. 
Dan masa itu,  
saya masih suka terbangun di malam hari
 untuk memastikan dia masih ada di sisi saya. 

Ketika baru selesai ia meneguk susunya
Saya menidurkannya dalam pelukan
 Mendekapnya hangat hingga ia terlelap.  Saya ingin ia selalu tahu 
bahwa saya mencintainya lebih dari apapun.

Jumat, 04 September 2020

Mata Air Air Mata


Apakah yang lebih sepi dari air mata
Yang tiap tetesnya berkisah dalam bisu yang paling sunyi

Apakah yang lebih pilu dari air mata
yang berguguran oleh rasa 
lalu disembunyikan di balik wajah sumringah 
pun disekap di lorong-lorong gelap nan pekat

Apakah yang lebih sedih dari air mata
Yang luruh melepaskan sesak namun tersisih dikhianati ingin

Apakah yang lebih murni dari air mata
Yang mengalir dari jiwa
Jujur dan apa adanya. 

Sumber Foto: https://m.liputan6.com/citizen6/read/3675204/terungkap-begini-rupa-tetes-air-mata-yang-sebenarnya

Rabu, 02 September 2020

Puisi Untukmu

Pic: https://www.pngdownload.id/png-hmbtdi/

Aku ingin menulismu puisi
Dengan diksi remeh temeh
Yang akan mudah kau temukan  di pinggir jalan
Di kotak sampah
Di pasar 
Di dapur 
Bahkan di dalam kamar mandi pengap.  

Aku berjuang menuliskanmu puisi
Dengan aksara yang tidak ada di ruang sekolah 
Di perpustakaan mahal 
Di kafe yang menyajikan kopi petani tanpa nama sang petani
Apalagi di dalam kabin pesawat mewah.  

Aku ingin menuliskan larik puisi untukmu
Yang bisa kau temukan terduduk malas
di samping seorang anak yang sibuk bermain tanah
Terendam becek 
Kotor
Dekil
Tapi digenggam erat tangan mungilnya

Aku ingin menuliskannya untukmu
Wahai duniaku
Genggamlah hatiku untuk dua masa saja
Hari ini dan selamanya.  

Cinta (sampai) Mati

.  foto : Yolin Ohelo anak sulung Bapa JP.  

Musim berganti
Kamu tak terganti
Tetap terpatri
Tak berpindah dari hati

Kau memang tak mengerti
Tapi aku tak peduli
Apa artinya sakit ini
Jika membayangkan senyummu lagi bahagiaku tak terbagi

Kau abadi
Sampai nanti
Mungkin sampai mati
Aku sungguh tak peduli



Kopi

Kau ajak aku mengakhiri hari
Akan ada yang jauh lebih indah jika kau pergi katamu lirih sambil menyodorkan secangkir kopi
Ini kopi terakhirku,  lanjutmu

 Ku sesap kopi terakhir itu dalam bisu yag memekakkan
 Getir mataku berkata,  "cinta untukmu tak pernah berakhir"

Wasiat

Pernah ayah berpesan 
Aku harus menyetrika lebih rapih
Aku harus memasak lebih sedap
Aku harus bekerja lebih keras

Bagiku ayah berlebihan
Sangat berlebihan dan menjengkelkan
Hingga hari itu
Ketika aku pulang dan menemukannya terbujur kaku

Ende,  02.09.20

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...