Adalah kami, lima perempuan di sisi pria ganteng ini. Dan adalah Mama, perempuan yang bertahan dari dahulu; tak bergeser dari sisi pria yang menjadi asal usul miteku. Hahaha
Mereka (Babo dan Inang) selalu saling meledek jika bercerita tentang awal mula bertemu. Mereka bertemu di sawah (Cinta jaman itu...hhhahah) tempat Inang membantu Amang Hugo, Bapaknya, menggarap sawah orang lain. Dan adalah Babo G, pemuda tampan asli Nua Tour Nangablo. Pemilik sawah tetangga tempat Dua Pinse, gadis manis asli Napungliti bekerja.
Maka drama, sendok sebiji turun ke kali terjadi. Kata Babo G, demi menarik perhatiannya, Inang Pence (Cara Epo menyebut namanya) berusaha keras turun ke kali biar bisa lewati pematang sawah sang tampan. Hahhaha. Tentu saja kata Inang Pence, semua adalah bohong belaka. Dan dari kemampuan saya menangkap cerita, Babo G sepertinya mengarang cerita. Hahhaha
Bagaimana cinta unik beda suku (yang suka saling mengejek dan yang selalu dihindari) bisa terjadi kalau Babo G kurang pasang akting.
Kisah cinta mereka penuh liku-liku. Melawan kebiasaan itu berat. (Pahamkan, Crespo memanggil Babo pada Bapak saya yang Lio, dan Inang pada mama saya yang Sikka)
Babo G sukses merebut hati Amang karena dengan berani menyampaikan rasa cintanya pada Inang langsung pada sang Ayah. Pesta pernikahan mereka dihiasi tragedi. Dan Inang terus bertahan karena Babo melakukan apa yang selalu Beliau pesankan. "Jika engkau menikah dan membawa istrimu ke rumahmu, maka satu-satunya kekuatan yang ada di sisinya saat itu adalah dirimu. Jangan kecewakan dia"
Ketika Babo habiskan waktu untuk studi di Kupang, APDN, Inang setia ditemani puluhan surat cinta Bapak yang sekarang sudah di tangan saya.
Surat dengan bubuhan tahun 1970an itu menjadi bukti romantisnya cinta mereka.
Di kesempatan lain akan saya tuliskan kisah surat-surat ini.
Kini setelah kami semua ke luar dari rumah, melanjutkan hidup kami, berkeluarga, Babo dan Inang tetap setia berdua. Saling menjaga. Saling mengasihi. Kadang bertengkar. Kadang Inang jengkel karena Babo suka makan mie. Dilain masa mereka saling merindukan.
Setiap pagi, Babo menyiapkan segelas susu hangat untuk Inang. Karena kondisinya, Inang tidak boleh bangun terlalu pagi. Maka Babo membiarkan Inang tidur sampai Inang merasa sudah pas buat bangun.
Kalau kebetulan kami datang dan menginap, Babo akan ingatkan untuk tidak boleh membangunkan istrinya tercinta kalau masih tidur. Hm.. Penyayang.
Sejak dahulu, saya tidak pernh melihat bapa atau mama saling meninggalkan untuk kesibukan masing-masing di luar urusan anak dan pekerjaan. Bahkan sejak Babo pensiun, Inang tidak boleh lama bahkan untuk menginap di rumah anak-anaknya. Dua hari itu waktu maksimal.
Kata Bapak pada saya yang menjaganya, saat beliau sakit : "Bukan Bapa tidak mau ko jaga, Nona. Tapi Bapak tidak bisa tidur kalau mama tidak ada". Itu hal yang selalu saya ingat sampai sekarang. (Saat itu beliau sakit. Kami berbagi tugas menjaga. Mama menjaga pagi mengingat mama juga sakit-sakitan, sedangkan saya kebagian dinas malam. Ternyata Beliau tidak bisa jauh dari sang Istri.. Hhhhhh)
Keluarga kami keluarga yang sederhana. Tidak ada harta materi yang luar biasa mewah. Kami hanya bahagia dan saling mengasihi saja. Saling mendukung dan yang selalu Bapa ajarkan, jalani dengan sungguh-sungguh apa saja yang sudah kami putuskan.
Satu hal yang wajib buat keluarga kami adalah makan bersama. Itu terjadi pada malam hari, ketika bapak masih aktif bekerja. Dan ketika pensiun, maka, pagi, siang dan malam selalu bersama.
Kami menentukan rencana pilihan jurusan saat kuliah sejak kami SMP. Saat makan malam, Babo punya banyak pertanyaan untuk kami terutama masalah sekolah. Itulah caranya membayar waktu yang Beliau habiskan di kantor dari pagi sampai siang/sore.
Demikianlah Babo dan Inang membangun rumah ternyaman buat kami. Rumah tempat kami bertumbuh secara fisik dan psikis. Tempat kami menemukan banyak cinta. Tempat kami diajarkan lewat sikap hidup tentang bagaiman harus mencintai.
Indah dalam kesederhanaan .
Dalam bahagianya keluarga kami, hadir pemuda tampan yang menggoyahkan kedudukan Babo G. Namanya Fernando. Dia tumbuh bersama kami dengan kasih dan cinta yang sama yang kami dapatkan.
Sekarang, 4 orang perempuan kecil mereka sudah menghadirkan 5 pria tampan. Linda yang sulung, bersuami dan memiliki 2 putra. Evelyn (saya) yang ke 3, bersuami dan memiliki seorang putra. Sedangkan Diana , anak ke 2 menjadi suster dengan nama biara Sr. Alvaresta, P.Karm. Si bungsu, masih menikmati masa single dalam karya-karya pelayanannya. Sedangkan pria tandingan Babo sudah bekerja sebagai seorang perawat. Dia belum menikah. Empat saudarinya terlampau cerewet katanya. Hahhahaha.
Selamat HUT Pernikahan Babo dan Inang
Sehat selalu. Tetap mencintai dan menjadi teladan mencintai buat kami.
Salam
EPING, Putri ke3
Foto: Om Anggoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar