Senin, 31 Agustus 2020

Cerita Nona Nyong


Nona manis
Kemarin kau menangis
Hari ini ko meringis

Nyong manis
Aku melihatmu miris
Kau berkumis dan bau amis

Nona manis
Mulutmu sadis
Mengurai kata nan pedis

Nyong manis
Adalah lebih baik kataku pedis
Daripada racun dari lipstik beringas

31/08/20

Sumber gambar:
Poster Echtpaar Kartun Signifikan 

Anjay (tidak) Boleh

Ilustrasi: https://mancode.id/berita/ketika-kata-anjay-jadi-pro-kontra-publik/

"Pa,  kenapa tidak boleh menyebut anjay?"

"Karena ada orang pintar mengatakan tidak boleh menyebut anjay"

"Lalu kenapa papa sebut anjay?"

"Saya sedang memberitahumu tak boleh menyebut anjay"

"Ah,  papa menyebut lagi anjay"

"Anjay!  
Repot sekali kau,  anjay"

Senin, 24 Agustus 2020

API

             Ilustrasi. (pruzi/Pixabay)

Bapak mengajakku ke pasar
Dibelikannya sepasang sepatu bekas untukku
Dibelikannya juga selembar baju baru untuknya

Kami ke pojok rumah
sebuah kantong ia bakar
"Kenapa harus dibakar?" tanyaku

Biar tiada bukti untuk Ibu,
Bapak mengambil uangnya.

Bantuan Langsung Makan

   Sumber gambar : investasi.kontan.co.id

Dengan baju terbagus kami ke sana
Kata Mama,  hari ini boleh makan yang enak
Banyak orang berjejal ramai
Semua mau jadi yang di muka
Sempoyongan mama mengajak kami ke pojok
Ada lembaran dua puluh ribu di tangan kiri
Sedang gemetar tangan kanannya
"Ayo ke warung bakso pak Beduk
Pak Kades berbagi  bantuan dari Kota hari ini"

LPP RRI Ende Selenggarakan Lomba Bercerita Secara Virtual

Belum lama ini Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) di Ende membuka pendaftaran  Lomba Bercerita dengan Harapan Secara Virtual. Karena secara virtual maka teknis perlombaan dilaksanakan dengan cara para peserta mengirimkan naskah lomba dan audio pembacaan cerita yang mereka buat. 
Semua rekaman suara peserta diputar pada Jumat 21 Agustus 2020 di ruang multipurpose (Studio) LPP RRI Ende dan disiarkan secara langsung melalui Pro Satu dan Pro Dua RRI.  
Meski tanpa penonton dan peserta,  acara tetap terpandu dengan baik.  Acara dibuka oleh PLH LPP RRI lalu dilanjutkan dengan proses penjurian.  
Saya hadir saat itu menjadi salah satu jurinya. 

Ketika dihubungi oleh pihak RRI untuk menjadi juri pada perlombaan ini, saya langsung menjawab iya.  Yang pertama tentunya sebagai pegiat cerita,  kegiatan ini bagi saya menjadi kegiatan yang luar biasa.  Rasanya sudah cukup lama tidak ada kegiatan serupa ini, apalagi Ende baru saja kembali masuk dalam zona merah. 
Yang ke dua yang sangat penting adalah terobosan yang dibuat LPP RRI menyadarkan saya bahwa sejak pandemi ini,  kita terlalu sibuk mengurusi apa yang kita pikirkan dan cemaskan.  Kita nyaris menutup telinga dari pikiran dan kecemasan serta harapan yang dialami dan dirasakan anak-anak kita.  Situasi batin yang terbentuk akibat pandemi ini.  Bagaimana kesulitan terdalam yang mereka alami.  Apa saja kerinduan mereka karena banyak model aktivitas yang berubah. Terima kasih banyak RRI. 

Dalam bayangan saya,  lomba sejenis ini dalam situasi begini tentunya akan sepi oleh partisipasi.  Namun dugaan saya meleset.  27 naskah dan audio masuk ke sekretariat panitia.  

Sepanjang proses penjurian, anak-anak ini sungguh membuat takjub. Dua orang anak bahkan sukses membuat saya berurai air mata.  
Cerita perasaan mereka begitu nyata.  Mimpi-mimpi yang sederhana namun luar biasa adanya membuat saya merasa bahwa masa depan ini butuh selalu dibimbing dan disemangati.  

Pada umumnya mereka rindu bersekolah lagi.  Mereka rindu kebebasan bermain yang tidak terbatas dinding rumah. Rindu pada pelukan antar teman.  Yang pling sepeleh dan menjadi penting adalah rindu uang jajan.  Hahhaha.  Ini bagian yang sempat membuat saya ngakak.  
Begitulah anak-anak.  Jujur dan apa adanya.  

Kegiatan penjurian yang berlangsung hampir 3 jam berujung pada penetapan lomba. 3 anak terbaik terpilih berdasarkan kriteria materi,  harmonisasi,  penghayatan dan kreativitas.  Mereka adalah Maria Aurelia Bunga,  Martina AJ Waja dan Otniel Alden Wijoseno.  
Salah satu dari pemenangnya mengungkapkan sebuah bentuk keprihatinan sosial yang bagi saya sangat luar biasa. Hal ini  membuatnya unggul daripada anak lainnya menurut saya. Teks karyanya menjadi sangat berbeda dari teman lainnya. Hebat semuanya ya.  Anak-anak memang selalu mengagumkan.  

Berikut saya berikan beberapa catatan kritis yang saya temukan selama penjurian.
Siapa tahu,  bisa catat. Kalau tidak dijadikan pedoman,  paling kurang kertasnya bisa dipakai sebagai bungkus pisang goreng.  Hahahhhahahaha

Ayo kita serius.  
1. Materi
*Beri ruang yang luas bagi anak untuk berkreasi.  
Penting bagi guru maupun pembimbing untuk memurnikan tujuan keikutsertaan anak murid/bimbingannya. Ruang menguji kreatifitas dan menimba pengalaman adalah bagian penting selain harus menjadi juara.  Karena ceritanya adalah karya anak-anak,  maka kurangi intervensi guru dalam alur cerita dan pemilihan kata apalagi kata-kata yang kesannya sangat tinggi sulit dijangkau anak-anak.  
Sebaiknya guru tampil sebagai pendamping yang membimbing dan memperbaiki tanpa menghilangkan ciri kepolosan anak-anak.  
Anak-anak dalam bahasa mereka sudah lebih dari cukup.  Tak perlu kita tambah supaya menjadi nampak ilmiah. 
Intinya,  biarkan anak berkreasi.  
*Materi cerita hanya akan menjadi kaya jika anak selalu dibiasakan membaca.  Membaca buku cerita tentunya.  Nah kalau urusan ini,  bisalah mampir Rumah Baca Sukacita Ende.  Kami sediakan banyak buku yang bisa dibaca secara gratis. (Ini bukan sekedar promosi.  Ini kesempatan langka.. Hehehhe) 
*Susunlah naskah sesuai persyaratan lomba.  Dibuat dengan cara penulisan yang baik.  Pada bagian ini,  peran guru ataupun pendamping sangat diperlukan. 
2. Cara Membaca
*. Membaca akan menjadi mudah jika karya dibuat sendiri, sehingga anak-anak bisa mengikuti alurnya.  Biasakan anak membaca 2-3 kali agar bisa mendapatkan gaya yang mereka mau
*Latihlah anak untuk mengucapkan huruf vocal dan konsonan dengan baik sehingga membantu artikulasinya.  Sering terjadi,  banyak huruf akhir yang gelap bahkan lenyap.  Ini butuh perhatian sungguh.  
*Latih juga anak berekspresi sedih,  marah,  bahagia,  terkejut, mengajak,  berharap.  
*Biarkan anak membaca dalam situasi menyenangkan.  Jangan memaksa dengan banyak beban.  Kita sebagai pendamping yang harus bertahan  untuk tidak lebih stres dari anak. 
*Terakhir,  buat anak-anak.  Berlatihlah, berlatih, terus berlatih dan jangan lupa bahagia.  

Salam sukses buat 27 anak luar biasa yang sudah berlomba.  Selamat buat 3 orang pemenang.  Teruslah bermimpi dan bergembira.

Ende,  24 Agustus 2020

Minggu, 23 Agustus 2020

Rindu Sekolah

.               Ilustrasi: Afrizal - radarkediri

"Mama, aku rindu sekolah
Sekolah di rumah membuatku lelah
Aku ingin bermain dengan teman-teman,
rindu diajari guru"

"Ya, Nak, besok kita ke sekolah,
apa yang harus Mama siapkan terlebih dahulu?"

"Uang jajan lah, Ma!
Untukku."

Cinta Sang Nyamuk

Seekor anak nyamuk hendak berkelana
Pamit pada mamaknya yang menangis tak rela

"Jangan pergi nak bisa cilaka. 
Cinta bisa kalah saat lapar melanda"

Anak nyamuk tak peduli pada air mata mamaknya
Sejak bertemu sang cicak di kantor Desa
Dia tahu,  inilah masa depannya.  


Hari Raya


https://images.kontan.co.id/kartun_benny

Marta pulang dari pasar
Tergopoh-gopoh menemui sang suami yang mendengkur
Geradus, tak cukup uang belanja kita
Harga barang mengangkasa
Sekarang sedang hari raya corona.  

Move On

Minggu pagi kelabu
Penghuni kalbu pergi meragu
Tawapun luruh  mengabu
Sudah tiba saatnya berlalu

Ekspektasi

Aku tahu aku bukan pilihanmu
Wajahku tak seelok anganmu
Bibirku tak semerah mimpimu
Tubuhku tak sesintal hayalanmu

Aku tahu aku bukan pilihanmu
Karena aku hidup dalam nyatamu
Bukan lahir dari lamunanmu

Rindu

Sebuah pesan mampir di telingaku
Aku selalu merindumu,  ucapmu
Ah,  aku juga pernah merindumu
Namun aku lebih sering mendengkur di bilik rindu

Ada Anak Bertanya Padaku (2)

Ilustrasi kecanduan media sosial(myella)

Pada lain waktu
Anak itu datang lagi padaku
Wajahnya masih menunduk malu-malu
Ucapnya tak jelas dan menggagu

"Ibuku sudah kembali padaku
Tapi dia lupa anaknyalah aku"

Ada Anak Bertanya Padaku

Ilustrasi kecanduan media sosial(myella)

Ada suatu ketika
Seorang anak datang padaku dan berkata

"Jika Tuhan ada di atas langit sana
Mungkinkah ibuku juga di sana?"

Aku menatapnya yang tertunduk malu
Mengapakah gerangan ia bertanya padaku
Sedang ibunya di sana terduduk membisu
Menatap layar handphone dan tersipu-sipu

Ende,  24 Agustus 2020

Sabtu, 22 Agustus 2020

IBU WENNY DAN DUA BOCAH ITU


Masih ingat peristiwa pengeboman di Surabaya pada tahun  2018? Gereja Santa Maria Tak Bercela adalah salah satu lokasi terjadinya tragedi menyedihkan itu . Kisah-kisah pilu hadir di sana. Salah satunya yang menimpa sebuah keluarga yang hari itu datang dengan sebuah niat untuk beribadah. Keluarga religius itu harus kehilangan dua orang anaknya yang masih kecil. Sungguh kuncup itu layu sebelum mekar. 
Saya lalu membuat sebuan catatan hati sebagai sesama ibu kepada sang  Ibu yang sedang kehilangan saat itu. 

Saya tidak mengenal siapa Ibu Wenny. Namanya baru dikenal luas di media sosial, Facebook, usai bom mengguncang Kota Surabaya di tiga rumah ibadah Kristen, 13 Mei kemarin.

Salah satu rumah ibadah itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela, tempat Ibu Wenny dan dua putranya merayakan Ekaristi setiap Minggu.

Mereka adalah korban kejamnya bom pagi itu. Ibu Wenny dirawat intensif. Sedangkan anaknya, Evan telah mengembuskan napas dan pergi untuk selamanya.

Sebagaimana Ibu Wenny, Nathanael juga berjuang untuk hidup dalam perawatan intensif. Namun Tuhan berencana berbeda, Nathanael pun menutup mata selama-lamanya, menyusuli Evan, sang kakak.

***

Mata banyak orang mungkin lebih tertuju pada dua bocah tak berdosa itu. Pada nurani saya, wajah Ibu Wenny justru hadir lebih menggugah.

Sebagai seorang ibu yang sangat mencintai anak-anak, saya sangat terenyuh, batin bergejolak, rasanya sangat susah menerima kenyataan yang memilukan ini.

Ibu seperti saya, harus rela kehilangan dua buah rahim sekaligus. Bagaimana rasa duka itu kalau saya adalah Ibu Wenny? Apakah sanggup?

Dalam benak ini, saya membayangkan Ibu Wenny yang terluka mendalam. Dia merontak. Dia marah. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia mengutuk pelaku pengeboman.

Namun ahhhh.... ternyata dugaan saya meleset, dan jauh sekali. Serupa Bunda Maria, Ibu Wenny malah menyimpan semua perkara itu di hatinya yang paling dalam.

Maria ketika Putra yang ia kasihi disiksa di depan matanya, menderita disalibkan, dan saat jenazah buah rahimnya itu dbaringkan dalam pelukannya, hanya air mata duka menetes di pipinya, menghiasi wajah pilunya.

"Dia menyimpan semua perkara itu dalam hati keibuannya yang luas bagai samudera."

***

"Saya telah memaafkan mereka yang melakukan kejahatan ini, yang menyebabkan nyawa dua anak saya melayang." Begitu tutur Ibu Wenny.

Bahkan Ibu Wenny juga menguatkan orang-orang di sekitarnya yang menangisi dua bocahnya. Dia tenang, iklaskan mereka pergi selamanya.

***

Ibu Wenny. Dua jagoanmu telah bersama Penciptanya. Mereka berbahagia bersama Kristus yang kita imani, yang telah menyediakan tempat tinggal paling aman bagi kita.

Hatimu, Ibu. Hatimu yang penuh kasih itu dan ketegaranmu itu, menjadi sebuah teladan berharga bagi kami sesamamu Ibu.

Salam dan doa dari saya yang juga seorang Ibu sepertimu, Mama Crespo.

Ende,  18 Mei 2018

Ketika Tuhan Memilih

DIA memilihmu tanpa kompromi.
DIA memilihmu tanpa bertanya, apakah Dikau sanggup

DIA memilihmu, Bapak, untuk memimpin Kab. Ende
DIApun memilihmu, Bapak, untuk sebuah tugas yang lain. 
Bukan. Bukan di sini.
Di sebuah tempat yang lain
Tempat yang ke sana pula kami akan pergi.

PilihanNya menngharuskan Bapak pergi. 
Pintunya hanya satu : Kematian. 
Dan untuk tanpa kompromi dan bertanya itu, kami harus mengatakan dalam linangan air mata penuh keyakinan, Bapak pasti damai dalam tugas di keabadian. 

Selamat jalan, Pak Bupati kami.
Pengabdianmu hingga akhir hayat menyisakan kenangan dan kebanggan.

*Puisi ini saya buat di hari kematian Beliau.  Puisi ini dipakai dalam siaran di RRI selama masa perkabungan. 

Apakah yang Harus Kami Lakukan?

Minggu itu berlalu tanpa pagi
Pagi kami telah menjelma menjadi mata air, air mata 
Segala kantuk terusir gelisah
Dada kami bergemuruh saat berita kepergianmu tiba
Dan kami tak tahu apa yang harus kami lakukan

Beribu kenangan muncul silih berganti.
Tidak. 
Ini pasti hanya mimpi
Dengan keras kami menyangkal. 
Malam belum berlalu. Kami harus tidur lagi, karena esok kita akan bertemu dalam rutinitas pelayanan kita. 
Dan Bapa akan berdiri di hadapan kami 
dengan tatapan dan suara yang khas, gagah, berwibawa. 
Namun saat mata kami terbuka, yang kami jumpai hanya semakin banyak kenyataan.
Kau pergi Bapak. 
Pergi meninggalkan kami semua dalam diam yang sepi.
Tanpa kata. 
Hilang dan tak akan pernah kembali lagi. 
Lunglai seluruh raga. 

Sekuat kami berusaha menutup mata agar hari menjadi mimpi, sekuat itupun kenyataan memaksa kami untuk berkata, inilah kebenarannya.  
Dan untuk ketidakberdayaan ini, sungguh kami tak tahu, apa yg harus kami lakukan.

Bulir-bulir duka kami menggenang.
Mengenang cita dan cintamu pada tanah ini. 
Perjuangan dan semangatmu. 
Mimpi dan langkah-langkah hebat yang kau tempuh. 
Lalu tetes dukapun berguguran
Di hati kami, 
Di wajah kami. 
Di langit bumi pancasila. 
Sekali lagi kami tak tahu apa yang harus kami lakukan,  selain bertanya.
Mengapa? 
Mengapa Tuhan Kau ambil Dia. 
Mengapa harus secepat ini?
Mengapa sekarang? Mengapa?

Bapa... 
Takdir Tuhan tak dapat kami lawan.
Sekuat apapun kami memohon. 
Serendah apapun kami tersungkur. 
Sekeras apapun kami berteriak agar Ia sudi mengembalikanmu kepada kami. 
Tak sekalipun Ia bergeming. 
KehendakNYA lebih besar dari apa yang kami inginkan.
Sekali lagi kami bertanya, apalagi yang harus kami lakukan????

Bapa.....Tuhan mencintaimu dengan cara yang tak dapat kami pahami.
Ia memilihmu dengan cara yang juga tak kami mengerti.
Namun janjiNya tak berubah. 
Keselamatan dalam kedamaian abadilah dermaga akhir itu. 

Sungguh, Kami  harus menerima kenyataan ini agar kami ingat, apa yang harus kami lakukan untuk membalas cinta yang telah Bapak buktikan kepada Kami.

Garuda akan terus melangit dari Ende untuk Indonesia, Demikian kami akan meneruskan nafas perjuangan yang Bapa gaungkan hingga akhir hayat. 
Menyatu dalam perbedaan tanpa menghilangkannya.
Tanah leluhur akan selalu kami jaga dan rawat. 

EMA Kami, Bapa Marsel Petu
Selamat jalan. 
Beristirahatlah dalam damai.
Sampai berjumpa di keabadian.

Ev Sare
28/05/2019
*Puisi ini Saya buat untuk dibacakan saat pemakaman atas permintaan Ipar saya Dessy Natalia

WATU KABEA (Bahasa Indonesia)

 

Doc: https://pixabay.com/id/photos/batu-hutan-alam-pemandangan-3962/

Di sebuah Dusun, hiduplah keluarga  Mo’at Dewa. Mo’at Dewa  memiliki 4 orang anak yang terdiri dari 2 anak  perempuan  dan 2 anak lak-laki. Merka adaalah keluarga yang sangat sederhana.

Suatu waktu, sebuah wabah peyakit menyerang dusun itu. Banyak warga dusun yang meninggal termasuk Mo’at Dewa dan istrinya  Du’a Kasing . Maka, ke empat anak mereka: Inang si anak pertama, Mitang anak ke dua yang kulitnya hitam, Inggi anak ke tiga yang badannya tinggi dan besar dan utung si bungsu menjadi yatim piatu.

Kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka memiliki kebun tetapi karena masih anak-anak, mereka tidak dapat mengolah kebun tersebut. Akibatnya, mereka perlahan-lahan menghabiskan semua persediaan makanan, peninggalan ornag tua mereka.

Ketika sudah benar-benar habis persediaan makanan, maka laparlah mereka berempat.

Sang kakak berpikir keras, apa yang harus ia lakukan. Mau meminta, ia tahu, tidak akan mungkin diberi. Ketika sedang terduduk merasa lapar, datanglah Inggi dan Utung membawa beberapa ekor Belalang yang mereka tangkap saat mereka bermain. Keduanya segera cepat-cepat menyalakan perapian dan mulai membakar belalang-belalang tersebut dan cepat-cepat pula menyantapnya tanpa membagikan kepada kedua kakak perempuan mereka. Sang Kakak menatap kedua adiknya sambil menahan  air liurnya yang menetes karen lapar.

Tiba-tiba Mitang berteriak gembira : “Kaka Inang, dengar!  Itu suara alu dan lesung. Di dusun, mama-mama pasti sedang menumbuk padi.  Mari kita kumpulkan biji-biji padi yang terjatuh dari lesung”

Maka berlarilah mereka berdua sambil membawa sebuah tempurung di tangan masing-masing.

Mereka mendekati ibu-ibu yang sedang menumbuk padi dan mulai mengumpulkan tiap biji padi yang tertumpah dari lesung. Sekalipun diusir dan dipukuli dengan alu, mereka tetap berusaha mendekati dan memungut butir-butir padi hinga penuh dalam tempurung mereka. Lalu berlarilah mereka kembali ke rumah. Dengan segera, padi-padi yang terkumpul mereka tumbuk dan mereka olah menjadi bubur panas yang lezat. Kedua adik mereka menatap dengan penuh rasa ingin, tetapi mereka takut meminta karena mereka sebelumnya tidak membagikan belalang mereka untuk kedua kakaknya.

Sang kakak yang penuh kasih, tetap saja membaginya dalam 4 piring lalu mengajak kedua adik laki-lakinya ikut serta menikmati bubur yang lezat itu. Dengan malu-malu, keduanya ikut menyantap dan berterima kasih kepada kakaknya yang murah hati.

Pada suatu hari, Inggi berlari ke rumah dan menyampaikan pada kedua kakaknya bahwa mereka menemukan banyak Belalang. Mendengar hal itu, mereka berempat segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Inggi. Ternyata memang ada banyak sekali Belalang. Sementara ke tiga adiknya menangkap belalang, Inang  membuat perapian. Ketika semua telah terkumpul, kakak beradik itu membakar dan memakan Belalang yang meraka tangkap, hingga mereka sadar ternyata mereka tidak membawa air minum. Di sekitar mereka juga tidak ditemukan Pohon Kelapa yang buahnya bisa digunakan untuk minum. Mereka lalu berjalan memasuki hutan untuk menemukan sumber mata air. Belum jauh mereka berjalan, mereka melihat asap mengepul di depan mereka.

“Hei lihat. Itu asap perapian”, Inggi menunjuk ke sebuah arah

“Oh iya benar. Artinya, ada rumah di dekat sini. Ayo kita mampir dan meminta air”, kata Mitang.

Maka berjalanlah mereka hingga sampai di sebuah gubuk kecil milik seorang Nenek tua yang wajahnya sangat seram. Adik-adiknya sangat ketakutan, tetapi Inang lebih memikirkan keadaan adik-adiknya yang kehausan. Maka dia beranikan diri untuk meminta pada nenek itu.

“Nenek, kami haus sekali. Boleh ka kami meminta air?”

“Air? Saya tidak punya air. Tetapi kalau haus, saya biasa makan buah Semangka. Kalian mau buah semangka? Boleh. Asalkan sesudah itu, kamu mau mencari kutu di kepala saya”

Inang mulai mencium sesuatu muslihat. Dia berpikir, kalau saat itu mereka berlari, pasti akan sangat berbahaya. Maka diapun berkata :

“Baik Nenek. Tapi, biar saya saja yang mencari kutu. Kalau adik-adik saya ikut mencari, saya akan menjadi sangat repot. Saya saja”

Sang Nenekpun menyetujui permintaan sang Kaka. Dia mengeluarkan sebuah semangka dan memberikan kepada ke 4 kakak beradik itu.

Selesai makan, Sebelum memulai mencari kutu, Inang meminta ijin pada Nenek itu untuk menghantar adik-adiknya ke luar dari gubuk dan meminta mereka segera kembali ke Dusun. Adik-adiknya menangis tak mau berpisah dengannya. Tapi Inang memaksa. Akhirnya dengan menangis, mereka pergi juga.

Inang mulai mencari kutu di kepala  si Nenek. Ternyata kutu yang dimaksudkan oleh si nenek adalah berbagai jenis serangga mengerikan. Inang berusaha sekuat tenaga agar tidak tersengat serangga-serangga itu. Ket

ika sibuk mencari kutu,  tiba-tiba kuping sang nenek membesar. Inangpun segera berteriak menyampaikan kepada nenek tentang kupingnya. Namun si nenek memarahi dia dan menyuruhnya untuk melanjutkan mencari kutu. Kupingpun mengecil kembali. Tidak berselang lama, kuping sang nenek kembali membesar  dan seketika itu juga kuping itu menelan Inang.

Susah payah ia berjuang untuk lepas dari cengkraman kuping sang nenek tetapi cengkramannya makin kuat hingga ia kelelahan dan pingsan.

Segera sang nenek memanggil 2 ekor anjingnya yang bernama Rajo dan Rebang.  Sambil berteriak  Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng ei naput wi lau,  mereka mulai berlari hingga sampai ke sebuah batu yang sangat besar.

Sang nenekpun mulai merapal mantara : “Kabea-bea watu ka bea-bea”. Seketika batupun terbelah dan nampaklah sebuah gua yang sangat besar. Nenek lalu mengeluarkan Inang dari telinganya dan meletakkannya dalam gua itu. Lalu, I kembali merapal mantra : “Ka temi-temi watu ka temi-temi”  dan batupun tertutup kembali. Sang nenek lalu  kembali ke pondok untuk menyiapkan pesta makan malam yang istimewa. Dengan kedua ekor anjingnya dia kembali berlari sambil berteriak : “Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng, ei naput wi reta”

 

Sepeninggalan nenek sihir itu, tiba-tiba, dari balik belukar, munculah 3 orang anak. Mereka adalah adik-adik si Inang.

“ Kaka, bagaimana sudah cranya.  Kita harus kasih keluar kaka Inang?”, Utung mulai menangis lagi.

“He.. Sa tau. Nenek tadi ada baca mantra. Kamu dengar ka tidak?”, Mitang mulai bicara

“Ow iya.  Sa dengar. Ayo kita coba”, kata Inggi

Maka mulailah Inggi berkata : Ka bea-bea watu ka bea-bea

Benar saja. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan batu itupun terbelah. Mereka segera menjenguk ke dalam dan menemukan sang kakak. Membangunkannya  lalu cepat-cepat keluar dari batu besar itu. Sebelum pergi, Inggi kembali berkata:

“Ka temi-temi watu ka temi-temi.” Dan batupun kembali menutup.

 Inang memeluk adik-adiknya.

“Tadi waktu kakak suruh kami pulang, kami tidak pulang, kaka. Kami tunggu di dekat gubuk, sampai kami lihat nene itu lari dengan 2 ekor anjingnya. Kami terus ikuti mereka sampai ke batu ini.”, kata Mitang kepada kakaknya.

“Terima kasih. Kamu sudah selamatkan kakak”

“Kaka sudah selamatkan kami dengan mengorbankan diri kakak untuk kami. Kami harus buat sesuatu juga buat kaka”

Lalu mereka segera berlari, kembali ke dusun mereka. Mereka terus bersama. Saling menjaga dan saling menyayangi.

 

Sepucuk Surat dari Seorang Ibu di Ruang Karantina Tenaga Medis

Anakku sayang
Apa kabarmu, Nak? Apa kabar aadikmu? Bagaimana dengan Bapakmu?
Mama berharap, dalam kerinduan mama, kamu semua baik-baik saja. 

Apakah adikmu masih menangis memanggil mama dalam tidurnya?
Kamu masih ingat apa yang mama pesan, kan?

Ambil baju dinas mama, yang mama tinggalkan di dalam lemari dan biarkan tubuhnya hangat dalam pelukan baju hebat itu. Sama seperti mama berjuang menjaga dan melindungi orang-orang yang menjadi tanggung jawab pelayanan bersama teman-teman mama dalam balutan baju itu.

Jangan lupa, Nak. Sesekali nyanyikan lagi lagu untuknya, lagu yang biasa mama nyanyikan untukmu saat dulu. Katakan padanya, mama mencintainya. 

Sayang…
Malam kemarin hujan mengguyur rumah sakit. Ada seorang pak tua, seumuran kakekmu yang tiba-tiba menangis. Ia menangis sedih memanggil-manggil nama seseorang.

Dia trauma pada hujan. Mama dan seorang teman mendekatinya dalam lelah, lantas saat itu jarum jam menunjukkan pukul 02.45 pagi. Mama tak kuat berdiri dari kursi. Tapi, Mama ingat pernah berjanji pada diri nurani, agar setia yang mama ikrarkan tidak hanya menjadi pemoles bibir tak berarti.

Kakek itu menangis. Mengingat cucunya seusiamu yang sendirian di rumah mereka yang atapnya bocor dan kebanjiran saat hujan. 
Cucunya tidak dirawat. Imun tubuhnya kuat melawan virus yang menyerang dia dan kakeknya. 

Kakek itu akhirnya tertidur, setelah pertolongan yang kami lakukan akibat sesak nafas. Air mata mama diam-diam menetes di balik google safety, hingga lupa kalau mama lelah. 

Anakku... Malam ini, mama baru saja menyelesaikan Dinas malam yang kedua. Puji Tuhan, Nak. Semalaman ini, tak ada hal gawat yang terjadi. Mama ingin kau tahu, bahwa mama selalu berjuang untuk tetap sehat dan kuat. Hingga semua berlalu. 

Saat mama merindukan kalian, mama selalu menyentuh dada mama yang tertutup hazmat yang panas ini. 
Ketika mama rasakan debaran jantung mama, ada kehadira tiga sosok penguat dalam hidup mama. Kau, adikmu dan Bapakmu. Yang selalu mama cinta. Yang selalu mama bawa dalam hati mama. Agar mama bukan saja nyaman tetapi menjadi lebih kuat sekalipun kita berjauhan. 

Sayang...
Mama sungguh belum bisa pulang. 
Hari ini bertambah jumlah pasien yang harus mama dan teman-teman tangani. Tiap melihat mereka yang berdatangan, penuh kesedihan  ada rasa cemas mendera dalam hati, menghantam jantung, memukul nurani, Sayang. Tapi, Nak. kami dilatih, dituntut untuk memiliki semangat jauh lebih besar dari yang ada pada kami. Sehingga dalam letih dan kecemasan pun kami tetap mampu menyemangati mereka semua yang sakit, agar bersama-sama, kita menangkan pertandingan ini. 

Sayang, teman dokter mama sampaikan, bahwa upaya mencari vaksin ini terus dilakukan walaupun belum juga ditemukan. Kau tahu, untuk membuat lelah mama dan teman-teman dapat berkurang, semuanya tergantung kamu semua. 
Ketika kamu berjuang untuk memenuhi permintaan protokol kesehatan, kamu sungguh pelan-pelan menurunkan beban di pundak kami. Sungguh, musuh kita bersama hanya satu dan tak kelihatan. Dia terlalu amat mudah dikalahkan, jika kita mau dengan sungguh melakukannya.

Bantu mama, Nak. Katakan itu pada keluarga dan kenalan kita. Ikuti anjuran pemerintah. Lakukan yang bisa kamu lakukan dengan tertib, bahkan yang bukan merupakan kebiasaanmu. Bukan demi kamu sendiri, tetapi juga demi kami dan banyak orang di dunia ini, Sayang. 

Oh ya, kamu masih ingat, takaran kopi yang Bapakmu suka? Tanpa gula, Sayang. Bapak selalu bilang, senyum mama dan kamu semua adalah gula yang tak tergantikan setiap pagi ketika kopi disesapnya. 
Bilang pada Bapak, setiap pagi, mama ingat untuk tersenyum sama seperti tiap pagi ketika mama bawakan secangkir kopi untuk Bapak jika mama tidak berdinas malam. 

Ah.. Mama rindu suasana rumah kita. Mama rindu kesibukan kita di meja makan. Mama rindu kecupanmu di pipi sebelum ke sekolah. Mama rindu gelayut manja adikmu setiap pagi ketika ia terbangun dari tidur pulasnya. Lalu ia harus terbiasa melakukannya pada Bapak.
Oh, Sayang-sayangku. 

Putri terbesar Mama. Jaga dirimu, Sayang. Maafkan mama, gadis kesayanganku. Sungguh! Maafkan, mama. Demi orang-orang yang bahkan tak mama kenal, mama memberikanmu tugas sebesar ini.
Terima kasih anakku. Banyak orang selalu mengatakan bahwa kami, tenaga medis adalah garda terdepan penyembuhan, sesungguhnya, kamu semua, keluarga kami, adalah penyokong dan  kekuatan terbesar kami untuk terus maju dan berjuang. 

Ingatlah untuk terus berdoa, agar semua ini berlalu. Dan kita akan berkumpul lagi dalam  keadaan sehat. Rindu mama selalu untukmu semua. Makin hari terus bertambah dan ketika bertambah, mama semaki kuat berjuang melayani banyak orang, karena mama ingat, kau selalu bilang, mama, wanita perkasa kesayanganmu.  

Sayang.. Mama mengasihimu semua. 
Salam, doa dan peluk hangat mama. 
Jangan takut, Nak. Jangan panik. Tuhan memberkati kita semua. Semua akan segera berlalu, Sayang.

Cepatlah pulih, Bumiku!

Tertanda
Mama yang Selalu Mencintaimu

*) Doc : Instagram.com/alirezapakdel_artist

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...