Sabtu, 22 Agustus 2020

Sepucuk Surat dari Seorang Ibu di Ruang Karantina Tenaga Medis

Anakku sayang
Apa kabarmu, Nak? Apa kabar aadikmu? Bagaimana dengan Bapakmu?
Mama berharap, dalam kerinduan mama, kamu semua baik-baik saja. 

Apakah adikmu masih menangis memanggil mama dalam tidurnya?
Kamu masih ingat apa yang mama pesan, kan?

Ambil baju dinas mama, yang mama tinggalkan di dalam lemari dan biarkan tubuhnya hangat dalam pelukan baju hebat itu. Sama seperti mama berjuang menjaga dan melindungi orang-orang yang menjadi tanggung jawab pelayanan bersama teman-teman mama dalam balutan baju itu.

Jangan lupa, Nak. Sesekali nyanyikan lagi lagu untuknya, lagu yang biasa mama nyanyikan untukmu saat dulu. Katakan padanya, mama mencintainya. 

Sayang…
Malam kemarin hujan mengguyur rumah sakit. Ada seorang pak tua, seumuran kakekmu yang tiba-tiba menangis. Ia menangis sedih memanggil-manggil nama seseorang.

Dia trauma pada hujan. Mama dan seorang teman mendekatinya dalam lelah, lantas saat itu jarum jam menunjukkan pukul 02.45 pagi. Mama tak kuat berdiri dari kursi. Tapi, Mama ingat pernah berjanji pada diri nurani, agar setia yang mama ikrarkan tidak hanya menjadi pemoles bibir tak berarti.

Kakek itu menangis. Mengingat cucunya seusiamu yang sendirian di rumah mereka yang atapnya bocor dan kebanjiran saat hujan. 
Cucunya tidak dirawat. Imun tubuhnya kuat melawan virus yang menyerang dia dan kakeknya. 

Kakek itu akhirnya tertidur, setelah pertolongan yang kami lakukan akibat sesak nafas. Air mata mama diam-diam menetes di balik google safety, hingga lupa kalau mama lelah. 

Anakku... Malam ini, mama baru saja menyelesaikan Dinas malam yang kedua. Puji Tuhan, Nak. Semalaman ini, tak ada hal gawat yang terjadi. Mama ingin kau tahu, bahwa mama selalu berjuang untuk tetap sehat dan kuat. Hingga semua berlalu. 

Saat mama merindukan kalian, mama selalu menyentuh dada mama yang tertutup hazmat yang panas ini. 
Ketika mama rasakan debaran jantung mama, ada kehadira tiga sosok penguat dalam hidup mama. Kau, adikmu dan Bapakmu. Yang selalu mama cinta. Yang selalu mama bawa dalam hati mama. Agar mama bukan saja nyaman tetapi menjadi lebih kuat sekalipun kita berjauhan. 

Sayang...
Mama sungguh belum bisa pulang. 
Hari ini bertambah jumlah pasien yang harus mama dan teman-teman tangani. Tiap melihat mereka yang berdatangan, penuh kesedihan  ada rasa cemas mendera dalam hati, menghantam jantung, memukul nurani, Sayang. Tapi, Nak. kami dilatih, dituntut untuk memiliki semangat jauh lebih besar dari yang ada pada kami. Sehingga dalam letih dan kecemasan pun kami tetap mampu menyemangati mereka semua yang sakit, agar bersama-sama, kita menangkan pertandingan ini. 

Sayang, teman dokter mama sampaikan, bahwa upaya mencari vaksin ini terus dilakukan walaupun belum juga ditemukan. Kau tahu, untuk membuat lelah mama dan teman-teman dapat berkurang, semuanya tergantung kamu semua. 
Ketika kamu berjuang untuk memenuhi permintaan protokol kesehatan, kamu sungguh pelan-pelan menurunkan beban di pundak kami. Sungguh, musuh kita bersama hanya satu dan tak kelihatan. Dia terlalu amat mudah dikalahkan, jika kita mau dengan sungguh melakukannya.

Bantu mama, Nak. Katakan itu pada keluarga dan kenalan kita. Ikuti anjuran pemerintah. Lakukan yang bisa kamu lakukan dengan tertib, bahkan yang bukan merupakan kebiasaanmu. Bukan demi kamu sendiri, tetapi juga demi kami dan banyak orang di dunia ini, Sayang. 

Oh ya, kamu masih ingat, takaran kopi yang Bapakmu suka? Tanpa gula, Sayang. Bapak selalu bilang, senyum mama dan kamu semua adalah gula yang tak tergantikan setiap pagi ketika kopi disesapnya. 
Bilang pada Bapak, setiap pagi, mama ingat untuk tersenyum sama seperti tiap pagi ketika mama bawakan secangkir kopi untuk Bapak jika mama tidak berdinas malam. 

Ah.. Mama rindu suasana rumah kita. Mama rindu kesibukan kita di meja makan. Mama rindu kecupanmu di pipi sebelum ke sekolah. Mama rindu gelayut manja adikmu setiap pagi ketika ia terbangun dari tidur pulasnya. Lalu ia harus terbiasa melakukannya pada Bapak.
Oh, Sayang-sayangku. 

Putri terbesar Mama. Jaga dirimu, Sayang. Maafkan mama, gadis kesayanganku. Sungguh! Maafkan, mama. Demi orang-orang yang bahkan tak mama kenal, mama memberikanmu tugas sebesar ini.
Terima kasih anakku. Banyak orang selalu mengatakan bahwa kami, tenaga medis adalah garda terdepan penyembuhan, sesungguhnya, kamu semua, keluarga kami, adalah penyokong dan  kekuatan terbesar kami untuk terus maju dan berjuang. 

Ingatlah untuk terus berdoa, agar semua ini berlalu. Dan kita akan berkumpul lagi dalam  keadaan sehat. Rindu mama selalu untukmu semua. Makin hari terus bertambah dan ketika bertambah, mama semaki kuat berjuang melayani banyak orang, karena mama ingat, kau selalu bilang, mama, wanita perkasa kesayanganmu.  

Sayang.. Mama mengasihimu semua. 
Salam, doa dan peluk hangat mama. 
Jangan takut, Nak. Jangan panik. Tuhan memberkati kita semua. Semua akan segera berlalu, Sayang.

Cepatlah pulih, Bumiku!

Tertanda
Mama yang Selalu Mencintaimu

*) Doc : Instagram.com/alirezapakdel_artist

2 komentar:

  1. Semua akan segera berlalu.😇

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Tetap berjuang agar tidak makin menambah beban berat di pundak mereka (Nakes). Tuhan berkati kita semua.

      Hapus

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...