Senin, 24 Agustus 2020

LPP RRI Ende Selenggarakan Lomba Bercerita Secara Virtual

Belum lama ini Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) di Ende membuka pendaftaran  Lomba Bercerita dengan Harapan Secara Virtual. Karena secara virtual maka teknis perlombaan dilaksanakan dengan cara para peserta mengirimkan naskah lomba dan audio pembacaan cerita yang mereka buat. 
Semua rekaman suara peserta diputar pada Jumat 21 Agustus 2020 di ruang multipurpose (Studio) LPP RRI Ende dan disiarkan secara langsung melalui Pro Satu dan Pro Dua RRI.  
Meski tanpa penonton dan peserta,  acara tetap terpandu dengan baik.  Acara dibuka oleh PLH LPP RRI lalu dilanjutkan dengan proses penjurian.  
Saya hadir saat itu menjadi salah satu jurinya. 

Ketika dihubungi oleh pihak RRI untuk menjadi juri pada perlombaan ini, saya langsung menjawab iya.  Yang pertama tentunya sebagai pegiat cerita,  kegiatan ini bagi saya menjadi kegiatan yang luar biasa.  Rasanya sudah cukup lama tidak ada kegiatan serupa ini, apalagi Ende baru saja kembali masuk dalam zona merah. 
Yang ke dua yang sangat penting adalah terobosan yang dibuat LPP RRI menyadarkan saya bahwa sejak pandemi ini,  kita terlalu sibuk mengurusi apa yang kita pikirkan dan cemaskan.  Kita nyaris menutup telinga dari pikiran dan kecemasan serta harapan yang dialami dan dirasakan anak-anak kita.  Situasi batin yang terbentuk akibat pandemi ini.  Bagaimana kesulitan terdalam yang mereka alami.  Apa saja kerinduan mereka karena banyak model aktivitas yang berubah. Terima kasih banyak RRI. 

Dalam bayangan saya,  lomba sejenis ini dalam situasi begini tentunya akan sepi oleh partisipasi.  Namun dugaan saya meleset.  27 naskah dan audio masuk ke sekretariat panitia.  

Sepanjang proses penjurian, anak-anak ini sungguh membuat takjub. Dua orang anak bahkan sukses membuat saya berurai air mata.  
Cerita perasaan mereka begitu nyata.  Mimpi-mimpi yang sederhana namun luar biasa adanya membuat saya merasa bahwa masa depan ini butuh selalu dibimbing dan disemangati.  

Pada umumnya mereka rindu bersekolah lagi.  Mereka rindu kebebasan bermain yang tidak terbatas dinding rumah. Rindu pada pelukan antar teman.  Yang pling sepeleh dan menjadi penting adalah rindu uang jajan.  Hahhaha.  Ini bagian yang sempat membuat saya ngakak.  
Begitulah anak-anak.  Jujur dan apa adanya.  

Kegiatan penjurian yang berlangsung hampir 3 jam berujung pada penetapan lomba. 3 anak terbaik terpilih berdasarkan kriteria materi,  harmonisasi,  penghayatan dan kreativitas.  Mereka adalah Maria Aurelia Bunga,  Martina AJ Waja dan Otniel Alden Wijoseno.  
Salah satu dari pemenangnya mengungkapkan sebuah bentuk keprihatinan sosial yang bagi saya sangat luar biasa. Hal ini  membuatnya unggul daripada anak lainnya menurut saya. Teks karyanya menjadi sangat berbeda dari teman lainnya. Hebat semuanya ya.  Anak-anak memang selalu mengagumkan.  

Berikut saya berikan beberapa catatan kritis yang saya temukan selama penjurian.
Siapa tahu,  bisa catat. Kalau tidak dijadikan pedoman,  paling kurang kertasnya bisa dipakai sebagai bungkus pisang goreng.  Hahahhhahahaha

Ayo kita serius.  
1. Materi
*Beri ruang yang luas bagi anak untuk berkreasi.  
Penting bagi guru maupun pembimbing untuk memurnikan tujuan keikutsertaan anak murid/bimbingannya. Ruang menguji kreatifitas dan menimba pengalaman adalah bagian penting selain harus menjadi juara.  Karena ceritanya adalah karya anak-anak,  maka kurangi intervensi guru dalam alur cerita dan pemilihan kata apalagi kata-kata yang kesannya sangat tinggi sulit dijangkau anak-anak.  
Sebaiknya guru tampil sebagai pendamping yang membimbing dan memperbaiki tanpa menghilangkan ciri kepolosan anak-anak.  
Anak-anak dalam bahasa mereka sudah lebih dari cukup.  Tak perlu kita tambah supaya menjadi nampak ilmiah. 
Intinya,  biarkan anak berkreasi.  
*Materi cerita hanya akan menjadi kaya jika anak selalu dibiasakan membaca.  Membaca buku cerita tentunya.  Nah kalau urusan ini,  bisalah mampir Rumah Baca Sukacita Ende.  Kami sediakan banyak buku yang bisa dibaca secara gratis. (Ini bukan sekedar promosi.  Ini kesempatan langka.. Hehehhe) 
*Susunlah naskah sesuai persyaratan lomba.  Dibuat dengan cara penulisan yang baik.  Pada bagian ini,  peran guru ataupun pendamping sangat diperlukan. 
2. Cara Membaca
*. Membaca akan menjadi mudah jika karya dibuat sendiri, sehingga anak-anak bisa mengikuti alurnya.  Biasakan anak membaca 2-3 kali agar bisa mendapatkan gaya yang mereka mau
*Latihlah anak untuk mengucapkan huruf vocal dan konsonan dengan baik sehingga membantu artikulasinya.  Sering terjadi,  banyak huruf akhir yang gelap bahkan lenyap.  Ini butuh perhatian sungguh.  
*Latih juga anak berekspresi sedih,  marah,  bahagia,  terkejut, mengajak,  berharap.  
*Biarkan anak membaca dalam situasi menyenangkan.  Jangan memaksa dengan banyak beban.  Kita sebagai pendamping yang harus bertahan  untuk tidak lebih stres dari anak. 
*Terakhir,  buat anak-anak.  Berlatihlah, berlatih, terus berlatih dan jangan lupa bahagia.  

Salam sukses buat 27 anak luar biasa yang sudah berlomba.  Selamat buat 3 orang pemenang.  Teruslah bermimpi dan bergembira.

Ende,  24 Agustus 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...