Sabtu, 22 Agustus 2020

WATU KABEA (Bahasa Indonesia)

 

Doc: https://pixabay.com/id/photos/batu-hutan-alam-pemandangan-3962/

Di sebuah Dusun, hiduplah keluarga  Mo’at Dewa. Mo’at Dewa  memiliki 4 orang anak yang terdiri dari 2 anak  perempuan  dan 2 anak lak-laki. Merka adaalah keluarga yang sangat sederhana.

Suatu waktu, sebuah wabah peyakit menyerang dusun itu. Banyak warga dusun yang meninggal termasuk Mo’at Dewa dan istrinya  Du’a Kasing . Maka, ke empat anak mereka: Inang si anak pertama, Mitang anak ke dua yang kulitnya hitam, Inggi anak ke tiga yang badannya tinggi dan besar dan utung si bungsu menjadi yatim piatu.

Kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka memiliki kebun tetapi karena masih anak-anak, mereka tidak dapat mengolah kebun tersebut. Akibatnya, mereka perlahan-lahan menghabiskan semua persediaan makanan, peninggalan ornag tua mereka.

Ketika sudah benar-benar habis persediaan makanan, maka laparlah mereka berempat.

Sang kakak berpikir keras, apa yang harus ia lakukan. Mau meminta, ia tahu, tidak akan mungkin diberi. Ketika sedang terduduk merasa lapar, datanglah Inggi dan Utung membawa beberapa ekor Belalang yang mereka tangkap saat mereka bermain. Keduanya segera cepat-cepat menyalakan perapian dan mulai membakar belalang-belalang tersebut dan cepat-cepat pula menyantapnya tanpa membagikan kepada kedua kakak perempuan mereka. Sang Kakak menatap kedua adiknya sambil menahan  air liurnya yang menetes karen lapar.

Tiba-tiba Mitang berteriak gembira : “Kaka Inang, dengar!  Itu suara alu dan lesung. Di dusun, mama-mama pasti sedang menumbuk padi.  Mari kita kumpulkan biji-biji padi yang terjatuh dari lesung”

Maka berlarilah mereka berdua sambil membawa sebuah tempurung di tangan masing-masing.

Mereka mendekati ibu-ibu yang sedang menumbuk padi dan mulai mengumpulkan tiap biji padi yang tertumpah dari lesung. Sekalipun diusir dan dipukuli dengan alu, mereka tetap berusaha mendekati dan memungut butir-butir padi hinga penuh dalam tempurung mereka. Lalu berlarilah mereka kembali ke rumah. Dengan segera, padi-padi yang terkumpul mereka tumbuk dan mereka olah menjadi bubur panas yang lezat. Kedua adik mereka menatap dengan penuh rasa ingin, tetapi mereka takut meminta karena mereka sebelumnya tidak membagikan belalang mereka untuk kedua kakaknya.

Sang kakak yang penuh kasih, tetap saja membaginya dalam 4 piring lalu mengajak kedua adik laki-lakinya ikut serta menikmati bubur yang lezat itu. Dengan malu-malu, keduanya ikut menyantap dan berterima kasih kepada kakaknya yang murah hati.

Pada suatu hari, Inggi berlari ke rumah dan menyampaikan pada kedua kakaknya bahwa mereka menemukan banyak Belalang. Mendengar hal itu, mereka berempat segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Inggi. Ternyata memang ada banyak sekali Belalang. Sementara ke tiga adiknya menangkap belalang, Inang  membuat perapian. Ketika semua telah terkumpul, kakak beradik itu membakar dan memakan Belalang yang meraka tangkap, hingga mereka sadar ternyata mereka tidak membawa air minum. Di sekitar mereka juga tidak ditemukan Pohon Kelapa yang buahnya bisa digunakan untuk minum. Mereka lalu berjalan memasuki hutan untuk menemukan sumber mata air. Belum jauh mereka berjalan, mereka melihat asap mengepul di depan mereka.

“Hei lihat. Itu asap perapian”, Inggi menunjuk ke sebuah arah

“Oh iya benar. Artinya, ada rumah di dekat sini. Ayo kita mampir dan meminta air”, kata Mitang.

Maka berjalanlah mereka hingga sampai di sebuah gubuk kecil milik seorang Nenek tua yang wajahnya sangat seram. Adik-adiknya sangat ketakutan, tetapi Inang lebih memikirkan keadaan adik-adiknya yang kehausan. Maka dia beranikan diri untuk meminta pada nenek itu.

“Nenek, kami haus sekali. Boleh ka kami meminta air?”

“Air? Saya tidak punya air. Tetapi kalau haus, saya biasa makan buah Semangka. Kalian mau buah semangka? Boleh. Asalkan sesudah itu, kamu mau mencari kutu di kepala saya”

Inang mulai mencium sesuatu muslihat. Dia berpikir, kalau saat itu mereka berlari, pasti akan sangat berbahaya. Maka diapun berkata :

“Baik Nenek. Tapi, biar saya saja yang mencari kutu. Kalau adik-adik saya ikut mencari, saya akan menjadi sangat repot. Saya saja”

Sang Nenekpun menyetujui permintaan sang Kaka. Dia mengeluarkan sebuah semangka dan memberikan kepada ke 4 kakak beradik itu.

Selesai makan, Sebelum memulai mencari kutu, Inang meminta ijin pada Nenek itu untuk menghantar adik-adiknya ke luar dari gubuk dan meminta mereka segera kembali ke Dusun. Adik-adiknya menangis tak mau berpisah dengannya. Tapi Inang memaksa. Akhirnya dengan menangis, mereka pergi juga.

Inang mulai mencari kutu di kepala  si Nenek. Ternyata kutu yang dimaksudkan oleh si nenek adalah berbagai jenis serangga mengerikan. Inang berusaha sekuat tenaga agar tidak tersengat serangga-serangga itu. Ket

ika sibuk mencari kutu,  tiba-tiba kuping sang nenek membesar. Inangpun segera berteriak menyampaikan kepada nenek tentang kupingnya. Namun si nenek memarahi dia dan menyuruhnya untuk melanjutkan mencari kutu. Kupingpun mengecil kembali. Tidak berselang lama, kuping sang nenek kembali membesar  dan seketika itu juga kuping itu menelan Inang.

Susah payah ia berjuang untuk lepas dari cengkraman kuping sang nenek tetapi cengkramannya makin kuat hingga ia kelelahan dan pingsan.

Segera sang nenek memanggil 2 ekor anjingnya yang bernama Rajo dan Rebang.  Sambil berteriak  Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng ei naput wi lau,  mereka mulai berlari hingga sampai ke sebuah batu yang sangat besar.

Sang nenekpun mulai merapal mantara : “Kabea-bea watu ka bea-bea”. Seketika batupun terbelah dan nampaklah sebuah gua yang sangat besar. Nenek lalu mengeluarkan Inang dari telinganya dan meletakkannya dalam gua itu. Lalu, I kembali merapal mantra : “Ka temi-temi watu ka temi-temi”  dan batupun tertutup kembali. Sang nenek lalu  kembali ke pondok untuk menyiapkan pesta makan malam yang istimewa. Dengan kedua ekor anjingnya dia kembali berlari sambil berteriak : “Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng, ei naput wi reta”

 

Sepeninggalan nenek sihir itu, tiba-tiba, dari balik belukar, munculah 3 orang anak. Mereka adalah adik-adik si Inang.

“ Kaka, bagaimana sudah cranya.  Kita harus kasih keluar kaka Inang?”, Utung mulai menangis lagi.

“He.. Sa tau. Nenek tadi ada baca mantra. Kamu dengar ka tidak?”, Mitang mulai bicara

“Ow iya.  Sa dengar. Ayo kita coba”, kata Inggi

Maka mulailah Inggi berkata : Ka bea-bea watu ka bea-bea

Benar saja. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan batu itupun terbelah. Mereka segera menjenguk ke dalam dan menemukan sang kakak. Membangunkannya  lalu cepat-cepat keluar dari batu besar itu. Sebelum pergi, Inggi kembali berkata:

“Ka temi-temi watu ka temi-temi.” Dan batupun kembali menutup.

 Inang memeluk adik-adiknya.

“Tadi waktu kakak suruh kami pulang, kami tidak pulang, kaka. Kami tunggu di dekat gubuk, sampai kami lihat nene itu lari dengan 2 ekor anjingnya. Kami terus ikuti mereka sampai ke batu ini.”, kata Mitang kepada kakaknya.

“Terima kasih. Kamu sudah selamatkan kakak”

“Kaka sudah selamatkan kami dengan mengorbankan diri kakak untuk kami. Kami harus buat sesuatu juga buat kaka”

Lalu mereka segera berlari, kembali ke dusun mereka. Mereka terus bersama. Saling menjaga dan saling menyayangi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...