Doc: https://pixabay.com/id/photos/batu-hutan-alam-pemandangan-3962/
Di
sebuah Dusun, hiduplah keluarga Mo’at
Dewa. Mo’at Dewa memiliki 4 orang anak
yang terdiri dari 2 anak perempuan dan 2 anak lak-laki. Merka adaalah keluarga
yang sangat sederhana.
Suatu
waktu, sebuah wabah peyakit menyerang dusun itu. Banyak warga dusun yang
meninggal termasuk Mo’at Dewa dan istrinya Du’a Kasing . Maka, ke empat anak mereka:
Inang si anak pertama, Mitang anak ke dua yang kulitnya hitam, Inggi anak ke
tiga yang badannya tinggi dan besar dan utung si bungsu menjadi yatim piatu.
Kehidupan
mereka sangat memprihatinkan. Mereka memiliki kebun tetapi karena masih
anak-anak, mereka tidak dapat mengolah kebun tersebut. Akibatnya, mereka
perlahan-lahan menghabiskan semua persediaan makanan, peninggalan ornag tua
mereka.
Ketika
sudah benar-benar habis persediaan makanan, maka laparlah mereka berempat.
Sang
kakak berpikir keras, apa yang harus ia lakukan. Mau meminta, ia tahu, tidak
akan mungkin diberi. Ketika sedang terduduk merasa lapar, datanglah Inggi dan
Utung membawa beberapa ekor Belalang yang mereka tangkap saat mereka bermain.
Keduanya segera cepat-cepat menyalakan perapian dan mulai membakar
belalang-belalang tersebut dan cepat-cepat pula menyantapnya tanpa membagikan
kepada kedua kakak perempuan mereka. Sang Kakak menatap kedua adiknya sambil
menahan air liurnya yang menetes karen
lapar.
Tiba-tiba
Mitang berteriak gembira : “Kaka Inang, dengar! Itu suara alu dan lesung. Di dusun, mama-mama
pasti sedang menumbuk padi. Mari kita
kumpulkan biji-biji padi yang terjatuh dari lesung”
Maka
berlarilah mereka berdua sambil membawa sebuah tempurung di tangan
masing-masing.
Mereka
mendekati ibu-ibu yang sedang menumbuk padi dan mulai mengumpulkan tiap biji
padi yang tertumpah dari lesung. Sekalipun diusir dan dipukuli dengan alu,
mereka tetap berusaha mendekati dan memungut butir-butir padi hinga penuh dalam
tempurung mereka. Lalu berlarilah mereka kembali ke rumah. Dengan segera,
padi-padi yang terkumpul mereka tumbuk dan mereka olah menjadi bubur panas yang
lezat. Kedua adik mereka menatap dengan penuh rasa ingin, tetapi mereka takut
meminta karena mereka sebelumnya tidak membagikan belalang mereka untuk kedua
kakaknya.
Sang
kakak yang penuh kasih, tetap saja membaginya dalam 4 piring lalu mengajak
kedua adik laki-lakinya ikut serta menikmati bubur yang lezat itu. Dengan
malu-malu, keduanya ikut menyantap dan berterima kasih kepada kakaknya yang
murah hati.
Pada suatu hari, Inggi berlari ke rumah dan menyampaikan pada kedua kakaknya bahwa mereka menemukan banyak Belalang. Mendengar hal itu, mereka berempat segera menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Inggi. Ternyata memang ada banyak sekali Belalang. Sementara ke tiga adiknya menangkap belalang, Inang membuat perapian. Ketika semua telah terkumpul, kakak beradik itu membakar dan memakan Belalang yang meraka tangkap, hingga mereka sadar ternyata mereka tidak membawa air minum. Di sekitar mereka juga tidak ditemukan Pohon Kelapa yang buahnya bisa digunakan untuk minum. Mereka lalu berjalan memasuki hutan untuk menemukan sumber mata air. Belum jauh mereka berjalan, mereka melihat asap mengepul di depan mereka.
“Hei
lihat. Itu asap perapian”, Inggi menunjuk ke sebuah arah
“Oh
iya benar. Artinya, ada rumah di dekat sini. Ayo kita mampir dan meminta air”,
kata Mitang.
Maka
berjalanlah mereka hingga sampai di sebuah gubuk kecil milik seorang Nenek tua
yang wajahnya sangat seram. Adik-adiknya sangat ketakutan, tetapi Inang lebih
memikirkan keadaan adik-adiknya yang kehausan. Maka dia beranikan diri untuk meminta
pada nenek itu.
“Nenek,
kami haus sekali. Boleh ka kami meminta air?”
“Air?
Saya tidak punya air. Tetapi kalau haus, saya biasa makan buah Semangka. Kalian
mau buah semangka? Boleh. Asalkan sesudah itu, kamu mau mencari kutu di kepala
saya”
Inang
mulai mencium sesuatu muslihat. Dia berpikir, kalau saat itu mereka berlari,
pasti akan sangat berbahaya. Maka diapun berkata :
“Baik
Nenek. Tapi, biar saya saja yang mencari kutu. Kalau adik-adik saya ikut
mencari, saya akan menjadi sangat repot. Saya saja”
Sang
Nenekpun menyetujui permintaan sang Kaka. Dia mengeluarkan sebuah semangka dan
memberikan kepada ke 4 kakak beradik itu.
Selesai
makan, Sebelum memulai mencari kutu, Inang meminta ijin pada Nenek itu untuk menghantar
adik-adiknya ke luar dari gubuk dan meminta mereka segera kembali ke Dusun.
Adik-adiknya menangis tak mau berpisah dengannya. Tapi Inang memaksa. Akhirnya
dengan menangis, mereka pergi juga.
Inang
mulai mencari kutu di kepala si Nenek.
Ternyata kutu yang dimaksudkan oleh si nenek adalah berbagai jenis serangga
mengerikan. Inang berusaha sekuat tenaga agar tidak tersengat serangga-serangga
itu. Ket
ika
sibuk mencari kutu, tiba-tiba kuping
sang nenek membesar. Inangpun segera berteriak menyampaikan kepada nenek
tentang kupingnya. Namun si nenek memarahi dia dan menyuruhnya untuk
melanjutkan mencari kutu. Kupingpun mengecil kembali. Tidak berselang lama,
kuping sang nenek kembali membesar dan
seketika itu juga kuping itu menelan Inang.
Susah
payah ia berjuang untuk lepas dari cengkraman kuping sang nenek tetapi
cengkramannya makin kuat hingga ia kelelahan dan pingsan.
Segera
sang nenek memanggil 2 ekor anjingnya yang bernama Rajo dan Rebang. Sambil berteriak Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng ei
naput wi lau, mereka mulai berlari hingga
sampai ke sebuah batu yang sangat besar.
Sang
nenekpun mulai merapal mantara : “Kabea-bea watu ka bea-bea”. Seketika batupun
terbelah dan nampaklah sebuah gua yang sangat besar. Nenek lalu mengeluarkan
Inang dari telinganya dan meletakkannya dalam gua itu. Lalu, I kembali merapal
mantra : “Ka temi-temi watu ka temi-temi”
dan batupun tertutup kembali. Sang nenek lalu kembali ke pondok untuk menyiapkan pesta makan
malam yang istimewa. Dengan kedua ekor anjingnya dia kembali berlari sambil
berteriak : “Go Rajo Rebang, le hadeng wali wali hadeng, ei naput wi reta”
Sepeninggalan
nenek sihir itu, tiba-tiba, dari balik belukar, munculah 3 orang anak. Mereka
adalah adik-adik si Inang.
“
Kaka, bagaimana sudah cranya. Kita harus
kasih keluar kaka Inang?”, Utung mulai menangis lagi.
“He..
Sa tau. Nenek tadi ada baca mantra. Kamu dengar ka tidak?”, Mitang mulai bicara
“Ow
iya. Sa dengar. Ayo kita coba”, kata
Inggi
Maka
mulailah Inggi berkata : Ka bea-bea watu ka bea-bea
Benar
saja. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh dan batu itupun terbelah. Mereka segera
menjenguk ke dalam dan menemukan sang kakak. Membangunkannya lalu cepat-cepat keluar dari batu besar itu.
Sebelum pergi, Inggi kembali berkata:
“Ka
temi-temi watu ka temi-temi.” Dan batupun kembali menutup.
“Tadi
waktu kakak suruh kami pulang, kami tidak pulang, kaka. Kami tunggu di dekat
gubuk, sampai kami lihat nene itu lari dengan 2 ekor anjingnya. Kami terus
ikuti mereka sampai ke batu ini.”, kata Mitang kepada kakaknya.
“Terima
kasih. Kamu sudah selamatkan kakak”
“Kaka
sudah selamatkan kami dengan mengorbankan diri kakak untuk kami. Kami harus
buat sesuatu juga buat kaka”
Lalu
mereka segera berlari, kembali ke dusun mereka. Mereka terus bersama. Saling
menjaga dan saling menyayangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar