Masih ingat peristiwa pengeboman di Surabaya pada tahun 2018? Gereja Santa Maria Tak Bercela adalah salah satu lokasi terjadinya tragedi menyedihkan itu . Kisah-kisah pilu hadir di sana. Salah satunya yang menimpa sebuah keluarga yang hari itu datang dengan sebuah niat untuk beribadah. Keluarga religius itu harus kehilangan dua orang anaknya yang masih kecil. Sungguh kuncup itu layu sebelum mekar.
Saya lalu membuat sebuan catatan hati sebagai sesama ibu kepada sang Ibu yang sedang kehilangan saat itu.
Saya tidak mengenal siapa Ibu Wenny. Namanya baru dikenal luas di media sosial, Facebook, usai bom mengguncang Kota Surabaya di tiga rumah ibadah Kristen, 13 Mei kemarin.
Salah satu rumah ibadah itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela, tempat Ibu Wenny dan dua putranya merayakan Ekaristi setiap Minggu.
Mereka adalah korban kejamnya bom pagi itu. Ibu Wenny dirawat intensif. Sedangkan anaknya, Evan telah mengembuskan napas dan pergi untuk selamanya.
Sebagaimana Ibu Wenny, Nathanael juga berjuang untuk hidup dalam perawatan intensif. Namun Tuhan berencana berbeda, Nathanael pun menutup mata selama-lamanya, menyusuli Evan, sang kakak.
***
Mata banyak orang mungkin lebih tertuju pada dua bocah tak berdosa itu. Pada nurani saya, wajah Ibu Wenny justru hadir lebih menggugah.
Sebagai seorang ibu yang sangat mencintai anak-anak, saya sangat terenyuh, batin bergejolak, rasanya sangat susah menerima kenyataan yang memilukan ini.
Ibu seperti saya, harus rela kehilangan dua buah rahim sekaligus. Bagaimana rasa duka itu kalau saya adalah Ibu Wenny? Apakah sanggup?
Dalam benak ini, saya membayangkan Ibu Wenny yang terluka mendalam. Dia merontak. Dia marah. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia mengutuk pelaku pengeboman.
Namun ahhhh.... ternyata dugaan saya meleset, dan jauh sekali. Serupa Bunda Maria, Ibu Wenny malah menyimpan semua perkara itu di hatinya yang paling dalam.
Maria ketika Putra yang ia kasihi disiksa di depan matanya, menderita disalibkan, dan saat jenazah buah rahimnya itu dbaringkan dalam pelukannya, hanya air mata duka menetes di pipinya, menghiasi wajah pilunya.
"Dia menyimpan semua perkara itu dalam hati keibuannya yang luas bagai samudera."
***
"Saya telah memaafkan mereka yang melakukan kejahatan ini, yang menyebabkan nyawa dua anak saya melayang." Begitu tutur Ibu Wenny.
Bahkan Ibu Wenny juga menguatkan orang-orang di sekitarnya yang menangisi dua bocahnya. Dia tenang, iklaskan mereka pergi selamanya.
***
Ibu Wenny. Dua jagoanmu telah bersama Penciptanya. Mereka berbahagia bersama Kristus yang kita imani, yang telah menyediakan tempat tinggal paling aman bagi kita.
Hatimu, Ibu. Hatimu yang penuh kasih itu dan ketegaranmu itu, menjadi sebuah teladan berharga bagi kami sesamamu Ibu.
Salam dan doa dari saya yang juga seorang Ibu sepertimu, Mama Crespo.
Ende, 18 Mei 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar