Sabtu, 22 Agustus 2020

Apakah yang Harus Kami Lakukan?

Minggu itu berlalu tanpa pagi
Pagi kami telah menjelma menjadi mata air, air mata 
Segala kantuk terusir gelisah
Dada kami bergemuruh saat berita kepergianmu tiba
Dan kami tak tahu apa yang harus kami lakukan

Beribu kenangan muncul silih berganti.
Tidak. 
Ini pasti hanya mimpi
Dengan keras kami menyangkal. 
Malam belum berlalu. Kami harus tidur lagi, karena esok kita akan bertemu dalam rutinitas pelayanan kita. 
Dan Bapa akan berdiri di hadapan kami 
dengan tatapan dan suara yang khas, gagah, berwibawa. 
Namun saat mata kami terbuka, yang kami jumpai hanya semakin banyak kenyataan.
Kau pergi Bapak. 
Pergi meninggalkan kami semua dalam diam yang sepi.
Tanpa kata. 
Hilang dan tak akan pernah kembali lagi. 
Lunglai seluruh raga. 

Sekuat kami berusaha menutup mata agar hari menjadi mimpi, sekuat itupun kenyataan memaksa kami untuk berkata, inilah kebenarannya.  
Dan untuk ketidakberdayaan ini, sungguh kami tak tahu, apa yg harus kami lakukan.

Bulir-bulir duka kami menggenang.
Mengenang cita dan cintamu pada tanah ini. 
Perjuangan dan semangatmu. 
Mimpi dan langkah-langkah hebat yang kau tempuh. 
Lalu tetes dukapun berguguran
Di hati kami, 
Di wajah kami. 
Di langit bumi pancasila. 
Sekali lagi kami tak tahu apa yang harus kami lakukan,  selain bertanya.
Mengapa? 
Mengapa Tuhan Kau ambil Dia. 
Mengapa harus secepat ini?
Mengapa sekarang? Mengapa?

Bapa... 
Takdir Tuhan tak dapat kami lawan.
Sekuat apapun kami memohon. 
Serendah apapun kami tersungkur. 
Sekeras apapun kami berteriak agar Ia sudi mengembalikanmu kepada kami. 
Tak sekalipun Ia bergeming. 
KehendakNYA lebih besar dari apa yang kami inginkan.
Sekali lagi kami bertanya, apalagi yang harus kami lakukan????

Bapa.....Tuhan mencintaimu dengan cara yang tak dapat kami pahami.
Ia memilihmu dengan cara yang juga tak kami mengerti.
Namun janjiNya tak berubah. 
Keselamatan dalam kedamaian abadilah dermaga akhir itu. 

Sungguh, Kami  harus menerima kenyataan ini agar kami ingat, apa yang harus kami lakukan untuk membalas cinta yang telah Bapak buktikan kepada Kami.

Garuda akan terus melangit dari Ende untuk Indonesia, Demikian kami akan meneruskan nafas perjuangan yang Bapa gaungkan hingga akhir hayat. 
Menyatu dalam perbedaan tanpa menghilangkannya.
Tanah leluhur akan selalu kami jaga dan rawat. 

EMA Kami, Bapa Marsel Petu
Selamat jalan. 
Beristirahatlah dalam damai.
Sampai berjumpa di keabadian.

Ev Sare
28/05/2019
*Puisi ini Saya buat untuk dibacakan saat pemakaman atas permintaan Ipar saya Dessy Natalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah Jangan menyerah walau dunia kadang tak adil Menuntutmu berjuang tanpa henti serentak mencercamu dengan kejam Jan...