DIA memilihmu tanpa kompromi.
DIA memilihmu tanpa bertanya, apakah Dikau sanggup
DIA memilihmu, Bapak, untuk memimpin Kab. Ende
DIApun memilihmu, Bapak, untuk sebuah tugas yang lain.
Bukan. Bukan di sini.
Di sebuah tempat yang lain
Tempat yang ke sana pula kami akan pergi.
PilihanNya menngharuskan Bapak pergi.
Pintunya hanya satu : Kematian.
Dan untuk tanpa kompromi dan bertanya itu, kami harus mengatakan dalam linangan air mata penuh keyakinan, Bapak pasti damai dalam tugas di keabadian.
Selamat jalan, Pak Bupati kami.
Pengabdianmu hingga akhir hayat menyisakan kenangan dan kebanggan.
*Puisi ini saya buat di hari kematian Beliau. Puisi ini dipakai dalam siaran di RRI selama masa perkabungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar